Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Modul Nusantara PMM Batch 4 di Tanah Malamoi, Sebuah Kunjungan di Kampung Warmon Kokoda

Abdul Rokhim • Sabtu, 13 Juli 2024 | 01:17 WIB
ANTUSIAS: Anak-anak Warmon Kokoda nampak antusias.
ANTUSIAS: Anak-anak Warmon Kokoda nampak antusias.

RADAR KUDUS - Papua Barat Daya merupakan sebuah provinsi yang baru saja dimekarkan dari papua barat pada tahun 2022 (Menpan.go.id, 2022).

Kedatangan saya ditanah Malamoi yaitu sebutan untuk kota Sorong, yaitu kota tempat saya diterima sebagai mahasiswa PMM batch 4 yang merupakan program MBKM.

Tujuan mengikuti program tersebut adalah dapat merasakan nuansa kebhinekaan dengan mencoba untuk berkuliah selain dari pada daerah yang ditempati sehingga mendapatkan insight yang lebih mengenai pembelajaran culture masyarakatnya.

Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong (UNIMUDA) merupakan salah satu kampus yang berada pada kabupaten sorong yang mana kampus ini merupakan tempat saya diterima dan menjalankan studi kebhinekaan maupun studi layaknya mahasiswa regular yang berada didalam kampus tersebut.

Modul Nusantara adalah sebuah program rutin setiap minggu yang saya lakukan yaitu berupa refleksi, kebhinekaan, dan kontribusi sosial, pada salah satu kegiatan modul nusantara saya melakukan kunjungan pada sebuah perkampungan masyarakat Orang asli papua (OAP) yaitu Kampung Warmon Kokoda.

Kampung Warmon Kokoda merupakan suatu kampung yang berada di Kabupaten Sorong, provinsi Papua Barat Daya yang dihuni oleh suku Kokoda yang merupakan salah satu suku dari banyaknya suku yang berada di Papua (Rumaf & Wahyuningsih, 2020).

Warmon Kokoda merupakan salah satu kampung binaan Muhammadiyah (Republika.co.id).

Yang mana kampung tersebut dijadikan sebagai kampung percontohan dan juga laboratorium mahasiswa dalam melakukan pelatihan dan pembinaan terhadap masyarakatnya yang mana hal ini juga sekaligus disambut baik oleh kepala kampung dari Kampung Warmon Kokoda yaitu bapak Arifin MHI.

Dalam kunjungan saya saat itu, ada beberapa masalah sosial yang dapat terlihat yaitu dalam segi pendidikan yang mana didalamnya masyarakat Warmon Kokoda sendiri masih kesulitan untuk mendapatkan akses pendidikan

Setiap harinya anak-anak yang pergi bersekolah harus keluar dari kampung tersebut untuk mencapai tempat sekolah seperti SD, SMP dan SMA.

Selain itu banyak anak-anak yang putus sekolah dikarenakan kurangnya dukungan dari orang tua.

Akibatnya, banyak anak-anak bahkan orang dewasa yang tidak bisa membaca dan berhitung dengan baik. 

Pada saat kunjungan ke kampung warmon Kokoda, saya mengajak anak-anak untuk bermain dan belajar.

Selain itu juga kami mengajari anak-anak dan orang dewasa untuk melakukan cuci tangan yang baik dan benar agar mereka mampu menjaga kebersihan dengan benar.

Selanjutnya, warga Kampung Warmon Kokoda sendiri memiliki tingkat pendapatan yang cukup rendah, dikarenakan hampir sebagian warga hanya menjadi petani dan nelayan yang hasilnya tidak seberapa.

Tingkat kemiskinan pada Kampung Warmon Kokoda cukup tinggi karena kemampuan untuk mencari pekerjaan yang tetap dan tepat sehingga kehidupan mereka dari segi ekonomis masih bergantung pada bantuan-bantuan pemerintahan dan pendapatan dari pekerjaan yang tidak menentu. 

Hal ini tentu menjadi permasalahan yang perlu diperhatikan lagi oleh pemerintahan daerah maupun Muhammadiyah sebagai pembina dari kampung tersebut agar dapat memajukan kualitas masyarakat ornag asli papua khususnya masyarakat Kampung Warmon Kokoda.

Yang terakhir dapat dilihat dari agama dan status sosial, Warmon Kokoda sendiri dijadikan sebagai kampung percontohan dikarenakan setelah adanya kampung tersebut pada daerah sekelilingnya menjadi banyak yang beragama muslim.

Tetapi Kampung Warmon Kokoda kesulitan dalam pembangunan tempat ibadah, disana tidak ada masjid, hanya ada mushola kecil yang mengakibatkan masyarakat kampung ketika akan melaksanakan sholat jum’at harus keluar kampung terlebih dahulu.

Dari segi sosialnya, untuk sesama warganya sangat rukun. Bahkan warga kampung warmon Kokoda tidak pernah mendapatkan kekerasan apapun dari warga kampung lain, rasa toleransi mereka sangat tinggi dan mampu menjaga kerukunan dengan baik.

Seperti pada salah satu teori identitas sosial yang dikembangkan oleh Henri Tajfel yang menjelaskan bahwa bagaimana individu membentuk identitas mereka melalui afiliasi dengan kelompok sosial tertentu.

Warga kampung warmon Kokoda sendiri membentuk identitas sosial dengan melalui keanggotaan dalam kelompok agama dan komunitas lokal lainnya.

Mereka merasa terhubung dengan satu sama lain karena memiliki kesamaan budaya, bahasa, dan lainnya.

Rasa solidaristanya juga tinggi dibuktikan dengan bentuk kerjasama warga Kampung Warmon Kokoda dengan beberapa komunitas lokal yang bekerja sama untuk memajukan Kampung Warmon Kokoda dan mensejahterakan warganya.

*Artikel ini ditulis oleh Meiliana Farah Auliyah Mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Muria Kudus (*)

Editor : Abdul Rokhim
#Papua barat #Pemekaran #UMK #modul nusantara #Pemekaran wilayah #PMM Batch 4