Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Permintaan Telur Meledak, Harga Naik Serempak di Banyak Daerah, Akibat MBG?

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 26 November 2025 | 00:53 WIB

 

Pedagang merapihkan telur ayam di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, Rabu (30/11/2022). Menjelang hari Natal dan Tahun baru 2023 sejumlah kebutuhan pokok mulai merangkak naik, menurut pedagang harga telur ayam naik dari Rp. 28.000 menjadi Rp. 31.000 - 35.0
Pedagang merapihkan telur ayam di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, Rabu (30/11/2022). Menjelang hari Natal dan Tahun baru 2023 sejumlah kebutuhan pokok mulai merangkak naik, menurut pedagang harga telur ayam naik dari Rp. 28.000 menjadi Rp. 31.000 - 35.0

RADAR KUDUS - Gelombang kenaikan harga kebutuhan pokok kembali menghantam masyarakat.

Kali ini, telur ayam ras menjadi sorotan utama, setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi terjadinya kenaikan signifikan pada pekan ketiga November 2025.

Kenaikan ini tidak hanya terjadi secara sporadis, melainkan merata di sejumlah wilayah yang permintaan telurnya meningkat tajam.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan bahwa lonjakan harga ini bukan sekadar fluktuasi musiman.

Ada fenomena baru yang memicu kenaikan permintaan telur secara mencolok: bertambahnya layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah, terutama wilayah dengan fokus percepatan program pemenuhan kebutuhan gizi nasional.

Amalia memaparkan, kebutuhan telur yang meningkat drastis membuat pasokan tak lagi mampu mengikuti kecepatan permintaan. Dampaknya, harga melambung lebih tinggi dari Harga Acuan Penjualan (HAP).

Baca Juga: Aparat Gulung 40 Ton Beras Ilegal Masuk di Batam, Dalang Masih Buron

Harga Nasional Tembus Di Atas HAP

Dalam paparannya pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2025, Amalia menjelaskan bahwa harga telur ayam ras kini berada di angka rata-rata Rp31.667 per kilogram, menembus batas HAP yang ditetapkan sebesar Rp30.000 per kilogram.

“Telur ayam ras naik 0,38 persen dibandingkan Oktober 2025. Pemicunya jelas: kebutuhan meningkat, sementara distribusi tidak merata,” ungkapnya.

Kenaikan ini kian terasa di tengah percepatan Program MBG (Makan Bergizi), sebuah agenda pemerintah yang mendorong konsumsi telur sebagai sumber protein utama. Kebijakan ini, meski positif untuk gizi masyarakat, membawa efek domino pada lonjakan permintaan.

Daerah Timur Indonesia Jadi Episentrum Kenaikan Harga

Yang cukup mencengangkan adalah ketimpangan harga antar daerah. Di beberapa wilayah, terutama di kawasan timur Indonesia, harga telur melejit hingga level yang membuat masyarakat menjerit.

Beberapa daerah bahkan mencatat harga fantastis:

Kondisi ini menegaskan satu hal: ketidakmerataan distribusi pangan masih menjadi persoalan besar di Indonesia, terutama untuk komoditas yang cepat rusak seperti telur.

Baca Juga: RESMI DIBUKA! Magang Nasional Batch 3 2025, Siapa Cepat Dia Dapat!

Peternak Diuntungkan, Konsumen Menahan Napas

Meski kenaikan harga ini menekan kantong konsumen, tak dapat dipungkiri bahwa situasi ini membuka peluang ekonomi bagi pekerja sektor peternakan. Dengan tingginya kebutuhan telur di berbagai daerah, ruang ekspansi produksi semakin terbuka.

Namun, masalah baru muncul: sebagian peternak justru terkendala pakan yang juga mengalami kenaikan harga, sehingga keuntungan yang tampak besar tidak selalu berbanding lurus dengan tingginya biaya operasional.

Kondisi ini menempatkan pemerintah pada dilema: menjaga stabilitas harga tanpa mematikan insentif bagi produsen.

Telur Masuk Tiga Besar Komoditas Paling Sering Naik

Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, menegaskan bahwa telur ayam ras menjadi salah satu komoditas dengan jumlah daerah terdampak kenaikan terbesar. Telur bersanding dengan bawang merah dan cabai merah sebagai komoditas yang paling sering mengalami kenaikan harga sepanjang pekan ketiga November.

Meski demikian, jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga menurun dari 157 menjadi 151 wilayah. Namun, angka tersebut tetap menunjukkan bahwa stabilisasi harga telur belum sepenuhnya tercapai.

“Meski mengalami penurunan jumlah daerah, telur masih tetap komoditas paling sensitif dan memicu inflasi di banyak wilayah,” ujar Akhmad.

Baca Juga: 25 November: Ada Apa di Tanggal Ini?

Inflasi Rentan Naik Jika Tak Ada Intervensi

Kondisi kenaikan harga telur yang berlangsung serempak ini berpotensi menjadi pemicu inflasi pangan.

Jika tidak ada intervensi segera, harga kebutuhan pokok bisa merembet ke komoditas lain yang saling berkaitan.

Kenaikan permintaan telur sebagai bagian dari program pemenuhan gizi juga perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas peternak, efisiensi distribusi, dan subsidi logistik, terutama untuk daerah-daerah terpencil.

Kritik pun mengalir dari sejumlah analis ekonomi: program gizi harus dibarengi kesiapan rantai pasok agar tidak menimbulkan efek samping harga yang membebani masyarakat.

Tekanan Terbesar Ada di Masyarakat Berpendapatan Rendah

Bagi kelompok berpendapatan rendah, kenaikan telur bukan sekadar angka statistik. Telur adalah sumber protein harian paling terjangkau. Jika harganya terus naik, kebutuhan gizi keluarga berisiko terganggu.

Kebijakan distribusi, ketersediaan stok, dan koordinasi antarinstansi kini diuji. Pemerintah diminta segera merespons sebelum gelombang kenaikan serupa terjadi pada komoditas pokok lainnya.

Editor : Mahendra Aditya
#harga telur naik #Mbg #telur #telur ayam ras