RADAR KUDUS – Di balik kesederhanaan Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan, tersimpan kisah sejarah dan legenda yang mengagumkan.
Kompleks Makam Ki Ageng Selo, Masjid Jami Ki Ageng Selo, dan sejumlah peninggalan unik menjadi saksi bisu perjalanan seorang tokoh spiritual yang dikenal sebagai penangkap petir.
Ki Ageng Selo, yang juga dikenal dengan nama Bagus Songgom, Risang Sutowijoyo, atau Syeh Abdur Rahman, meninggalkan warisan budaya dan religi yang masih terjaga hingga kini.
Makam Ki Ageng Selo: Tempat Peristirahatan Sang Penangkap Petir
Di dalam kompleks makam Ki Ageng Selo, terdapat bangunan makam yang menyimpan tiga makam: Ki Ageng Selo sendiri beserta dua istrinya.
Makam ini menjadi tujuan ziarah bagi banyak orang, terutama mereka yang ingin mengenang jasa dan spiritualitas Ki Ageng Selo.
Selain makam, terdapat pula lemari api petir yang terletak di sebelah utara kompleks. Lemari ini menyimpan pelita atau lampu teplok yang konon apinya berasal dari petir yang berhasil ditangkap oleh Ki Ageng Selo.
Legenda ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang penasaran dengan kisah mistis sang penangkap petir.
Tak jauh dari makam, terdapat pohon gandri (Bridelia monoica) atau yang sering disebut "pohon gandrik".
Pohon ini diyakini sebagai tempat Ki Ageng Selo mengikat petir yang berhasil ditangkapnya.
Pohon gandri yang masih hidup hingga kini menjadi simbol kekuatan spiritual Ki Ageng Selo dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kompleks makam.
Masjid Ki Ageng Selo: Bangunan Kayu Berusia Ratusan Tahun yang Tetap Kokoh
Tak jauh dari makam, berdiri kokoh Masjid Ki Ageng Selo. Meskipun bangunan aslinya telah dihancurkan oleh Belanda, masjid ini dibangun kembali oleh Pakubuwana VI pada tahun 1815 Masehi.
Kemudian, pada tahun 1930-an, masjid ini dipugar kembali oleh Pakubuwana X. Dalam pemugaran tersebut, serambi masjid diperluas sekitar dua meter, dan bagian mihrab mengalami perombakan.
Masjid ini memiliki ciri khas arsitektur kuno dengan corak joglo, yang sebagian besar terbuat dari kayu jati asli.
Menurut Rifai, penjaga masjid, masjid ini awalnya dibangun oleh Ki Ageng Selo dan diberi nama Masjid Jami Ki Ageng Selo.
"Masjid ini menjadi tempat salat rawatib lima waktu dan salat berjamaah. Saat Ramadan, warga berkumpul di sini hingga fajar untuk salat malam," ujarnya.
Pada tahun 1983, masjid ini kembali mengalami perluasan untuk menampung jamaah yang semakin banyak, terutama saat salat Jumat.
Semua tiang masjid (saka) terbuat dari kayu jati, begitu juga dengan mimbar dan tempat imam salat. Bentuk masjid terdiri dari tiga trap dan dilengkapi mustaka di atasnya.
Bedug Kembar: Warisan Unik Ki Ageng Selo
Salah satu peninggalan unik di Masjid Ki Ageng Selo adalah bedug yang terbuat dari kayu opo-opo.
Bedug ini memiliki diameter satu meter dan dibuat dari satu batang kayu yang dipotong menjadi dua.
Potongan pertama digunakan untuk membuat bedug di Masjid Ki Ageng Selo, sedangkan potongan lainnya digunakan untuk membuat bedug di Masjid Agung Demak.
Kedua bedug ini dianggap kembar dan menjadi simbol hubungan spiritual antara kedua masjid tersebut.
"Menurut cerita turun-temurun, bedug di sini sama dengan yang ada di Masjid Agung Demak," jelas Rifai.
Bedug ini masih terjaga keasliannya dan digunakan hingga kini, menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan keagamaan di masjid.
Kegiatan Keagamaan dan Budaya yang Tetap Hidup
Masjid Ki Ageng Selo tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan dan budaya.
Selama bulan Ramadan, masjid ini ramai dengan kegiatan salat tarawih, tadarus Alquran, kajian agama, dan salat malam.
Pada hari-hari besar Islam, seperti malam Nuzulul Quran, diadakan pengajian umum yang dihadiri oleh warga sekitar.
Selain itu, terdapat kegiatan rutin yang dilakukan setiap selapan (35 hari) sekali, seperti kataman Alquran, istigfar akbar, dan pengajian umum.
Pada peringatan tahun baru Jawa (malam Suro), diadakan istigosah, kirab budaya, dan pengajian umum.
Pusaka berupa keris dan tombak yang disimpan di dalam makam juga diarak keliling selama acara tersebut, menambah nuansa sakral dan historis.
Warisan yang Tetap Dijaga
Kompleks Makam Ki Ageng Selo dan Masjid Jami Ki Ageng Selo menjadi bukti nyata betapa warisan budaya dan religi dapat bertahan melintasi zaman.
Kisah Ki Ageng Selo sebagai penangkap petir, bedug kembar, pohon gandri, dan lemari api petir menjadi cerita yang terus hidup di tengah masyarakat.
Keberadaan tempat ini tidak hanya penting secara historis, tetapi juga menjadi simbol kekuatan spiritual dan kebersamaan masyarakat Grobogan.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Grobogan, kompleks Makam Ki Ageng Selo dan Masjid Jami Ki Ageng Selo adalah destinasi yang wajib dikunjungi.
Di sini, sejarah, legenda, dan keindahan arsitektur kuno menyatu dalam harmoni yang memesona. (mun)
Editor : Mahendra Aditya