RADARKUDUS - Bayangkan sebuah lautan tersembunyi di perut Bumi, jauh lebih dalam dari Samudra Pasifik.
Ini bukan dongeng, melainkan fakta geologis yang ditemukan para ilmuwan.
Air ini terperangkap dalam struktur mineral mantel Bumi, membentuk reservoir raksasa yang mengubah pemahaman kita tentang asal-usul air di planet ini.
1. Para peneliti dari Northwestern University menemukan bukti kuat dengan menganalisis sampel batuan langka dari dalam Bumi, bernama ringwoodite.
Mineral ini, yang terbentuk di zona transisi mantel Bumi, bertindak seperti spons raksasa karena struktur kristalnya yang mampu menangkap molekul air.
2. Dengan menggunakan spektrometer, mereka mengukur kandungan air dalam ringwoodite tersebut.
Hasilnya mengejutkan: sekitar 1,5 persen berat mineral itu adalah air.
Jika batuan di zona transisi seluruhnya mengandung ringwoodite yang jenuh air, itu setara dengan tiga kali volume seluruh air di lautan permukaan Bumi.
3. Lalu, bagaimana air bisa sampai ke sana?
Teori utama menyebutkan bahwa lempeng samudra yang menyusup ke dalam mantel Bumi membawa air bersamanya.
Air tersebut kemudian terlepas akibat panas dan tekanan ekstrem, lalu terperangkap oleh mineral seperti ringwoodite di kedalaman ratusan kilometer.
4. Penemuan ini memecahkan teka-teki lama tentang siklus air Bumi.
Selama ini, ilmuwan bertanya-tanya ke mana air menghilang dari permukaan dalam skala waktu geologis.
Kini, kita tahu Bumi memiliki sistem daur ulang air internalnya sendiri, antara permukaan dan bagian dalam planet.
5. Lautan dalam ini juga berperan sebagai pengatur geologi jangka panjang.
Keberadaan air di mantel Bumi mempengaruhi viskositas batuan, yang pada akhirnya memengaruhi konveksi mantel dan aktivitas vulkanik.
Air dari dalam Bumi membantu menjaga kestabilan iklim global selama miliaran tahun.
Jadi, lautan terbesar di Bumi ternyata bersembunyi di perutnya sendiri.
Penemuan revolusioner ini tidak hanya memukau, tetapi juga menyadarkan kita bahwa Bumi adalah sistem dinamis yang begitu kompleks, di mana setiap elemen, bahkan yang tersembunyi paling dalam, saling terhubung untuk menciptakan planet yang layak huni.
Editor : Ali Mustofa