Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Lebih Dekat dengan Stephanie Mayasari Darmana, Binaragawan Asal Pengkol, Jepara, Harumkan Nama Jepara di Kancah Dunia Binaraga

Fikri Thoharudin • Jumat, 29 Agustus 2025 | 04:16 WIB
RUTIN: Stephanie tengah mendampingi nge-gym di Champion Gym Jepara
RUTIN: Stephanie tengah mendampingi nge-gym di Champion Gym Jepara

Nge-gym telah memberikan makna hidup yang mendalam bagi Stephanie. Perempuan berusia 31 tahun ini sukses meniti karir sebagai personal trainer yang memiliki segudang pengalaman.

Body building menurutnya sebagai sebuah seni memahat tubuh tinggi tinggi. Penghujung tahun 2024 lalu, dirinya lolos ke dalam 10 besar woman sport model body contest Muscle Mania tingkat nasional.

Sementara saat ini dirinya sedang menyiapkan untuk natural body contes yang akan terselenggara di Yogyakarta.

FIKRI THOHARUDIN, Jepara, Radar Kudus

KECANTIKAN, bagi Stephanie Mayasari Darmana bukan merupakan faktor tunggal, yang secara fisik harus berkulit putih, slim, dan rupawan.

Perempuan asal Kelurahan Pengkol, Jepara ini memiliki pandangan yang jauh berbeda dari kebanyakan orang.

Baginya, perempuan memiliki nilai dan sisi-sisi berharganya masing-masing. Bahkan perempuan berotot pun juga bagian dari hak, seperti halnya laki-laki.

Perubahan besar-besaran itu terjadi mulai tahun 2012 silam, saat Stephanie berkuliah di UPN Yogyakarta. 

"13 tahun tahun yang lalu aku obesitas, terancam gula tinggi. Kemudian saya mulai nge-gym tapi akhirnya keterusan," ungkapnya.

Dari yang awalnya iseng-iseng sembari membenahi pola hidup, dari situlah karirnya mulai tertata. Hingga bisa mengikuti body contes dan menjadi seorang personal trainer (PT) andal.

"Awalnya jadi trainer freelance, tapi kemudian direkrut. Hingga kemudian saya lulus kuliah pada 2017," ujarnya.

Tak berselang lama, Stephanie kemudian memutuskan untuk pulang ke tanah kelahirannya, Kota Ukir Jepara.

Sambil menyalurkan hobi dengan bermusik, ia juga sempat membuka kedai kopi di kurun 2021 awal hingga 2022.

"2022 hingga sekarang saya aktif kembali sebagai PT di Champion Gym Jepara," sebutnya.

Menyadari jika Jepara kekurangan atlet yang menekuni binaraga, sontak membuat Stephanie ingin ambil peran dan bagian. Terlebih sebagai seorang perempuan. 

Tekad itulah yang mengantarkannya pada women body contest ajang nasional yang terselenggara di Yogyakarta pada Desember 2024 lalu. Ia berhasil masuk ke 10 besar dan menduduki peringkat ke-6.

MEMBANGGAKAN: Stephanie menerima penghargaan medali kompetisi Muscle Mania Indonesia, kategori Women Sport Model oleh Ade Rai di Yogyakarta pada 22 Desember 2024 lalu.
MEMBANGGAKAN: Stephanie menerima penghargaan medali kompetisi Muscle Mania Indonesia, kategori Women Sport Model oleh Ade Rai di Yogyakarta pada 22 Desember 2024 lalu.

Saat ini dirinya juga sedang menjalankan program latihan khusus, untuk turut serta event Biggest Natural Bodybuilding Competition yang akan terselenggara di Yogyakarta pada Desember mendatang.

Perlu waktu lebih dari satu dekade untuk dapat memiliki massa otot seperti yang saat ini. Cidera demi cidera merupakan harga yang harus dibayar untuk hal tersebut. Namun hal itu juga terganjarkan oleh torehan partisipasi dan prestasi di dunia body contest.

Perlu konsistensi yang besar-besaran untuk dapat menjadi otot yang telah dimiliki. Mulai dari menjaga makan dan minum, pola tidur dan tentu ketekunan dalam latihan.

"Untuk mendapaykan otot itu sangat sulit. Apalagi jika hendak body contest. Ada yang namanya cut water yang ketat beberapa hari menjelang hari h, termasuk fase loading dengan makan carbo dan protein," ujarnya.

Pengamalan-pengamalan itulah yang membuat pemaknaan Stephanie dalam dunia body building semakin matang. Baginya, seseorang adalah apa yang dia makan. "Mau makan saja kepikiran, yang tak makan nanti jadi apa ya?" kekehnya.

KONSISTEN: Stephanie tengah mempersiapkan diri untuk Muscle Mania Biggest Natural Bodybuilding Competition di Yogyakarta pada Desember 2025 mendatang.
KONSISTEN: Stephanie tengah mempersiapkan diri untuk Muscle Mania Biggest Natural Bodybuilding Competition di Yogyakarta pada Desember 2025 mendatang.

Gym, baginya adalah sebuah kewajiban di zaman modern. Di mana setiap jengkal aktivitas dan mobilitas umat manusia telah termanjakan oleh teknologi. Gym, sambungnya, aktivitas yang kaya manfaat.

"Dapat mencegah penyakit di masa tua. Apalagi menginjak 40 tahun ke atas, penyakit-penyakit mulai bermunculan. Persoalan tulang, otot dan sendi adalah kunci. Ini bagian dari investasi jangka panjang untuk kesehatan," sebutnya.

Beberapa manfaat yang bisa dituai dari aktivitas ini ialah dapat meningkatkan kekuatan otot dan tulang, mencegah osteoarthritis, osteoporosis ataupun diabetes.

"Di satu sisi gym juga bisa menjadi terapi, untuk anxiety. Seperti misalnya saat angkat beban hormon dopamin akan naik, kita jadi lebih tenang ketika selesai. Dapat mengurangi stres," ujarnya.

Bagi Stephanie sendiri, gym mengubah hidupnya 180 derajat. Dari yang awalnya obesitas hingga kini memiliki body yang diidam-idamkan tak sedikit orang.

"Tinggiku 150cm, berat hingga 64kg, ya itu dulu. Makanya dipanggil Stephanie Teponk yang artinya paha. Tapi nama itu masih kupakai sampai sekarang, untuk membuktikan kepada orang-orang yang dulu pernah memandang sebelah mata tentang tubuh saya," tegasnya.

Sejak setidaknya 2015 hingga sekarang, Stephanie sendiri telah memberikan pendampingan secara personal dan intens terhadap tak hanya generasi muda tapi juga kalangan yang telah berumur.

"Hampir 50 orang, sekarang pun dalam antrean karena jadwal penuh. Banyak ibu-ibu muda hingga yang telah berumur 40-an," sebutnya.

Sebagai personal trainer, Stephanie banyak memberikan edukasi. Terlebih soal pentingnya mengatur pola makan dan persepsi khalayak yang memandang diet secara salah.

"Padahal diet itu tetap makan, pentingnya menciptakan kebiasaan baru yang lebih positif. Misalnya dari yang malas gerak, dengan nge-gym jadi teratur, semua ditata," sebutnya.

Baginya perempuan pun tidak mesti malu dengan nge-gym. Stigma perempuan berotot itu jelek seyogianya ditepis jauh-jauh.

"Saat ini banyak yang mulai nge-gym, ini tren bagus. Apalagi konten-konten edukasi yang berseliweran di beranda media sosial. Saya sendiri dulu punya riwayat gula tinggi, sekarang normal," bebernya.

Pada saat yang sama, hasil dari nge-gym juga dapat mengatasi body dysmorphic disorder (BDD). 

"Perempuan pun jangan takut berorot, saya pun akan terus mengedukasi untuk sadar diri. Kita butuh otot untuk menopang rangka sampai tua. Penuaan dimulai dari mindset yang salah dan kemalasan, maka bergerak dan latih agar otot kita tetap kuat. Apalagi bagi atlet, semua cabor membutuhkan otot," tegasnya.

Body building dalam hematnya merupakan seni pahat tubuh yang juga patut menjadi identitas bagi Jepara. Terlebih langkah Stephanie telah membawa nama Jepara ke dalam dunia body contest. Pada tingkat nasional, hingga hendak merambah ke tingkat internasional. 

"Jepara Bumi Kartini, perlu orang-orang yang kuat pada tekad, konsistensi dan semangat hidup. Dalam hal ini, maskulinitas tidak hanya dimiliki laki-laki, perempuan punya hak juga itu. Manfaat praktisnya ya kita semakin tua, masa otot semakin menyusut. Perlu memilih pola dan gaya hidup yang sehat," tandasnya memberi pesan.(*)

Editor : Ali Mustofa
#jepara #Gym #Body Contest #Champion Gym Jepara #personal trainer #Body building