Beberapa korban banjir dari Desa/Kecamatan Karanganyar, Demak, memilih tinggal di tenda. Yang dibangun di atas tanggul.
Mereka hanya mengandalkan bantuan makanan dari luar.
SEKARWATI, Demak, Radar Kudus
Air mata Sumanah, 53, tampak berlinang saat melihat kondisi rumahnya di RT 6/RW I, Desa/Kecamatan Karanganyar, Demak, masih terendam banjir.
Ketinggian air saat ini setengah dari rumahnya.
Ia mengatakan, saat banjir atau Selasa (19/3) ketinggian air mencapai tiga meter.
Derasnya air dengan cepat menenggelamkan rumahnya dalam hitungan menit.
Baca Juga: Ada Cerita Mistis di Balik Ritual Sembelih Kambing Kendit saat Penutupan Tanggul Sungai Wulan Demak
Mendengar siaran tanggul Sungai Wulan jebol, ia bergegas menuju ke tempat lebih tinggi. Tak banyak yang bisa diselamatkan.
Hanya beberapa helai baju dan barang berharga yang dibawa.
"Sepeda, motor, TV tak bawa ke atas tanggul semua. Lainnya wes dijarke," katanya kemarin.
Selama banjir, ia tidak tinggal di posko pengungsian. Ia khawatir, apabila rumahnya ditinggal dapat dibobol maling saat surut.
Sementara ini, ia hanya bisa menghuni tenda beratap terpal yang ia bangun di atas tanggul bersama anak dan suaminya.
Sementara kebutuhan logistik, ia andalkan dari persediaan yang tersisa sebelum banjir.
"Sabendino mangane mi terus. Lah terus piye? Meh njaluk pengungsian yo adoh, " ujarnya.
Tidak hanya itu, saat hujan deras beberapa waktu lalu tendanya sempat ambruk. Diobrak-abrik angin.
Ia mengaku, tidak sempat tidur karena kedinginan dan sibuk menyelamatkan tenda yang hampir terbang terbawa angin.
"Setelah ambruk, langsung ditata ulang lagi tendanya, " imbuhnya.
Baca Juga: Cerita Pengendara Terjebak Macet 3,5 Jam dari Jepara Kota Menuju Batealit, Ternyata Ini Gara-garanya
Selain Sumanah, Suwito, 58, juga membangun tenda di atas tanggul. Ia bersama dengan lima orang tetangganya berjaga hewan ternak selama banjir.
Sedangkan anak dan cucunya ia suruh untuk mengungsi ke rumah keluarganya di Kudus.
"Kambing saya banjir pertama mati, hanyut satu. Sekarang tinggal enam. Kasihan kalau ditinggal ngungsi. Siapa yang ngasih makan nanti, " terangnya.
Suwito mengaku, tidak bisa makan karena tidak memiliki bekal. Untuk makan, ia hanya mengandalkan bantuan dari orang.
"Sahur saja tidak bisa. Apalagi puasa. Keadaannya seperti ini," ungkapnya.
Ia berharap bantuan segera datang, terutama di tenda-tenda tanggul yang dekat dengan wilayah banjir. (*/zen)
Editor : Noor Syafaatul Udhma