Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bedah Buku Bungkam Suara Picu Gairah Literasi

Andika Trisna Saputra • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 19:16 WIB
INTERAKTIF: J.S Khairen mengungkapkan terkait buku karyanya dalam sesi bedah buku di Joglo Maqha, Jumat (10/10). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
INTERAKTIF: J.S Khairen mengungkapkan terkait buku karyanya dalam sesi bedah buku di Joglo Maqha, Jumat (10/10). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

KUDUS – Keresahan soal menurunnya minat baca di kalangan muda mengemuka dalam sebuah forum literasi di Kudus.

Sejumlah peserta menilai perpustakaan kini mulai kehilangan daya tariknya karena koleksi buku yang usang dan kurangnya kolaborasi dengan komunitas baca.

Penyuluh perpustakaan Dinas Arpusda Kudus, M. Ekodiono, mengungkapkan dalam beberapa bulan terakhir jumlah pengunjung kian menurun drastis.

Baca Juga: Lomba Siskamling Kudus Bangkitkan Lagi Tradisi Ronda

“Sehari hanya lima sampai enam pengunjung. Padahal dulu ramai, banyak mahasiswa dan pelajar yang datang membaca,” ujarnya di hadapan peserta forum.

Pendapat itu memantik diskusi hangat.

Nana, pegiat klub buku asal Jepara, menilai penurunan kunjungan disebabkan suasana dan cara pengelolaan perpustakaan yang kurang bersahabat dengan generasi muda.

“Kebanyakan koleksi buku lama dan proses administrasinya berbelit. Anak muda lebih suka membaca di tempat santai, sambil ngobrol atau ngopi,” katanya.

Merespons itu, Eko berjanji akan memperbaiki kondisi perpustakaan daerah dengan menambah koleksi buku-buku terbaru dan bekerja sama dengan komunitas literasi agar suasana membaca kembali hidup.

“Kami akan mengadakan pengadaan buku sesuai tren bacaan anak muda,” ujarnya.

Diskusi tersebut berlangsung dalam kegiatan bedah buku Bungkam Suara karya J.S Khairen yang digelar Kudus Book Party berkolaborasi dengan Joglo Maqha, Jumat (10/10) malam.

Baca Juga: Pemkab Kudus Siapkan Skema Potong TPP ASN, Ini Penyebabnya

Forum ini menghadirkan penulis muda asal Minangkabau yang dikenal lewat novel-novelnya seperti Dompet Ayah Sepatu Ibu dan seri Kami Bukan.

Dalam sesi bedah buku, Khairen menjelaskan Bungkam Suara lahir dari keresahan saat pandemi COVID-19, ketika kebebasan berbicara di media sosial menjadi tanpa kendali.

Ia menuangkannya dalam cerita fiksi berlatar Negara Kesatuan Adat Lemunesia (NKAL), dengan tokoh-tokoh yang mencerminkan tekanan batin dan keberanian bersuara.

“Saya menulis karena banyak orang sebenarnya ingin bicara, tapi takut disalahkan,” ungkapnya.

Salah satu peserta, Arifin, mahasiswa asal Kudus yang kuliah di Semarang, mengaku terinspirasi dari karya Khairen.

“Bahasanya ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saya sengaja pulang supaya bisa hadir. Semoga acara seperti ini sering diadakan,” katanya.

Acara yang berlangsung hangat dan interaktif itu akhirnya tak sekadar membedah buku, tetapi juga membangkitkan kembali kesadaran pentingnya ruang baca dan budaya literasi di kalangan anak muda Kudus. (dik)

Editor : Ali Mustofa
#JS Khairen #minat baca #literasi #bedah buku #perpusda