Baca Juga : Terjebak Macet 8 Jam di Pantura Rembang-Pati, Sejumlah Sopir Terpaksa Cuci Baju di Atas Truk
Sehari-hari, rumah yang terletak di Desa Karangturi ini dijadikan kedai. Nuansa yang disajikan tetap mengusung konsep tempo dulu.
Rumah ini berbentuk seperti joglo. Memiliki teras dengan luas sekitar 12x7 meter. Di tengah sudah ditata kertas-kertas kuno dengan tulisan tiongkok. Warnanya coklat. "Ya buat mini pameran," kata Agik NS, salah satu pegiat di Museum Nyah Lasem.
Kertas-kertas itu diletakkan di meja. Kemudian ditutup dengan kaca. Menyentuh buku-buku itu harus hati-hati. Ia sendiri tak berani mengangkat. "Sudah rapuh kertasnya," ungkapnya. Itu baru sebagian kecil koleksi yang ada di Nyah Lasem.
Dulu, kata Agik, tempat ini merupakan rumah warga tionghoa. Hanya saja ia tak tahu siapa nama pemilik pertamanya. Dari cerita yang dia dengar, hunian ini dibeli karena ada transaksi terkait hutang piutang."Itu terjadi tahun 1940. Orang yang bertransaksi sudah sama-sama meninggal," ujarnya.
Baca Juga : Prank Jadi Pocong, Bocah 15 Tahun di Demak Dihajar Warga
Sehingga sejarahnya baru tercatat setelah ada transaksi tersebut. Pembelinya bernama Tio Swan Sien, seorang pengusaha batik masa itu. Selanjutnya oleh ahli waris, rumah ini dikontrakkan. Sampai 2014, kemudian dijadikan museum. Sementara pemilik rumah tinggal di tempat lain.
Rumah ini sebagai wadah para pegiat sejarah Lasem berkumpul. Kemudian menaruh koleksi-koleksi mereka untuk dipamerkan. Nama Nyah Lasem sendiri diambil dari kata Nyoya Lasem. "Pinginnya kami mendedikasikan museum ini untuk mendedikasikan kegiatan-kegiatan para nyonya Lasem," ungkapnya.
Jika ditotal, diperkirakan jumlahnya ada seribuan barang-barang kuno. Rata-rata berbahan kertas. Seperti buku, koran, hingga surat-surat masa lampau. Agik mengajak Jawa Pos Radar Kudus berkeliling. Dinding ruang tengah terpajang foto-foto linimasa lasem hingga koleksi koin-koin tiongkok kuno.
Di disamping ruang tengah terdapat satu ruang lagi. Isinya tentang surat-surat transaksi usaha batik. Selain itu juga ada canting hingga cap yang usianya diperkirakan lebih dari seabad. "Koleksi utama sebenarnya masih tentang korespondensi batik," ujarnya
Kemudian ruang belakang terdapat koleksi mesin jahit dan Peta Rembang tahun 1930-an. Rumah ini masih dijaga keasliannya. Kamar mandinya berada di belakang. Terpisah dengan bangunan utama.
Sebagian besar koleksi merupakan sumbangan dari para pegiat. Termasuk Agik, yang sudah mengoleksi perangko-perangko lawas sejak usia 12 tahun. Sekarang, di usianya yang sudah 54 tahun juga masih hobi mengumpulkan barang lawas.
Kemarin ia membawa satu dus berisi kertas-kertas jaman dulu. Mulai tulisan tiongkok hingga karcis bus tahun 1959.
Beberapa ada barang-barang yang ditemukan dari toko loak. Seperti foto-foto orang tionghoa. Bahkan pernah ada pengunjung yang menemukan foto keluarganya di tempat ini. Koleksi-koleksi yang ada di sini tidak untuk dijual.
"Foto-foto itu kami nemu di loak. Kami tidak jual. Saya hanya ijinkan foto aja," imbuhnya. Pengelolaan museum ini dilakukan bersama secara swadaya. "Setiap orang mau nyumbang gak masalah," jelasnya. (vah/ali/khim) Editor : Abdul Rokhim