RADAR KUDUS - Nama Aldi Taher kembali memenuhi linimasa media sosial, bukan karena gimmick lagu atau sensasi di layar kaca, melainkan lewat usaha kuliner burger miliknya yang bernama Aldi’s Burger.
Berlokasi di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, restoran sekaligus gerai burger ini mendadak viral setelah strategi promosi Aldi yang nyeleneh dan penuh humor berhasil menarik perhatian warganet.
Antrean pengunjung yang mengular, ulasan food vlogger, hingga ocehan promosi dengan plesetan nama musisi di kolom komentar media sosial membuat Aldi’s Burger menjelma jadi salah satu fenomena kuliner baru di awal 2026.
Aldi Taher, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai musisi, artis, dan komedian dengan gaya kocak dan terkadang absurd, kini tampil dengan wajah baru sebagai pebisnis kuliner.
Ia mengungkapkan bahwa keputusan untuk terjun berjualan burger merupakan bagian dari perubahan hidupnya, dari sosok yang dulu sering dibicarakan karena kontroversi menjadi pribadi yang mengaku ingin fokus bekerja dan berkarya lebih positif.
Dari pengakuannya di berbagai wawancara, Aldi menilai bisnis burger relatif lebih mudah dijalankan dan membutuhkan modal yang tidak serumit jenis kuliner lain seperti mi ayam, sehingga cocok untuk dijadikan langkah awalnya serius di dunia usaha makanan.
Usaha burger ini diperkenalkan ke publik pada awal 2026 dengan mengusung nama Aldi’s Burger, setelah sebelumnya ia sempat berniat memberi nama yang lebih heboh seperti “Geger Burger” agar mudah melekat di ingatan.
Gerai utamanya berada di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dengan konsep kedai burger sederhana yang mengandalkan kekuatan brand personal Aldi sebagai daya tariknya.
Dalam waktu singkat, kabar tentang restoran dan burgernya menyebar luas, baik lewat unggahan Aldi sendiri maupun konten para warganet dan food vlogger yang penasaran dengan rasa serta suasana tempatnya.
Salah satu kunci viralnya Aldi’s Burger terletak pada cara promosi yang sangat khas Aldi Taher, spontan dan terkesan "asal bunyi" namun justru mudah diingat.
Aldi rajin menyebar promosi di berbagai platform media sosial, seperti menyelipkan kalimat-kalimat unik di kolom komentar konten orang lain, terutama di platform seperti Threads dan X (Twitter).
Ia kerap menuliskan frasa promosi panjang yang memadukan informasi produk dengan plesetan nama musisi, misalnya menyebut “dagingnya juicy, lembut, Lucy Mahalini Rizky Febian bisa pesan online” yang menggabungkan nama Juicy Luicy, Mahalini, dan Rizky Febian dalam satu kalimat.
Gaya promosi yang mencampur nama-nama musisi dan figur publik itu membuat warganet terhibur sekaligus penasaran. Nama Juicy Luicy, Mahalini, Rizky Febian, hingga bahkan grup seperti BLACKPINK sering kali muncul dalam kalimat promosi yang mengundang tawa.
Bukannya dianggap mengganggu, komentar-komentar ini justru sering mendapat balasan, tanggapan, dan dibagikan ulang, sehingga memperluas jangkauan promosi Aldi’s Burger tanpa biaya iklan besar.
Di tengah persaingan ketat bisnis kuliner, strategi marketing ala Aldi ini menunjukkan bagaimana persona publik yang kuat bisa dikonversi menjadi kekuatan promosi yang efektif.
Tak hanya bermain di ranah komentar, Aldi juga aktif mengemas promosi Aldi’s Burger dalam bentuk konten kreatif lain seperti lagu.
Ia merilis lagu bertema burger dengan lirik yang mengulang ciri khas promosinya, di antaranya frasa tentang daging burger yang “juicy luicy”, sekaligus kembali menyelipkan nama-nama musisi populer ke dalam lirik.
Lagu ini beredar di media sosial dan makin mengukuhkan citra Aldi’s Burger sebagai produk yang bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari hiburan ala Aldi Taher.
Dengan memadukan musik, humor, dan promosi, Aldi memperluas eksposur usahanya ke audiens yang mungkin awalnya tidak terlalu tertarik dengan konten kuliner.
Di dunia nyata, efek promosi nyeleneh ini tampak jelas dari antrean pengunjung yang rela menghabiskan waktu lama demi mencicipi langsung burger Aldi.
Beberapa laporan liputan kuliner menyebutkan adanya pengunjung yang bersedia mengantre hingga sekitar satu jam di gerai Cempaka Putih demi menuntaskan rasa ingin tahu mereka terhadap rasa burger yang selama ini hanya mereka lihat di layar ponsel.
Aldi sendiri sempat membagikan momen antrean panjang di depan gerai, memperlihatkan kerumunan pelanggan yang mengular, yang kemudian kembali menjadi konten viral dan memperkuat kesan bahwa restoran tersebut sedang sangat ramai peminat.
Dokumentasi antrean ini bekerja layaknya testimoni visual bahwa branding dan promosi Aldi’s Burger benar-benar berujung pada kunjungan nyata, bukan sekadar hype di dunia maya.
Dari sisi produk, Aldi’s Burger menawarkan beberapa pilihan ukuran, termasuk varian jumbo yang sering kali menjadi objek ulasan food vlogger.
Burger ini disebut-sebut memiliki roti yang lembut dan daging yang juicy, sesuai klaim Aldi dalam teks promosi yang berkali-kali ia ulang di media sosial.
Sejumlah konten review di YouTube dan platform lain melihatkan porsi yang cukup besar dengan harga yang dinilai bersaing, sehingga menarik minat konsumen yang mencari pengalaman mencoba makanan "viral" dengan rasa yang tetap layak.
Aldi juga memanfaatkan layanan pemesanan online, sehingga burgernya bisa dipesan melalui aplikasi dan menjangkau konsumen yang berada di luar area langsung gerai, termasuk dalam jumlah pesanan yang cukup banyak untuk dinikmati bersama-sama.
Tidak jarang, pelanggan yang datang ke restoran Aldi’s Burger mengaku motivasi utamanya bukan hanya rasa, tetapi juga ingin merasakan langsung hype dan melihat suasana restoran milik sosok yang selama ini mereka kenal dari layar televisi dan media sosial.
Keberadaan Aldi yang kadang menyempatkan hadir di gerainya ketika tidak memiliki agenda lain menjadi nilai tambah tersendiri, karena pengunjung berpeluang bertemu langsung sang pemilik dan mungkin mendapatkan pengalaman unik, seperti diajak bercanda atau direkam dalam konten.
Dari sudut pandang konsumen, kunjungan ke Aldi’s Burger bukan hanya aktivitas makan, melainkan juga bagian dari pengalaman hiburan, dokumentasi konten, sampai pencarian cerita yang bisa dibagikan kembali ke media sosial pribadi.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana batas antara dunia hiburan dan dunia kuliner makin kabur. Aldi Taher memanfaatkan reputasinya sebagai figur publik penuh gimmick untuk membangun identitas restoran yang dekat dengan humor, spontanitas, dan interaksi intens dengan warganet.
Jika banyak brand besar mengandalkan kampanye iklan terencana dan kolaborasi resmi dengan selebritas, Aldi justru menjadikan dirinya sendiri sebagai "influencer utama" yang terus-menerus melakukan soft selling sembari bercanda.
Model promosi ini memberi contoh bahwa dengan karakter yang konsisten, keberanian tampil beda, dan pemahaman terhadap budaya internet, usaha kuliner rumahan pun bisa menembus bisingnya lini masa digital.
Di sisi lain, keberhasilan Aldi’s Burger juga memunculkan diskusi soal keberlanjutan hype dan kualitas produk. Di beberapa ulasan, rasa burger dinilai cukup baik dan sepadan dengan harga, meski tetap ada catatan dari beberapa konsumen yang membandingkannya dengan burger lain yang sudah lebih dulu populer.
Bagi sebagian orang, faktor utama kunjungan adalah rasa penasaran terhadap figur Aldi dan strategi pemasarannya, sehingga tantangan ke depan adalah memastikan kualitas rasa, konsistensi pelayanan, dan pengalaman makan yang stabil setelah gelombang viral mereda.
Jika Aldi’s Burger mampu mempertahankan standar cita rasa dan pelayanan, restoran ini berpeluang bertahan tidak hanya sebagai tren sesaat, tetapi menjadi pemain baru yang cukup serius di dunia burger lokal.
Jika dilihat dari perspektif marketing, apa yang dilakukan Aldi Taher dapat dibaca sebagai kombinasi personal branding, marketing, dan pemanfaatan kultur meme.
Baca Juga: Dokter Kamelia Tetap Hadir di Sidang Ammar Zoni Meski Sudah Putus Hubunganl
Penggunaan plesetan nama artis dan musik sebagai bagian dari narasi brand menunjukkan pemahaman Aldi terhadap cara kerja atensi di media sosial, konten yang menghibur dan mengandung unsur familiar cenderung lebih mudah dibagikan.
Dalam konteks ini, restoran Aldi’s Burger bukan hanya tempat menjual makanan, tetapi juga panggung tempat persona komedi Aldi terus hidup dan berinteraksi dengan publik.
Restoran Aldi’s Burger milik Aldi Taher di Cempaka Putih saat ini menjadi salah satu contoh paling mencolok bagaimana kreativitas promosi di media sosial dapat mengangkat usaha kuliner baru hingga viral dan dipadati pengunjung.
Adanya gabungan humor, musik, dan keaktifan membalas warganet, Aldi berhasil mengubah atensi yang selama ini ia dapatkan sebagai figur hiburan menjadi modal nyata untuk mendongkrak penjualan burger.
Ke depan, tantangan terbesarnya adalah mempertahankan kualitas rasa dan pelayanan agar Aldi’s Burger diingat sebagai "burger viral Aldi Taher", dan juga sebagai restoran yang layak dikunjungi kembali, bahkan setelah gempita media sosial mulai mereda. (*)
Editor : Ali Mustofa