Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tragedi Anak SD di Ngada, NTT: Diduga Bunuh Diri karena Tak Bisa Beli Buku dan Pulpen

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 5 Februari 2026 | 11:02 WIB
 Politikus PDIP Budiman Sudjatmiko.
 Politikus PDIP Budiman Sudjatmiko.

RADAR KUDUS - Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR (10 tahun) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan tewas karena bunuh diri dengan cara menggantung diri pada pohon cengkeh di kebun neneknya pada hari Kamis (29/1/2026).

Diduga, ini disebabkan oleh kekecewaan karena ibunya tidak mampu membeli buku dan pulpen seharga Rp10 ribu yang dimintanya malam sebelumnya.

Korban tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun dalam sebuah pondok bambu sederhana berukuran 2x3 meter, sementara ibunya yang mengurus lima anak hidup terpisah karena kondisi ekonomi yang sangat sulit setelah perpisahan dengan suaminya sepuluh tahun lalu.

Polisi menemukan sebuah surat wasiat yang ditulis tangan oleh korban dalam bahasa daerah Ngada di lokasi kejadian.

Surat itu ditujukan untuk ibunya, berisi permintaan maaf dan harapan agar tidak meratapi kepergiannya, yang melihatkan beban psikologis yang dialaminya.

Peristiwa ini segera mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk Polda NTT yang mengirimkan tim psikolog dan konselor untuk mendampingi keluarga korban serta menyelidiki motifnya melalui pemeriksaan tempat kejadian perkara.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyebut kejadian ini sebagai kegagalan berbagai faktor yang melibatkan pemerintah daerah, sementara Menteri PPPA Arifah Fauzi menekankan pentingnya memperkuat program Kabupaten Layak Anak (KLA) untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi anak-anak.

Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko meminta maaf secara pribadi karena program Sekolah Rakyat tidak dapat menjangkau semua anak yang mengalami kemiskinan ekstrem secara tepat waktu.

Ia juga meminta Pemkab Ngada untuk segera memperbaiki kondisi ekonomi dan kesehatan mental keluarga yang terdampak, dengan mencatat bahwa lahan seluas 6 hektar telah disediakan untuk SR.

Tragedi ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk menangani kemiskinan struktural dan menjadikan kesehatan mental anak sebagai prioritas.

Anggota DPR RI Habib Syarief mendorong Kemendikdasmen untuk menyelidiki secara tuntas serta memastikan pemerataan fasilitas pendidikan di daerah terpencil.

Menteri Sosial Syaifullah Yusuf menegaskan perlunya pembaruan data mengenai keluarga miskin ekstrem untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Kasus YBR menyoroti pentingnya akses pendidikan gratis serta bantuan alat tulis bagi anak-anak yang kurang beruntung agar hak-hak dasar mereka dapat terpenuhi tanpa menimbulkan rasa putus asa. (Anita F)

Editor : Ali Mustofa
#ntt #budiman sudjatmiko #anak sd bunuh diri