Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Crazy Rich Grobogan yang Bangun Jalan Ini Dulunya Jualan Koran Demi Kuliah

Abdul Rokhim • Senin, 18 April 2022 | 02:20 WIB
BERTEMU PRESIDEN: Crazy Rich Grobogan Joko Suranto bersama keluarga bertemu Presiden Jokowi beberapa waktu yang lalu. (ISTIMEWA/RADAR KUDUS)
BERTEMU PRESIDEN: Crazy Rich Grobogan Joko Suranto bersama keluarga bertemu Presiden Jokowi beberapa waktu yang lalu. (ISTIMEWA/RADAR KUDUS)
GROBOGAN - Joko Suranto, pria asal Desa Jetis Kecamatan Karangrayung menjadi perbincangan se-Indonesia. Lantaran aksi dermawannya dengan membangun jalan di kampung halamannya sepanjang 1,8 kilometer. Ia rela merogoh kocek Rp 2 miliar untuk lebar jalan 4,5 meter dengan cor beton bertulang tebal 12 sentimeter.

Baca Juga : Crazy Rich Grobogan Bangun Jalan Rp 2 M, Begini Respon Bupati

Joko Suranto kini menetap di perumahan elit di kota Bandung. Pria tersebut dikenal sebagai Ketua Pengusaha Real Estate Indonesia (REI) Provinsi Jawa Barat. Bapak tiga anak ini, membangun jalan untuk sedekah dan amal untuk diberikan kepada kedua orang tuanya. Yaitu almarhum Haji Kasan Di Hardjo dan Hajah Siti Naimah.

Aksinya itu tak hanya sekali ini dilakukan, sebelumnya pengusaha sukses ini setiap Lebaran selalu memberikan sarung dan mukena ke warga yang ada di Desa Jetis. Setiap Idul Adha juga selalu memberikan kurban tiga ekor sapi yang dibagikan ke tiga dusun di desanya.

Bahkan, baru-baru ini ia membagikan ribuan alquran ke hafiz, hafizah hingga orang yang membutuhkan. Selain itu ia juga kerap memberi santuna ke guru ngaji dan yatim piatu yang ada di Kabupaten Grobogan. Aksi dermawannya itu juga kerap dilakukan hingga ke luar Jawa.

Joko Suranto saat dihubungi wartawan ini melalui telepon menceritakan secuil kisah perjalanannya hingga bisa ke titik sekarang ini. Ia memulai perjalanan dari nol, sejak kecil ia merantau. Saat menginjak SMP, ia sudah menjadi santri di pondok pesantren Desa Kacangan Kecamatan Andong Kabupaten Boyolali.

Kemudian berlanjut ke jenjang SMA di Muhammadiyah Surakarta dan melanjutkan pendidikan kuliah di jurusan Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo pada 1988 dan menjadi sarjana pada 1993.

Saat itu dia diajarkan untuk bekerja keras sejak dini. Pria kelahiran Grobogan 20 Januari 1969 ini mulai biasa melakukan sesuatu yang bisa menghasilkan. Untuk membantu memenuhi biaya studi, dirinya nekat bekerja sebagai penjual koran, hingga membantu konsultasi skripsi teman-temannya.

Photo
Photo
SUKA BERAMAL: Joko Suranto bersama istri dan tiga anaknya dalam foto keluarga di rumahnya. (ISTIMEWA/RADAR KUDUS)

Namun, Joko Suranto menceritakan titik balik kehidupannya yang dimulai pada 1994. Waktu bapaknya pergi haji tetapi ia hanya bisa mengantar tanpa bisa memberikan sesuatu. ”Itu yang membuat saya jadi merasa sedih. Saya terduduk di taman saat itu dan merenung. Ya Allah suatu saat saya harus bisa menghaikan orang tua dan orang-orang di sekitar. Dari situ saya mulai bekerja lebih keras agar bisa berbagi dan memberi. Mulai punya prinsip hidup ingin berbagi dan bisa membantu orang tua,” ujar suami dari Taufiana Hidayati ini.

Pada 1997 dia bekerja di salah satu bank BUMN di Bandung. Saat itu ia hanya berpenghasilan sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Namun, sepertiga dari gajinya itu untuk membantu dan memberi orang tua dan orang sekitar. Sisanya untuk kehidupan sehari-hari.
Karena dirasa kurang, akhirnya dia juga berjualan taplak meja, celana jins hingga kulkas. Kemudian dia mulai belajar bisnis, dengan membeli rumah hingga kavling namun kembali dia jual lagi atau lelang.

Usahanya tak hanya di situ, pada 2005 Joko juga membuka usaha ternak ayam. Namun, tak berjalan mulus lantaran ayam-ayamnya dua kali terkena flu burung. ”Bangkrutlah saat itu. Sempat beli truk juga malah terlibat kecelakaan, lalu truk kami jual. Sempat membuat mebel, tapi jual tertipu,” kesannya.

Meski sempat di titik terendah dia berprinsip harus tumbuh dan selalu bisa memberi, Akhirnya dia ketemu orang yang merubah hidupnya. Orang yang mau bekerjasama. ”Saat itu saya jadi fund manager. Pada awalnya tabungan sendiri dan kongsi. Karena saat itu masih di bank, jadi tidak boleh punya perusahaan sendiri,” ujarnya.

Hingga akhirnya pada Desember 2007 ia bisa berangkat haji. Di sana ia menjalani istikarah mencari petunjuk di hidupnya. ”Sempat berdoa di sana. Minta petunjuk, kalau jalannya memang keluar dari bank merupakan jalan terbaik. Dan saya diberi rezeki di luar itu. Maka saya akan keluar dari zona nyaman itu,” imbuhnya.

Akhirnya, Juni Joko Suranto keluar dari bank. Saat itu ia sempat membeli rumah dulu di Bandung hingga akhirnya fokus dengan usaha properti. Dia kembangkan bisnisnya itu, namun yang selalu menjadi misinya saat itu semua pendapatan langsung dibagi untuk berbagi.

Prinsip hidupnya itu berlanjut hingga kini. Setiap tahun hampir Rp 1 miliar dibagikan sebagai bentuk zakat dan sodakoh sebagai amal jariyah. Saat ini dia memiliki kurang lebih 280-300 karyawan yang menyebar di Jawa Barat, Jawa Tengah hingga DIY. Hingga kini ia memiliki tiga bidang usaha yakni properti, hotel dan finansial (BPR).

”Bisnis yang besar saat ini bernama Buana Kassiti. Untuk Buana Kassiti diambil dari nama orang tua dan istri. Buana dari nama istri yakni Taufiana Hidayati. Biasa dipanggil Bu Ana. Kemudian Kassiti dari nama kedua orang tua yakni Haji Kasan Diharjo dan Hajah Siti Naimah. Maksud yang kita tuju adalah penghormatan ke orangtua dan kasih sayang ke keluarga,” jelasnya.

Selama berbisnis, Joko Suranto selalu memastikan hak orang lain sampai. Maka hak kita akan dijaga oleh Allah. ”Jangan takut berbuat baik. Jangan hitung-hitung. Maka rezeki juga nggak akan terhitung,” pesannya.

Saat diungkit mengenai motivasinya membangun jalan di kampung halamannya. Ia tidak menyangka bakal viral. Karena baginya itu bukan kali pertama ia melakukan itu. ”Setiap tahun selalu memperbaiki, seperti kirim batu dan pasir agar jalan di Sendangharjo hingga Jetis bisa dilewati. Itu sudah berjalan bertahun-tahun. Namun, setelah Bu Sri (Bupati Grobogan) mengecor jalan tersebut. Kini saya tinggal membantu di sepanjang jalan Telawah-Welahan,” jelasnya.

Sebelum memutuskan membangun sepanjang 1,8 kilometer. Beberapa kali pihaknya sempat bertanya ke pemkab. Namun memang anggaran untuk jalan tersebut belum berhasil didapat.

”Ya Alhamdulillah. Akhirnya pemkab memberi kesempatan kami melakukan amal jariyah. Kita diberi kesempatan untuk membangun. Jika nantinya diminta dihibahkan ke pemkab karena selaku pemilik aset, maka akan kami serahkan. Kami ikuti prosedur,” kesannya. (int/khim) Editor : Abdul Rokhim
#Crazy rich grobogan #joko surtanto #grobogan #bangun jalan sendiri #sosok crazy rich grobogan #crazy rich #pembangunan jalan grobogan #crazy rich grobogan jual koran