Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

BMKG Sudah Bilang, Jangan Cuekin! Bibit Siklon 93S Bisa Bawa Cuaca Ekstrem ke Jawa-Bali-NTT

Mahendra Aditya Restiawan • Sabtu, 13 Desember 2025 | 00:57 WIB
Ilustrasi cuaca ekstrem akibat Bibit Siklon Tropis
Ilustrasi cuaca ekstrem akibat Bibit Siklon Tropis

RADAR KUDUS - Gelombang cuaca ekstrem kembali mengintai kawasan timur Indonesia.

Dari Samudra Hindia, sebuah sistem bibit siklon bernama 93S mulai membangun kekuatan dan mengirimkan tanda-tanda bahaya menuju wilayah NTT, Bali, hingga pesisir selatan Jawa.

Di tengah dinamika atmosfer yang terus berubah, Komisi V DPR RI mengingatkan pemerintah agar tidak terpeleset dalam sikap abai.

Peringatan itu disampaikan langsung oleh Wakil Ketua Komisi V DPR, Syaiful Huda, yang menegaskan bahwa ancaman ini harus diperlakukan dengan pendekatan ilmiah, bukan sekadar menunggu laporan bencana terjadi.

Ia mengingatkan bahwa pengalaman buruk bencana hidrometeorologi pekan lalu di Sumatera tidak boleh kembali terulang hanya karena kelalaian antisipasi.

“Kita perlu menghadapi peringatan BMKG dengan serius. Jangan ada sikap denial,” ujar Huda, mengingatkan bahwa fenomena atmosfer seperti bibit siklon tidak mengenal kompromi bagi siapa pun yang tidak siap.

Baca Juga: Ancaman ‘Senyar Baru’? Pakar BRIN Ungkap Potensi Bahaya Bibit Siklon 93S

Dampak 93S Mulai Terlihat: Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Gelombang Tinggi

BMKG sebelumnya telah memetakan potensi dampak 93S, mulai dari curah hujan intensitas sedang hingga sangat deras di wilayah Bali, NTB, NTT, hingga sebagian pesisir Jawa.

Sistem ini, meski belum terorganisasi sempurna, cukup kuat untuk memicu gangguan cuaca skala luas.

Menurut analisis BMKG, kecepatan angin maksimum di sekitar pusat sistem mencapai 15 knot (28 km/jam) dengan tekanan minimum 1009 hPa.

Awan konvektif yang belum terstruktur membuat penguatan sistem berlangsung lambat, namun bukan berarti ancaman bisa diabaikan.

Selain hujan ekstrem, bibit siklon ini juga dapat mengangkat gelombang tinggi 1,25–2,5 meter, terutama di:

Bagi nelayan, warga pesisir, dan operator pelayaran, situasi ini merupakan alarm yang tidak boleh diacuhkan.

Daerah Rawan Banjir & Longsor Harus Masuk Prioritas

Huda menekankan bahwa hujan dalam durasi panjang dan intensitas tinggi merupakan pemicu klasik sejumlah bencana: banjir bandang, meluapnya sungai, hingga longsor lereng.

Bali, NTB, dan NTT dikenal memiliki morfologi wilayah yang cukup rentan terhadap pergerakan tanah saat saturasi air meningkat.

“Potensi banjir dan longsor bisa muncul sewaktu-waktu. Warga di daerah rawan harus mendapat perhatian khusus,” tegasnya.

Ia merujuk pada tragedi yang sebelumnya menimpa Aceh, Sumbar, dan Sumut—serangkaian bencana yang terjadi hampir beruntun akibat cuaca ekstrem. Huda menilai pemerintah tidak boleh menunggu hingga deretan daerah lain menyusul menjadi korban.

Butuh Sistem Peringatan Dini Berlapis: Dari Sirene sampai Kentongan

Salah satu sorotan Huda adalah kurang meratanya sistem peringatan dini di wilayah rawan bencana. Ia menilai kolaborasi pemerintah pusat dan daerah masih perlu diperkuat, terutama dalam penyebaran informasi cepat.

“Early warning harus berbasis kearifan lokal. Kalau sirene belum tersedia, gunakan pengeras suara masjid atau bahkan kentongan. Yang penting warga mendapat tanda bahaya secepat mungkin,” ujarnya.

Langkah mitigasi sederhana seperti itu diyakini dapat menyelamatkan banyak jiwa, terutama pada malam hari saat curah hujan tinggi terjadi secara tiba-tiba.

Pemerintah Diminta Siapkan Titik Evakuasi yang Jelas dan Mudah Diakses

Selain peringatan dini, Huda mendesak pemerintah menyiapkan titik-titik evakuasi yang mudah dicapai warga. Menurutnya, banyak korban bencana sebelumnya terjebak karena tidak tahu ke mana harus bergerak saat debit air meningkat atau saat tanah mulai bergeser.

Pemerintah daerah, katanya, harus memiliki peta jalur evakuasi, lokasi pengungsian sementara, dan relawan yang siaga 24 jam. Dalam situasi cuaca ekstrem, waktu adalah faktor paling krusial.

“Warga harus diarahkan ke titik aman sebelum situasi benar-benar memburuk,” kata Huda.

BMKG: Sistem Masih Lemah, tapi Pergerakan Cuaca Harus Dipantau Ketat

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa meski struktur 93S belum sepenuhnya terbentuk menjadi siklon tropis, tanda-tanda intensifikasi tetap harus dipantau. Siklon tropis kerap tumbuh cepat ketika tekanan udara menurun dan suhu permukaan laut meningkat.

Karena itu, BMKG mendorong semua pihak terus memperbarui informasi cuaca, terutama bagi wilayah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap angin kencang dan hujan ekstrem.

Peringatan terkait bibit siklon 93S bukan sekadar pesan rutin dari BMKG. DPR menilai tanda bahaya ini harus direspons cepat oleh pemerintah, masyarakat, hingga aparat lokal agar tidak ada lagi wilayah yang terkejut oleh bencana hidrometeorologi mendadak.

Ketika langit mulai pekat dan angin berubah arah, waktu mitigasi hanya tersisa sedikit. Dalam situasi inilah informasi, kesiapan, dan respons cepat menjadi kunci keselamatan banyak orang.

Editor : Mahendra Aditya
#Cuaca Ekstrem Jawa Bali NTT #Prediksi BRIN #cuaca ekstrem #mitigasi bencana #Bibit Siklon 93S #Bibit Siklon Tropis 93S #bmkg #peringatan bmkg