Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Persipal FC “Mengungsi” ke Solo Selama Bulan Puasa pada Liga 2 Putaran Ketiga

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 12 Februari 2026 | 17:51 WIB

 

Rensa pemain Persipal Palu yang mencetak gol ke gawang Persiku lewat titik putih
Rensa pemain Persipal Palu yang mencetak gol ke gawang Persiku lewat titik putih

RADAR KUDUS - Putaran ketiga Pegadaian Championship 2025/26 menjadi fase yang menentukan arah langkah Persipal FC.

Bagi klub asal Palu ini, babak krusial tersebut bukan hanya soal taktik di lapangan, melainkan juga keputusan logistik yang berdampak langsung pada performa tim.

Alih-alih kembali ke kandang sendiri usai laga tandang perdana, Persipal memilih jalan berbeda.

Klub berjuluk Laskar Tadulako memutuskan menetap di Solo, Jawa Tengah, dan menjadikan Stadion Sriwedari sebagai markas sementara—bahkan untuk dua laga yang secara status merupakan pertandingan kandang.

Keputusan ini menempatkan Persipal dalam situasi unik: bermain sebagai tuan rumah, tetapi jauh dari rumah sendiri.

Baca Juga: Format Baru Liga 2 Championship 2025–2026, Jadwal, Hasil dan Klasemen Hingga Analisa TIm Promosi dan Degradasi


Awal Perjalanan: Tandang Dulu, Home Menyusul di Kota yang Sama

Rombongan Persipal dijadwalkan bertolak ke Solo pada 13 Februari 2026. Laga tersebut menjadi pembuka perjuangan mereka di putaran ketiga Liga 2.

Namun, alih-alih kembali ke Palu setelah pertandingan tandang, manajemen memilih untuk tetap bertahan di Kota Bengawan.

Dua laga berikutnya—yang seharusnya digelar di Stadion Gawalise—dipastikan tetap berlangsung di Solo.

Persipal akan menjamu Persiba Balikpapan (23 Februari 2026) dan Persiku Kudus (28 Februari 2026), dengan kick-off pukul 21.30 WIB, menyesuaikan jadwal malam selama bulan Ramadan.

Secara kalender, ini berarti Persipal menjalani tiga pertandingan beruntun di kota yang sama, meski statusnya berbeda-beda.

Baca Juga: Jejak Panjang Kerusuhan Persik vs PSIM 2019: Mengapa Persik Terus Terbuang dari Stadion Brawijaya


Bukan Sekadar Soal Lampu Stadion

Manajer Persipal FC, Jely Rompas, menjelaskan bahwa keputusan tersebut bukan diambil secara impulsif. Faktor utama memang berkaitan dengan kesiapan infrastruktur Stadion Gawalise, khususnya pencahayaan.

“Standar pencahayaan stadion masih di angka sekitar 600 lux. Sementara laga malam membutuhkan standar yang lebih tinggi,” ujarnya.

Namun jika ditelisik lebih jauh, persoalan ini tidak berdiri sendiri. Bulan Ramadan membawa konsekuensi jadwal malam, sementara peningkatan fasilitas stadion membutuhkan waktu dan biaya yang tidak kecil.

Daripada mengambil risiko teknis dan administratif, Persipal memilih opsi yang paling aman secara regulasi.

Baca Juga: Statistik & Head-to-Head: Persijap Jepara vs Malut United, Analisis Data & Fakta di BRI Super League


Efisiensi Anggaran Jadi Pertimbangan Kunci

Di balik alasan teknis, terdapat kalkulasi finansial yang tak kalah penting. Bermain di Palu tanpa penonton—akibat regulasi atau keterbatasan tertentu—dinilai tidak memberi keuntungan kompetitif maupun ekonomis.

“Kalau main di Palu tapi tetap tanpa penonton, secara manfaat hampir sama. Jadi kami ambil opsi yang lebih efisien,” kata Jely.

Dengan menetap di Solo, Persipal memang menanggung biaya akomodasi yang lebih panjang. Namun di sisi lain, mereka memangkas ongkos perjalanan pulang-pergi Palu–Jawa dalam waktu berdekatan.

Dalam kompetisi yang ketat dan panjang, efisiensi menjadi bagian dari strategi bertahan.


Markas Netral, Tekanan Berkurang?

Bermain di kandang sendiri biasanya identik dengan tekanan ekspektasi. Dalam kondisi tertentu, justru markas “netral” bisa memberi keuntungan psikologis.

Tanpa sorakan berlebihan atau tuntutan publik lokal, pemain bisa lebih fokus menjalankan instruksi pelatih. Situasi ini berpotensi mengurangi beban mental, terutama di fase kompetisi yang menuntut konsistensi.

Solo, dengan fasilitas stadion yang siap dan ritme kota sepak bola yang hidup, dianggap cukup kondusif untuk menjaga fokus tim.

Baca Juga: Prediksi Skor Persijap vs Malut United, Laskar Kalinyamat Belum Konsisten?


Ramadan dan Ritme Pertandingan Malam

Putaran ketiga Liga 2 bertepatan dengan bulan puasa. Jadwal malam hari usai tarawih menuntut adaptasi fisik dan mental ekstra.

Dengan menetap di satu kota, Persipal memiliki keuntungan dalam hal pengaturan recovery, latihan ringan, dan pola makan. Tim medis dan pelatih fisik dapat menyusun program yang lebih stabil tanpa terganggu jadwal perjalanan panjang.

Dalam konteks ini, Solo bukan sekadar tempat bertanding, melainkan basis persiapan terpusat.


Risiko Tetap Ada, Keuntungan Tak Otomatis

Meski terlihat rasional, keputusan ini tetap mengandung risiko. Persipal kehilangan dukungan langsung suporter Palu di dua laga kandang penting. Selain itu, status “home” menjadi relatif ketika tribun tidak sepenuhnya berpihak.

Namun di sisi lain, lawan juga tidak mendapatkan keuntungan penuh sebagai tim tandang karena atmosfer stadion bersifat netral.

Situasi ini menjadikan pertandingan lebih bergantung pada kualitas permainan, bukan faktor eksternal.


Tiga Laga, Satu Kota, Satu Fokus

Putaran ketiga sering kali menjadi titik balik musim. Dalam rentang waktu singkat, hasil tiga pertandingan bisa menentukan apakah sebuah tim bertahan di jalur promosi atau justru terperosok.

Dengan memilih Solo sebagai basis sementara, Persipal menaruh taruhan besar pada stabilitas dan kontinuitas. Tidak ada distraksi perjalanan, tidak ada adaptasi stadion yang berulang, hanya satu target: mengamankan poin maksimal.


Keputusan Realistis di Tengah Keterbatasan

Langkah Persipal mencerminkan wajah klub-klub Liga 2 Indonesia yang harus kreatif di tengah keterbatasan. Bukan dengan gebrakan besar, melainkan lewat keputusan realistis yang meminimalkan risiko.

Di fase ini, keberanian bukan selalu soal menyerang, tapi juga soal memilih bertahan di posisi paling aman.

Persipal FC memang tidak pulang ke Palu untuk sementara waktu. Namun keputusan tersebut bukan bentuk pengorbanan tanpa arah. Ini adalah strategi nomaden yang terencana—lahir dari kompromi antara regulasi, efisiensi, dan kebutuhan kompetitif.

Putaran ketiga akan menjadi ujian apakah langkah ini tepat. Jika hasil berpihak, Solo bisa dikenang sebagai kota yang menyelamatkan musim Persipal.

Editor : Mahendra Aditya
#Putaran ketiga Pegadaian Championship #Persipal #RANS Nusantara lolos Liga 2 #Persipal Palu FC #daftar pemain asing Liga 2 2026 #Pegadaian Championship #Putaran Ketiga #Jadwal Liga 2 Putaran Ketiga #jadwal putaran ketiga liga 2 #Stadion Gawalise Palu #promosi Liga 2 Championship 2026 #Liga 2 #putaran ketiga liga 2