RADAR KUDUS – Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali manusia sibuk mencari kesalahan orang lain, namun lupa menelusuri kekurangan dalam dirinya sendiri.
Gambaran ini ibarat seorang tukang bekam yang rajin mengeluarkan penyakit dari tubuh orang lain, tetapi membiarkan penyakit di tubuhnya sendiri tetap bersarang.
Fenomena tersebut nyata terjadi di tengah masyarakat: keburukan orang lain mudah terlihat, sementara keburukan diri sendiri justru terabaikan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pengetahuan lahiriah boleh jadi semakin bertambah, tetapi kedewasaan batin belum tentu ikut berkembang.
Bahkan, tidak sedikit yang semakin tinggi ilmunya justru semakin berani bersikap sombong.
Seharusnya, bertambahnya ilmu membuat seseorang semakin memiliki rasa takut kepada Allah dan semakin rendah hati kepada sesama manusia.
Keprihatinan di sini bukan berarti pesimis, melainkan sikap waspada, takut berbuat salah, serta menyadari keterbatasan diri.
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Ilmu seharusnya menjadi jalan menuju kerendahan hati, bukan alat untuk meninggikan diri.
Orang yang benar-benar berilmu akan lebih lembut sikapnya, lebih hati-hati ucapannya, dan lebih tawaduk kepada siapa pun.
Antara Bicara dan Berkarya
Peribahasa lama mengatakan, “Semakin berisi padi, semakin merunduk.” Maknanya jelas: orang yang memiliki banyak ilmu akan semakin rendah hati.
Sebaliknya, mereka yang merasa paling tahu biasanya justru paling keras bersuara.
Ada pula pepatah, “Tong kosong nyaring bunyinya.” Ungkapan ini mengingatkan bahwa orang yang minim isi sering kali paling banyak bicara.
Namun, di sisi lain, ilmu juga tidak boleh dipendam sendirian. Ilmu perlu disampaikan agar memberi manfaat bagi orang lain.
Banyak bicara tanpa tindakan hanya akan menyerupai burung beo yang sekadar menirukan suara.
Sebaliknya, bekerja tanpa pernah berbagi ilmu juga tidak memberi manfaat luas.
Idealnya, seseorang mampu menyeimbangkan keduanya: banyak berkarya sekaligus aktif menyampaikan ilmu.
Ilmu yang tidak dibagikan ibarat cahaya yang disembunyikan di dalam kotak.
Ia hanya menerangi dirinya sendiri, tetapi tidak memberi terang bagi orang lain.
Meneladani Orang-Orang Saleh
Bagi siapa pun yang merasa belum memiliki ilmu, jalan terbaik adalah terus belajar dan mencari guru.
Namun, belajar tidak cukup hanya dengan kecerdasan.
Diperlukan pula amal, keikhlasan, adab, serta prasangka baik kepada para guru.
Tanpa semua itu, ilmu sulit masuk dan sulit memberi keberkahan.
Jika seluruh cita-cita hanya berorientasi pada dunia, manusia perlu menyadari bahwa suatu hari semua akan ditinggalkan.
Harta, jabatan, dan pencapaian tidak akan dibawa ke alam akhirat.
Pada akhirnya, manusia kembali kepada Allah tanpa membawa apa pun selain amal.
Kesadaran ini seharusnya membuat manusia lebih berhati-hati dalam menjalani hidup, tidak terjebak pada kesombongan, dan lebih fokus memperbaiki diri.
Orang-orang saleh selalu merasa berada dalam pengawasan Allah.
Karena itu, mereka menjaga hati, pikiran, dan perbuatannya dengan sungguh-sungguh.
Mereka mendidik batin sebagaimana mereka mendidik anggota tubuh.
Jika sikap ini diteladani, manusia akan lebih mudah mengendalikan hawa nafsu dan menghindari kesalahan.
Pada akhirnya, ilmu tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memperbaiki akhlak dan mendekatkan diri kepada Allah. (top)
Editor : Ali Mustofa