RADAR KUDUS - Teknologi berkembang pesat dan mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk cara anak-anak bermain.
Generasi paling muda saat ini, yaitu Gen Alpha, tumbuh dalam dunia serba digital—jauh berbeda dari generasi sebelumnya.
Di tengah dominasi gadget dan internet, permainan tradisional semakin jarang dimainkan. Pertanyaannya: akankah permainan tradisional benar-benar hilang?
Baca Juga: Cashless Society: Pengertian, Perkembangan, Kelebihan, Kekurangan, dan Tantangannya di Indonesia
Permainan tradisional seperti congklak, petak umpet, atau kelereng dulunya bukan sekadar hiburan.
Permainan itu mengandung nilai budaya, strategi, sportivitas, serta kemampuan sosial.
Pada era Gen Z, permainan tersebut menjadi bagian dari tumbuh kembang anak: mereka berinteraksi langsung, berlari, berhitung, dan membangun kerja sama.
Namun, kondisi berbeda dialami Gen Alpha yang lahir setelah tahun 2010. Mereka lebih akrab dengan layar sentuh ketimbang tanah lapang.
Game online, aplikasi interaktif, hingga video edukatif di YouTube dan TikTok menjadi bagian rutinitas harian. Gadget bukan lagi benda tambahan—melainkan kebutuhan.
Baca Juga: Game Online Mau Dibatasi? Pelajar Minta Pemerintah Jangan Batasi Game Sembarangan
Game online seperti PUBG Mobile, Free Fire, dan Mobile Legends, Roblox menjadi favorit, terutama karena dapat dimainkan bersama orang lain secara daring.
Media sosial juga berperan besar dalam membentuk pola bermain dan perilaku digital mereka.
Baca Juga: Rungkad Gegara Candu Game Online
Perubahan ini membawa dampak positif dan negatif. Di satu sisi, anak-anak berkembang dengan kemampuan digital yang kuat, daya analisis meningkat, serta akses informasi yang luas.
Namun, berkurangnya aktivitas fisik dapat memicu masalah kesehatan, interaksi sosial secara langsung berkurang, dan kecanduan layar mulai menjadi isu yang serius.
Risiko paparan konten tidak sesuai usia juga menjadi kekhawatiran.
Meski permainan digital mendominasi, upaya pelestarian budaya tetap dilakukan.
Beberapa sekolah mulai memasukkan permainan tradisional ke dalam kurikulum olahraga.
Festival budaya dan kegiatan komunitas juga menjadi cara memperkenalkan kembali permainan lama kepada generasi baru.
Peran keluarga pun tidak kalah penting—orang tua perlu menjadi jembatan agar warisan budaya ini tetap hidup.
Perubahan tren bermain memang tidak bisa dihentikan. Namun, menjaga keseimbangan antara permainan digital dan tradisional adalah langkah terbaik.
Dengan begitu, anak-anak dapat tetap terkoneksi dengan budaya warisan bangsa sambil berkembang dalam dunia modern.(laura)
Editor : Ali Mustofa