RATCHABURI – Momen yang sempat dinanti Bobotoh akhirnya datang. Layvin Kurzawa resmi menjalani debut bersama Persib Bandung di ajang AFC Champions League Two (ACL 2) 2025/2026. Bek kiri berpengalaman asal Prancis itu masuk pada menit ke-82 menggantikan Dewa ngga.
Namun alih-alih menjadi titik balik, laga justru makin menjauh dari harapan Maung Bandung.
Tak lama setelah Kurzawa menginjak rumput Dragon Solar Park, Persib kembali kebobolan. Dan lagi-lagi, sosok yang menghukum adalah Pedro Tana.
Gol Ketiga: Chop Pass Cantik, Finishing Dingin Tana
Gol ketiga Ratchaburi tercipta dari skema serangan cepat yang memperlihatkan perbedaan efektivitas kedua tim malam itu.
Ratchaburi membangun serangan dari lini tengah. Sebuah umpan terobosan dengan teknik chop—sedikit melambung namun terukur—membelah garis pertahanan Persib yang mulai naik terlalu tinggi.
Pedro Tana melakukan pergerakan coming from behind, lolos dari kawalan bek, lalu dengan tenang mengeksekusi peluang di hadapan Teja Paku Alam.
Sentuhan akhirnya bersih. Finishing dingin. Tanpa panik.
Skor berubah menjadi 3-0 untuk Ratchaburi.
Live Score Terkini
Menit 82+
Ratchaburi FC 3–0 Persib Bandung
⚽ Pedro Tana (5’)
⚽ Gabriel Mutombo Kupa (53’)
⚽ Pedro Tana (±83’)
Pedro Tana resmi mencetak brace dan menjadi mimpi buruk lini belakang Persib di leg pertama babak 16 besar.
Debut Kurzawa di Tengah Tekanan
Masuknya Layvin Kurzawa sejatinya menjadi sorotan tersendiri. Mantan pemain yang punya pengalaman di Ligue 1 dan kompetisi Eropa itu diharapkan bisa memberi stabilitas dan kualitas umpan dari sisi kiri.
Keputusan Bojan Hodak memasukkannya pada menit ke-82 menunjukkan bahwa Persib tetap mencoba mencari momentum, meski tertinggal dua gol.
Namun waktu yang tersisa sangat sempit. Dan sebelum Kurzawa benar-benar beradaptasi dengan tempo pertandingan, Ratchaburi sudah lebih dulu menambah keunggulan.
Debut yang seharusnya menjadi catatan manis, berubah menjadi bagian dari malam yang berat.
Garis Pertahanan Terlalu Tinggi, Risiko Terlalu Besar
Gol ketiga memperlihatkan persoalan klasik saat tim tertinggal dan mencoba mengejar: garis pertahanan dinaikkan, ruang di belakang terbuka.
Ratchaburi membaca situasi itu dengan sangat baik. Mereka tidak lagi memaksakan crossing seperti di babak pertama, tetapi beralih ke direct through pass cepat ke ruang kosong.
Umpan chop yang dilepaskan gelandang tuan rumah bukan sekadar indah, tapi juga cerdas. Bola melampaui bek, jatuh tepat di jalur lari Tana.
Coming from behind, Tana unggul sepersekian detik—dan di level Asia, itu sudah cukup.
Pedro Tana: Pembeda Sesungguhnya
Dari berbagai laporan jelang laga, Pedro Tana memang disebut sebagai pemain paling berbahaya Ratchaburi. Tapi malam ini ia tak hanya berbahaya—ia menentukan.
Dua gol:
Satu dari posisi enam yard di menit awal.
Satu lagi dari skema terobosan cepat di babak kedua akhir.
Ia menunjukkan paket lengkap seorang striker Asia modern: insting ruang, timing lari, dan penyelesaian klinis.
Persib memberi terlalu banyak ruang. Dan Tana memanfaatkan semuanya.
Ujian Berat Jelang Leg Kedua
Tertinggal 0-3 di leg pertama jelas membuat tugas Persib di leg kedua semakin berat. Dalam format dua leg, margin tiga gol adalah jarak yang tidak mudah dikejar, bahkan di kandang sendiri.
Kini fokus bukan lagi sekadar mengejar satu gol balasan, tetapi menjaga mental dan struktur tim agar tidak semakin runtuh di sisa pertandingan.
Bagi Kurzawa, debut ini mungkin bukan yang diharapkan. Namun untuk Persib secara keseluruhan, laga ini menjadi pengingat keras bahwa di level Asia, efektivitas adalah segalanya.
Dan malam ini, efektivitas itu sepenuhnya milik Ratchaburi—dengan Pedro Tana sebagai aktor utama.
Editor : Mahendra Aditya