RADAR KUDUS - Setiap manusia mendambakan kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Mereka mewujudkannya melalui beragam cara. Sukses biasanya dikaitkan dengan materi yang melimpah, tingkat pendidikan yang tinggi, fisik yang bagus, penghargaan dari orang lain, dan sebagainya.
Untuk menggapai kesuksesan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia memerlukan usaha maksimal, fokus, kompeten, memiliki tekad pantang menyerah untuk mewujudkannya. Serta harus mampu menghadapi berbagai rintangan dan juga proses yang tidak mudah dan tidak sebentar.
Kesuksesan bukanlah hal yang terjadi begitu saja, melainkan direncanakan, memiliki pola. Jadi hidup itu memilih bukan pilihan. Banyak orang sukses mengaku bahwa kunci utama meraih keberhasilan terletak pada cara mereka berpikir yang tepat dan konsisten. Pola pikir atau mindset, ini mampu mengubah tantangan dan kegagalan menjadi batu loncatan menuju kesuksesan yang lebih besar.
Meski begitu definisi sukses bersifat subjektif dan personal. Artinya bagi setiap orang bisa berbeda-beda, juga tergantung dengan siapa kita berbicara dan bagaimana konteksnya. Sehingga penting untuk menghormati pilihan dan jalan hidup masing-masing individu, karena setiap orang memiliki hak untuk mengejar tujuan hidupnya. Manusia yang tidak tahu makna kesuksesan mustahil bisa meraih kesuksesan. Itulah sebabnya sukses bukan masalah keberuntungan tapi sebuah algoritma.
Sama halnya dengan bahagia juga bersifat subjektif. Selain tidak bisa dikejar, definisi kebahagiaan juga tidak bisa diukur. Kebahagiaan lebih berhubungan dengan kepuasan batin, damai, kesejahteraan emosional dan bersemangat dalam hidup. Sehingga tidak mungkin dibanding-bandingkan, baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Sebab setiap orang juga memiliki definisi kebahagiaan yang berbeda-beda.
Kebahagiaan juga bukan hidup tanpa masalah, karena hidup ini adalah aliran masalah setiap hari. Dan, bahagia pun bukanlah datangnya cinta dari semua orang, sebab hal itu adalah sesuatu yang tidak mungkin dikarenakan adanya perbedaan kepentingan.
Banyak sekali orang yang tidak merasakan kebahagiaan dalam hidupnya di saat bergelimpangan harta. Dan tidak sedikit pula orang merasa bahagia justru ketika dia tidak punya uang, tetapi bisa ‘berdamai’ dengan masalahnya.
Karena itu penting untuk memahami bahwa sukses dan bahagia saling terkait dalam kehidupan ini. Keduanya tidak berjalan sendiri-sendiri. Kesuksesan tanpa kebahagiaan bisa menjadi hampa dan tidak bermakna.
Sementara kebahagiaan tanpa kesuksesan bisa menjadi kurang memuaskan dalam jangka panjang. Singkat kata, tidak akan sukses jika tak bahagia, dan tidak bahagia jika tak sukses.
Salah satu cara supaya lebih mudah dalam menggapai kesuksesan dan kebahagiaan dalam kehidupan ini perlu sikap CERDAS. Kata “Cerdas” merujuk pada kemampuan intelektual seseorang, tetapi lebih menekankan pada kemampuan belajar, memahami, dan menyelesaikan masalah.
Cerdas juga merupakan salah satu sifat baik yang ada pada diri Nabi Muhammad SAW, yaitu “fathonah”, disamping Shidiq (orang yang jujur), amanah (dapat dipercaya), dan tablig (orang yang menyampaikan). Bahkan dalam melakukan aktivitas pun kita tidak hanya dituntut untuk bekerja keras melainkan juga harus cerdas, tuntas, dan ikhlas.
Namun CERDAS disini adalah sebuah metode atau strategi efektif yang bisa memandu seseorang untuk mencapai tujuan. CERDAS adalah proses enam langkah untuk menemukan apa yang mendorong anda dan menggunakannya untuk sukses dan bahagia dalam menjalani kehidupan.
Istilah CERDAS mengacu pada akronim (singkatan) Cerdik, Enerjik, Rajin, Disiplin, Aktif, dan Syukur. Lantas, bagaimana penerapan CERDAS dalam menggapai hidup sukses dan bahagia? Simak penjelasannya.
1. Cerdik
“Cerdik” merujuk pada kecerdasan yang lebih spesifik, yaitu kemampuan untuk memahami dan menilai situasi dengan cepat dan tepat. Orang yang cerdik biasanya cekatan dalam mengambil keputusan, dan cepat memecahkan masalah dalam situasi yang kompleks. Singkatnya, mampu melihat peluang yang sesuai dengan kemampuannya.
Untuk mencapai kesuksesan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menetapkan tujuan. Yaitu memiliki visi dan misi yang jelas, terencana, terukur, dan terstruktur. Tujuan yang jelas akan memberikan arah dan makna dalam setiap tindakan, serta membuat lebih fokus dan termotivasi.
Setelah menetapkan tujuan utama, selanjutnya membuat rencana tindakan yang terstruktur dan matang. Yaitu merencanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapainya. Dengan membuat perencanaan berarti kita sudah setengah jalan menuju sukses.
Rencana ini akan menjadi kompas yang memandu Anda dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Dengan memiliki rencana yang terstruktur, Anda akan memiliki panduan yang jelas tentang langkah-langkah yang harus diambil. Penting untuk memastikan bahwa rencana tindakan yang Anda buat mencakup langkah-langkah konkret yang relevan, dapat diukur, dan realistis.
Segala sesuatu yang dilakukan dengan penuh rencana yang matang akan mengurangi risiko kegagalan, sehingga tingkat keberhasilan semakin tinggi. Kita pastinya akan senang ketika berhasil mencapai target dari suatu hal yang sudah direncanakan.
Misalnya, beberapa pertanyaan bagi manusia dalam memahami tujuannya di dunia ini, yaitu: Ingin menjadi apa diri kita ini? Apa arti hidup itu? Untuk apa kita hidup? Mengapa kita hidup? Bagaimana cara mengisi hidup? Dan bagaimana pula mempertanggungjawabkan hidup ini untuk kehidupan setelahnya?
Di dalam islam, visi dan misi manusia termaktub di dalam Alquran surah al-Qashash ayat 77:
Artinya: “Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Ayat tersebut menjelaskan, pertama, menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir dari kehidupan (negeri yang abadi. Yaitu tempat yang sesungguhnya untuk mendapatkan balasan yang adil terhadap perbuatan yang dilakukan di dunia.
Kedua, tidak melupakan kehidupan dunia sebagai sarana mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Ini menunjukkan manusia harus berprestasi di dunia ini. Sebab kehidupan dunia merupakan sarana untuk mengejawantahkan fungsi manusia sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi.
Ketiga, berbuat baik dalam semua bidang kehidupan secara maksimal, dan menjadi manusia yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain dan lingkungannya.
Bahkan Rasulullah SAW menyatakan sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Keempat, dalam melakukan ketiga perilaku di atas, manusia dilarang membuat kerusakan, baik kerusakan yang bersifat fisik, maupun yang bersifat sosial dan spiritual. Perbuatan merusak apapun bentuknya sangat dibenci dan dimurkai Allah SWT.
2. Enerjik
Salah satu kunci sukses untuk mencapai keberhasilan dalam menjalani hidup adalah memiliki semangat. Adanya kegigihan, kemauan, tekad, dan niat akan membuat Anda kuat dalam menghadapi berbagai masalah dan tidak mudah menyerah. Niat sama artinya dengan motivasi yang kuat. Tanpa niat kita tidak akan pernah berhasil dalam beramal.
Bagaimanapun kesuksesan yang diraih pasti beriringan dengan sederet masalah. Kegigihan diperlukan dalam mengembangkan usaha, bekerja lebih keras, dan berpikir kreatif. Selain menjaga motivasi, juga wajib mengenali dan mengatasi berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam perjalanan mencapai tujuan.
Semangat pantang menyerah di dalam Islam adalah sikap optimistis, terus berusaha, dan berdoa, serta percaya bahwa Allah adalah penolong.
Dalam Al-Qur'an surat Yusuf ayat 87, Allah SWT berfirman, artinya: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”
Sebagaimana kita ketahui, hidup di dunia ini sebuah perjalanan atau pengembaraan menuju akhirat. Maka dari itu dalam menjalani hidup butuh bekal, sarana atau kendaraan yang perlu dinaiki, juga perlunya sebuah pedoman atau petunjuk yang akan membimbingnya untuk sampai pada tujuan.
Pertama adalah bekal. Tidak diragukan bahwa hidup di dunia ini memerlukan bekal berupa makanan, pakaian, tempat tinggal dan lainnya. Namun, sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. Kenapa ketakwaan begitu penting? Karena dengan takwa manusia mengetahui hakekat dan tujuan hidupnya.
Ketakwaanlah yang akan mendorong manusia untuk melakukan kebaikan dan mencegah dirinya dari keburukan. Tanpa ketakwaan manusia akan mudah terjerumus pada hal-hal yang dapat membinasakan, baik di dunia maupun diakhirat.
Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 197. Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”
Setelah memiliki bekal cukup, maka dibutuhkan sarana atau kendaraan sebagai langkah menuju kesuksesan. Tidak dipungkiri bahwa kepandaian, kekayaan, gelar, kedudukan atau yang lainnya penting untuk dijadikan “sarana” menuju kesuksesan. Tetapi ada yang tidak kalah penting adalah motivasi atau ambisi. Seseorang harus memiliki motivasi atau ambisi yang tinggi untuk mencapai kesuksesan hidup.
Dengan adanya ambisi tinggi akan menggerakkan badannya dengan amal yang nyata untuk menempuh jalan-jalan kesuksesan. Berapa banyak orang yang tingkat kepandaian dan keadaannya pas-pasan tetapi karena memiliki motivasi yang membara akhirnya dia sukses.
Ambisi atau motivasilah yang menggerakkan manusia dalam kehidupan ini. Ibaratnya ia adalah kendaraan yang akan menghantarkan manusia pada apa yang dituju. Jika ambisi dan motivasi kehidupan seseorang sudah benar, maka ia akan selalu tergerak dalam kebaikan dan kebenaran sampai penghujung kehidupannya. Begitu pula sebaliknya.
Setelah bekal dan sarana, hal selanjutnya yang diperlukan adalah petunjuk atau pedoman yang akan membimbing kita sampai pada tujuan.
Percuma saja kita memiliki bekal yang cukup dan kendaraan yang bagus tetapi tidak tahu kemana arah yang akan dituju. Tanpa pedoman arah kita akan mengalami kebingungan, terombang-ambing di jalan dan kemungkinan besar tersesat.
Ibarat kita mau pergi untuk makan tetapi tidak memiliki tujuan, mau makan apa dan di mana? Maka kita hanya mengendarai mobil atau motor dan berputar-putar menghabiskan waktu, tenaga, bahan bakar, akhirnya tidak jadi makan. Lalu, apa pedoman yang kita butuhkan? Ia adalah “ilmu”.
Kita butuh ilmu yang akan membimbing kita di dunia ini dan mengantarkan ke akhirat. Orang yang berilmu memiliki arah yang jelas dalam menjalani hidupnya. Sebaliknya, orang yang tidak berilmu akan kehilangan arah dan terseret kemana arus kehidupan mengalir.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 9. Artinya: “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”
3.Rajin
Orang sukses pasti memiliki semangat belajar yang tinggi dan berusaha untuk mengembangkan diri. Mereka tidak pernah merasa puas dengan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dimiliki, melainkan terus mencari cara untuk meningkatkan kompetensinya. Mereka aktif mencari peluang belajar, bisa melalui pendidikan formal, membaca buku, mengikuti pelatihan, atau berdiskusi dengan orang yang kompeten.
Guna meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup, perlunya mengembangkan kemampuan dan keahlian yang kita miliki. Kemampuan dan keahlian yang baik sangat penting dalam mencapai tujuan hidup, memberikan kepuasan pribadi, serta meningkatkan kepercayaan diri kita secara keseluruhan. Dalam meningkatkan kemampuan dan keahlian, kita dapat melakukan beberapa langkah.
Pertama, kita perlu memiliki niat yang kuat untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Tanpa kesungguhan niat, kita akan merasa malas atau tidak termotivasi untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian. Rasa malas merupakan keengganan seseorang melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan.
Seorang yang malas bekerja, motivasinya terhadap pekerjaan sangat rendah. Sikapnya cenderung negatif akibat persepsi yang diberikannya terhadap pekerjaan itu kurang baik. Hal ini dikarenakan sistem nilai yang ada dalam dirinya membuat dia berperilaku malas melakukan pekerjaan itu. Sementara terhadap pekerjaan lainnya mungkin tidak demikian.
Ternyata, perilaku malas merupakan hasil suatu bentukan. Artinya, perilaku itu bisa dibentuk kembali menjadi rajin. Pembentukan kembali perilaku tadi sangat dipengaruhi lingkungan sekitarnya, bisa orang tua, teman pergaulan, atau orang lain.
Untuk menggapai kesuksesan dalam kehidupan, sangat penting untuk mengembangkan keterampilan yang diperlukan. Keterampilan yang baik tidak hanya membantu meraih tujuan yang telah ditetapkan, tetapi juga memberikan keunggulan kompetitif dalam dunia yang terus berkembang. Penting bagi kita untuk mengidentifikasi keterampilan yang diperlukan untuk mencapai tujuan kita.
Misalnya, jika kita bermimpi menjadi seorang pemimpin yang sukses, maka keterampilan kepemimpinan dan komunikasi yang kuat menjadi sangat penting. Jika kita ingin menjadi seorang profesional di bidang teknologi, maka keterampilan pemrograman dan pemecahan masalah menjadi keterampilan yang wajib dimiliki. Setelah mengidentifikasi keterampilan yang diperlukan, langkah selanjutnya adalah mencari cara untuk mengembangkannya.
4. Disiplin
Disiplin dan konsistensi adalah dua pilar utama dalam pembentukan mentalitas orang sukses. Dua aspek ini bekerja selayaknya fondasi yang kuat bagi seseorang untuk terus berkembang dan maju. Disiplin adalah tentang mengendalikan diri untuk melakukan apa yang perlu dilakukan, meski di saat yang sama mungkin tidak ingin melakukannya.
Sementara konsistensi, adalah tentang kemampuan untuk melakukan tindakan tersebut secara teratur dan berulang-ulang. Konsistensi membantu membangun kebiasaan dan memperkuat kesungguhan terhadap tujuan yang telah ditetapkan.
Sebenarnya, banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa kesuksesan dan kegagalan pasti memiliki pola. Ibarat sebuah rel kereta api, kesuksesan dan kegagalan memiliki relnya masing-masing dan rel tersebut tidak berubah.
Untuk menjadi sukses kita hanya perlu mempelajari bagaimana pola sukses itu sendiri. Dengan terus membangun pola sukses, maka rel kesuksesan akan semakin kuat dan semakin panjang. Sehingga, jika suatu hari kita keluar dari rel, maka kita akan kembali ke rel semula.
Orang yang sukses pasti memiliki polanya dan begitu pula dengan orang yang selalu gagal. Salah satu pola yang dimiliki oleh orang sukses yaitu disiplin. Orang yang sukses selalu menghargai waktu dengan tidak menyia-nyiakan untuk melakukan sesuatu yang tidak produktif.
Orang sukses memahami bahwa waktu tidak bisa diputar kembali, sehingga mereka benar-benar memanfaatkan waktu yang ada. Namun berbeda dengan orang yang seringkali gagal, mereka akan cenderung melihat waktu dengan sebelah mata.
Salah satunya seperti memiliki kebiasaan menunda. Menunda hanya akan menumpuk pekerjaan sehingga hanya membuat penundaan di waktu berikutnya. Ketidakdisiplinan membuat kita kehilangan waktu, dicap sebagai orang yang tidak disiplin/pemalas, dan tentu akan mempengaruhi aktivitas selanjutnya.
Sikap disiplin adalah salah satu nilai yang ditanamkan bahkan diwajibkan dalam agama Islam. Disiplin menjadi sifat orang yang bertakwa. Disiplin diartikan sebagai tindakan menaati dan patuh terhadap nilai-nilai/peraturan yang berlaku dan disepakati.
Sedangkan melakukan sesuatu dengan tepat waktu adalah bagian disiplin. Orang sukses pasti memiliki kebiasaan untuk mematuhi jadwal dan komitmen yang telah ditetapkan. Mereka juga pantang menyerah meskipun menghadapi tantangan.
Islam juga memerintahkan umatnya untuk selalu konsisten terhadap peraturan Allah SAW yang telah ditetapkan. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al-Jumu'ah ayat 9-10.
Artinya: "Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."
Ayat ini menjelaskan, jika kita disiplin terutama dalam hal ibadah, maka Allah SWT akan memudahkan jalan kita dalam mencari rezeki. Jadi tidak perlu takut untuk kehilangan rezeki saat sholat, karena Allah SWT akan memberikan jalan rezeki yang jauh lebih baik bagi mereka yang sholat tepat waktu.
Di ayat lain, Allah SWT juga berfirman dalam surat An-Nisa ayat 59. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisa’: 59).
Ayat ini menunjukkan bahwa disiplin bukan hanya soal ketepatan waktu, juga juga harus mematuhi peraturan. Melaksanakan yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan yang dilarang-Nya.
Bahkan Rasulullah SAW bersabda. Dari Aisyah, Beliau mengatakan bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah SWT. Rasulullah SAW menjawab: “Amal (kebaikan) yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit.” (HR Muslim).
Guna mencapai disiplin dalam kehidupan sehari-hari, diperlukan niat yang kuat. Dalam budaya kita, niat dianggap sebagai langkah awal yang paling penting untuk mencapai sukses. Niat yang kuat berarti memiliki kesadaran dan keinginan yang tulus untuk melakukannya dengan baik.
Niat dalam konteks disiplin berarti memiliki keinginan yang sungguh-sungguh untuk mentaati peraturan, membagi waktu dengan baik, dan memprioritaskan tugas-tugas yang perlu dikerjakan. Ketika seseorang memiliki niat yang kuat, ia akan dengan mudah memotivasi diri sendiri untuk melakukan tugas-tugas yang seharusnya dilakukan.
Ada beberapa contoh sikap disiplin yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu: Salat tepat waktu; menulis jurnal, pola hidup sehat (menjaga pola makan yang baik, istirahat yang cukup, dan rutin berolahraga), memanfaatkan waktu untuk belajar; menjaga kebersihan dan kesehatan diri secara tepat; membuang sampah pada tempatnya; berperilaku sopan santun; menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan; menaati peraturan yang berlaku di masyarakat; menghormati hak orang lain; menjaga kerukunan; dan sebagainya.
5. Aktif
Aktif lawan katanya adalah pasif. Kesuksesan ada kaitannya dengan sikap proaktif. Maka, jangan hanya menunggu kesempatan datang, melainkan carilah cara untuk mengembangkan diri Anda, serta bertindaklah sekarang tanpa menunda-nunda.
Manusia efektif ialah manusia yang proaktif. Artinya harus mempunyai kebiasaan mengambil inisiatif sendiri tanpa menunggu perintah. Tentu saja proaktif dalam konteks yang positif, misalnya harus mampu belajar mandiri, mencari sumber belajar sendiri, atau proaktif dalam mengembangkan kompetensi masing-masing.
Itulah sebabnya ada perbedaan mendasar antara orang sukses dan gagal, selain kebiasaan yang dibentuk, juga sangat bergantung pada pola pikir. Dengan pola pikir, dapat terlihat bagaimana kita merespon suatu peristiwa.
Misalnya seperti dalam menghadapi suatu permasalahan. Seseorang yang memiliki pola pikir sukses tentunya akan merespon sebuah permasalahan sebagai tantangan. Mereka percaya bahwa dalam setiap aspek kehidupan selalu ada permasalahan yang muncul, namun mereka memilih untuk tidak berfokus pada masalah namun pada solusi.
Mereka melihat hambatan sebagai peluang untuk belajar, bukan sebagai penghalang yang tak dapat diatasi. Mereka memahami kegagalan bagian dari proses keberhasilan.
Alih-alih meratapi kegagalan, mereka justru memilih mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut. Sikap ini memungkinkan mereka untuk terus maju dan tidak terhenti oleh rasa takut akan kegagalan.
Tapi berbeda dengan pola pikir orang gagal. Saat mereka mengalami suatu permasalahan maka mereka akan menganggapnya sebagai penghalang untuk mencapai sesuatu.
Mereka hanya akan berkutat pada permasalahan dan cenderung menyalahkan orang lain, namun sayangnya tidak mencari pemecahan masalahnya. Sehingga tak tak jarang, permasalahan akan terus bertambah karena permasalahan yang sebelumnya seringkali tidak terselesaikan.
Karena itu, Agama Islam memotivasi setiap orang untuk menjadi manusia efektif. Islam menyerukan kepada pemeluknya untuk hijrah dari sikap reaktif ke proaktif, yang ditandai dengan pendisiplinan diri, khususnya menghargai waktu. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah al-'Ashr ayat 1-3.
Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr: 1-3).
Kriteria orang proaktif adalah tidak suka melempar tanggung jawab kepada orang lain, tetapi ia dengan sadar memikul tanggung jawab lebih dominan ketimbang orang lain. Bahkan ia tidak pernah menyalahkan orang lain, keadaan, kondisi, lingkungan, dan pihak-pihak lain. Juga mau mengakui kelemahan dirinya sendiri sekaligus mau mengakui kelebihan orang lain.
Dalam tindakannya, ia membuka peluang pendapat orang lain untuk menyempurnakan kelemahannya. Pada saat yang sama ia juga bersedia berbagi dengan orang lain untuk menyelesaikan setiap persoalan yang sedang dihadapi.
6. Syukur
Kata "syukur" dalam bahasa arab berarti membuka dan menampakkan, dan lawan katanya adalah "kufur" yang bermakna menutup dan menyembunyikan. Ini artinya hakikat syukur adalah menampakkan nikmat dengan cara menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang dikehendakinya oleh pemberinya, juga dengan cara menyebut-nyebut pemberinya dengan baik.
Rasa syukur adalah perasaan terima kasih dan penghargaan atas segala nikmat dan kebaikan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Dalam hidup ini, kenapa kita perlu syukur. Sebab orang yang pandai bersyukur akan merasakan kedamaian, kebahagian, mendatangkan jiwa dan kesuksesan yang sesungguhnya.
Allah SWT berfirman dalam surat Luqmanayat 12. Artinya: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
Orang bersyukur adalah orang yang tahu berterima kasih kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan kepadanya. Itu berarti segala sesuatu yang dimilikinya berasal dari Sang Pencipta.
Rasa syukur dapat meningkatkan kepuasan hidup, kesejahteraan subjektif, optimisme, harapan, kebahagiaan, dan kepercayaan diri. Rasa syukur juga dapat menurunkan stres, depresi, kecemasan, dan emosi negatif lainnya. Rasa syukur juga dapat memperkuat hubungan sosial, kerjasama, dan dukungan antara sesama.
Sebagai umat muslim penting kiranya untuk terus mengembangkan rasa syukur, jika ingin hidup lebih bahagia dan selalu sabar yang menjadi kunci kesuksesan. Bahkan derajat Syukur lebih tinggi dari takwa. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 123. Artinya: “Maka bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya”.
Maksudnya, manusia diperintahkan untuk bertakwa agar memperoleh derajat orang-orang yang bersyukur. Takwa adalah kesadaran dan ketaatan kepada Allah SWT.
Sementara syukur adalah sikap bersyukur atas nikmat-nikmat Allah SWT. Namun begitu sangat sedikit hamba Allah yang memperoleh derajat syakur.
Allah SWT berfirman dalam surat Saba ayat 13: Artinya: “Dan sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang syakur (mau berterimakasih)”
Oleh karena begitu pentingnya syukur bagi kehidupan, maka manusia harus berusaha semaksimal mungkin agar bisa menjadi orang yang bersyukur, meskipun kita tahu bahwa untuk menjadi orang yang bersyukur (syakur) bukan hal yang mudah, sebab harus melalui beberapa tingkatan.
Di dalam agama Islam ada beberapa jenis orang dengan kriteria tingkatan iman. Urutannya adalah muslim, mukmin, muhsin, mukhlis, muttaqin, kemudian syakur.
Pertama, sebagai seorang muslim, manusia cukup hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, walaupun belum sepenuhnya melaksanakan kewajiban shalat, puasa, zakat dan haji, sudah bisa dikategorikan sebagai seorang muslim.
Kedua, sebagai seorang mukmin, yaitu orang yang telah beriman dan telah melaksanakan rukun islam seperti shalat, puasa, zakat dan haji sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan, akan tetapi masih saja melakukan perbuatan dosa dan maksiat.
Ketiga, sebagai seorang muhsin, yaitu seorang mukmin yang selalu merasa diawasi oleh Allah Swt., sehingga takut untuk berbuat maksiat kepada Allah Swt, namun dalam beribadah masih menginginkan pahala dari Allah Swt.
Keempat, sebagai mukhlis, yaitu seorang muhsin yang ikhlas, yang tidak mengharapkan apa-apa, tetapi tidak kreatif untuk berbuat sesuatu agar diridhai Allah Swt.
Kelima, sebagai muttaqin yaitu orang yang mengabdi kepada Allah dan berjuang di jalanNya, semata-mata hanya untuk mendapatkan ridha dari Allah SWT.
Keenam, sebagai Syakur, menjadi menjadi manusia yang bersyukur. Artinya perasaaan dan kesadaran untuk mensyukuri nikmat Allah telah mendarah daging (baik bersyukur terhadap cobaan dari Allah) telah menjadi kepribadian seorang hamba, maka mereka akan memeroleh derajat tertinggi yakni syakur.
Selama Anda tidak memahami bahwa segala sesuatu itu dari Allah SWT dan kembali pada Allah SWT, Anda akan sulit bertawakkal. Maka Anda pun sulit sabar lalu sulit bersyukur.
Kita perlu merenungkan urutan ini: Siapa yang tak kenal rahasia (segala sesuatu datang dan kembali kepada Allah SWT), maka ia tak bisa tawakkal. Siapa yang tak bertawakal, maka tak bisa sabar. Dan siapa yang tak sabar, maka sulit bersyukur. Kemudian, siapa yang tak bersyukur sulit Ridho. Dan siapa tak punya Ridho sulit husnudzon kepada Allah SWT. (top)
Editor : Ali Mustofa