JEPARA - Upaya untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran terhadap sampah supaya tidak menjadi bom waktu di kemudian hari terus dilakukan.
Selain menginisiasi DMS, TPS3R maupun Eco-Office juga terdapat Bank Sampah Induk (BSI).
BSI menjadi fasilitas yang digunakan untuk mengumpulkan, memilah, dan mendaur ulang sampah di ranah regional.
Atau merupakan muara dari kerja-kerja pengelolaan sampah di tingkat desa yang dijalankan dalam Bank Sampah Unit (BSU).
Ketua Bank Sampah Induk (BSI) Jepara, Anis Surahman menyampaikan saat ini terdapat setidaknya 155 BSU yang ada di desa-desa maupun OPD di Kabupaten Jepara.
“Saat ini terdapat setidaknya delapan pengurus (relawan, Red) mewakili se-Kabupaten Jepara. Koordinator wilayah utara, tengah, dan selatan. Menjembatani BSU, untuk memastikan berjalannya kegiatan pengelolaan sampah,” ungkapnya.
BSI sendiri telah ada sejak 2019, merupakan transformasi atas Bank Sampah Pusat yang diinisiasi pada 2017.
Terdapat sejumlah fasilitas yang kini dimiliki oleh BSI, meliputi kantor, gudang, armada tiga unit, mesin pres satu unit, alat penggilingan kompok satu unit, alat pencacah plastik satu unit.
“Sementara itu, di BSI maupun BSU sendiri tak hanya memilah sampah yang memiliki nilai jual, namun juga mendaur ulang sampah anorganik menjadi berbagai bentuk kerajinan,” ucapnya.
Gerakan zerowaste ataupun minimalism secara masif juga digiatkan, dengan melakukan edukasi seputar persampahan kepada para siswa di sejumlah sekolah.
Hal tersebut diharapkan adanya pengelolaan sampah yang tepat, sehingga jargon ‘Sampahku Tanggungjawabku’ diterapkan dengan baik.
“Melibatkan siswa dari jenjang PAUD, SD, SMP, ataupun SMA sederajat. Proses edukasi disesuaikan seusai usia, mulai dari pemilihan jenis-jenis sampah hingga membuat kreasi,” terangnya.
Menurut Anis, kebersihan merupakan investasi yang berharga.
Sedangkan prosesnya tidak hanya dapat dikebut dalam semalam, melainkan membutuhkan waktu yang panjang.
“Untuk itu, kami turut berusaha untuk mengubah pola pikir, secara bijak menggunakan plastik yang hanya sekali pakai. Dengan pola hidup yang lebih ramah lingkungan lainnya. Perlu kesadaran kolektif,” pungkasnya. (fik/war/*)
Editor : Ali Mustofa