RADARKUDUS - Ada seorang mahasiswa yang mengeluh tidak bisa lepas dari mie instan. Ia heran kenapa rasanya selalu enak, bahkan ketika dimakan setiap hari.
Penelitian dari International Journal of Gastronomy menunjukkan bahwa kombinasi gurih, aroma kuat, dan tekstur kenyal memicu sistem reward otak, membuat kita merasa puas lebih cepat.
Di sinilah rahasia kenikmatannya tersembunyi, bukan sekadar bumbu semata.
1. Mie instan menggunakan senyawa umami seperti MSG dan nukleotida yang secara ilmiah dapat meningkatkan sensitivitas lidah terhadap rasa gurih
Penelitian dari Food Chemistry menjelaskan bahwa kombinasi dua senyawa ini bisa melipatgandakan persepsi lezat.
Karena itu, setiap suapan memberikan sensasi puas yang konsisten, membuat otak mengingatnya sebagai makanan yang mudah disukai dan selalu terasa familiar, bahkan ketika dimakan berkali-kali.
2. Tekstur mie instan dibuat dengan teknik deep-frying atau pengeringan udara panas yang menghasilkan kekenyalan stabil
Studi pangan dari NISSIN Lab menunjukkan bahwa tekstur seperti ini merangsang chewing satisfaction, yaitu rasa nyaman saat mengunyah.
Tubuh menafsirkannya sebagai makanan yang aman dan memuaskan, sehingga tiap kali kita makan, sensasi lembut dan kenyalnya memberikan pengalaman makan yang cepat diterima otak.
3. Aroma mie instan dirancang menggunakan volatil flavor compound, yaitu molekul aroma yang mudah menguap saat bertemu air panas
Jurnal Flavour Science menyebutkan bahwa aroma gurih yang kuat bisa memicu anticipatory craving, yaitu rasa ingin makan sebelum mencicipi.
Itulah kenapa hanya mencium aromanya saja sudah membuat kita merasa lapar, sehingga mie selalu tampak lebih enak dari makanan sederhana lainnya.
Penelitian memang menjelaskan kenapa mie instan terasa enak setiap hari, namun bukan berarti aman dikonsumsi berlebihan.
Tubuh tetap membutuhkan nutrisi seimbang yang tidak bisa disediakan mie instan seorang diri. Menikmatinya sesekali sah saja, asalkan disertai kontrol dan pola makan sehat.
Pada akhirnya, kenikmatan tetap boleh dirayakan, selama kita mengenali batas aman bagi tubuh kita.
Editor : Ali Mustofa