Baca Juga : Soal Sekolah SMPN di Rembang Minim Pendaftar, Begini Kata Dinas
Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus di sekolah yang berlokasi di wilayah Pantura timur Rembang ini. Hingga pukul 10.00, berkas yang masuk hanya 38 blangko. Dan tidak bertambah hingga pukul 11.30.
Dengan jumlah pendaftar tersebut, pihak sekolah hanya bisa membuat dua rombongan belajar (rombel). Sebab, mengacu ketentuan yang ada satu rombel maksimal hanya 32 siswa. Selain itu, jumlah tersebut juga tidak memenuhi target yang ditentukan sekolah yakni tiga rombel.
”Karena lebih dari 32 siswa dan kurang 64 siswa bisa dibuat dua rombel,” kata Ketua PPDB SMPN 4 Rembang Tri Widiarto kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Tri Widiarto mengatakan, berbagai faktor menjadi kendala yang menyebabkan SMP itu kekurangan murid. Diantaranya pengaruh zonasi hingga jarak sekolah yang cukup jauh dari rumah warga.
”Rata-rata calon peserta didik ingin sekolah di kota. Kami zonasinya kan empat desa. Meliputi Desa Tritunggal, Pasarbanggi, Punjulharjo, dan Kasreman. Empat desa itu juga dekat dengan SMP yang berada di kota,” terangnya.
Baca Juga : PPDB Minim Pendaftar, Guru SMPN 4 Rembang Terpaksa Harus ‘Nyabang’ Mengajar di Sekolah Lain
Selain faktor jarak, lanjut Tri Widiarto, faktor lainnya juga karena menjamurnya sekolah swasta berbasis agama. Pasalnya, SMP ini juga dekat dengan Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Dia menuturkan, perolehan siswa tahun ini, sama halnya dengan tahun lalu yang hanya mendapatkan dua rombel. Sehingga, kondisi ini berdampak pada jam mengajar guru yang minim. Akibatnya, para guru harus mengajar ke sekolah lain untuk mencapai target 24 jam mengajar.
”Dulu pernah sampai tiga rombel kecil. Setelah itu, tak pernah lagi. Mentok hanya dua rombel. Itu pun tidak penuh,” tuturnya.
Selain itu, dengan sedikitnya siswa, otomatis biaya operasional sekolah (BOS) yang diperoleh juga sedikit. Padahal kebutuhan pembiayaan hariannya sama. Misalnya, untuk berangkat kegiatan yang digelar di kota dan lain sebagainya.
Baca Juga : Diwarnai Cek-Cok dengan Pedagang, Lapak di Luar Pagar Pasar Rembang Akhirnya Dibongkar Satpol PP
Salah satu panitia PPDB, Maimun Hidayah menyampaikan, sekolah sudah melakukan jemput bola. Di antaranya kerja sama dengan SD yang berada di lingkup zonasi.
Namun, hal itu tak dapat banyak membantu. Sebab, pilihan tergantung anak dan orang tua. (noe/lin/khim) Editor : Abdul Rokhim