PATI – Aksi demo 13 Agustus di Kabupaten Pati berlangsung memanas. Diketahui aksi ini digelar untuk menindaklanjuti “undangan” dari Bupati Pati, Sudewo.
Yaitu terkait aspirasi masyarakat soal penurunan tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang sebelumnya naik hingga 250 persen
Meski begitu, sebelum aksi ini berlangsung, Bupati Sudewo telah mengabulkan dua tuntutan utama warga.
Pertama, pembatalan kenaikan tarif PBB-P2. Kedua, pembatalan kebijakan sekolah lima hari dan mengembalikan sistem sekolah enam hari dalam sepekan.
Rabu (13/8) siang, terlihat demonstran melempari petugas yang berjaga di halaman dengan botol air mineral, hingga memenuhi halaman kantor Bupati Pati.
Kericuhan itu pecah usai massa aksi mendesak Bupati Sudewo agar keluar untuk menemuai demonstran. Kericuhan pecah sekitar pukul 11.00 WIB.
Kejadian ini terjadi usai orasi Cak Soleh, perwakilan peserta aksi dari Jawa Timur. Ia menyerukan agar momentum ini menjadi wadah advokasi untuk isu-isu lain, seperti penggusuran.
Massa terus mendorong pagar kantor Bupati dan memaksa untuk masuk. Namun petugas yang berjaga kemudian gas air ke massa aksi.
Sebelumnya, massa juga membuat kericuhan dengan merusak pagar kawat berduri.
Bahkan kondisi sempat memanas lantan polisi berupaya memindahkan truk kontainer yang sengaja diparkir di depan gerbang kantor bupati Pati.
Massa sengaja memarkir truk kontainer tersebut di Alun-alun Pati untuk dijadikan panggung utama saat melakukan orasi.
Kemudian, polisi dalam mobil komando mengumuman kepada sopir untuk memindahkan truk yang diparkir di depan gerbang kantor bupati.
“Jika tidak segera dipindahkan akan kita derek,” ucap polisi dengan nada tegas.
Editor : Ali Mustofa