RADAR KUDUS - Rabu (12/11/2025) dini hari menjadi momen yang menggetarkan bagi warga Kepulauan Aru, Maluku. Sekitar pukul 04.23 WIB, bumi tiba-tiba bergetar cukup kuat. Getaran terasa nyata di dalam rumah, membuat banyak warga terbangun dalam kepanikan.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut memiliki kekuatan magnitudo 5,5 dan berpusat di laut, tepatnya 59 kilometer barat laut Kepulauan Aru pada kedalaman 32 kilometer.
Sumber Gempa Berasal dari Zona Graben Aru
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa gempa ini termasuk jenis gempa dangkal yang disebabkan oleh aktivitas deformasi kerak bumi di Zona Graben Aru — salah satu wilayah sesar aktif di kawasan timur Indonesia.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault,” ujar Daryono dalam keterangan resminya.
Fenomena ini terjadi akibat pergeseran lempeng di bawah laut, yang memicu tekanan pada kerak bumi hingga akhirnya melepaskan energi besar berupa getaran.
Getaran Terasa di Dobo, Warga Rasakan Rumah Bergoyang
Dampak gempa paling terasa di Dobo, ibu kota Kepulauan Aru. Menurut skala MMI (Modified Mercalli Intensity), gempa dirasakan pada tingkat III MMI, yang berarti getarannya cukup kuat dan bisa dirasakan jelas di dalam rumah.
“Warga menggambarkan getaran seperti truk besar yang melintas di dekat rumah,” tulis BMKG dalam laporan awal.
Meski begitu, BMKG menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami, karena pusat gempa berada di kedalaman sedang dan mekanismenya berupa patahan turun, bukan pergerakan naik seperti pada gempa pembentuk tsunami.
BMKG: Belum Ada Gempa Susulan
Hingga pukul 04.47 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan tidak ada aktivitas gempa susulan (aftershock) di wilayah sekitar episenter. Namun, Daryono mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan gempa lanjutan.
“Pastikan informasi hanya diperoleh dari sumber resmi seperti BMKG. Jangan percaya isu liar atau kabar tidak jelas yang menimbulkan kepanikan,” tegasnya.
Masyarakat juga diminta memeriksa kondisi rumah masing-masing, terutama jika terdapat retakan atau kerusakan struktural akibat getaran gempa. Jika ditemukan tanda-tanda kerusakan yang membahayakan, warga diimbau tidak kembali ke dalam rumah sebelum ada kepastian aman.
Respons dan Kesiapsiagaan Warga
Warga Kepulauan Aru mengaku sempat panik dan berhamburan keluar rumah saat gempa terjadi. Beberapa orang menyebutkan bahwa perabot rumah bergoyang, dan sebagian kecil mengalami kerusakan ringan pada dinding.
“Saya pikir tsunami, langsung lari keluar rumah sambil bawa anak-anak,” ujar Rasyid, warga Dobo, yang ditemui usai kejadian.
Meski demikian, situasi berangsur tenang setelah BMKG merilis pernyataan resmi bahwa gempa tidak menimbulkan ancaman tsunami.
Aparat setempat dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga langsung turun ke lapangan untuk memastikan keamanan warga serta mengecek infrastruktur penting seperti sekolah, pelabuhan, dan fasilitas kesehatan.
Maluku, Wilayah Aktif Seismik yang Perlu Waspada
Kepulauan Aru dan wilayah sekitarnya memang dikenal sebagai zona rawan gempa karena posisinya yang berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia: Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia.
Kondisi tektonik ini membuat aktivitas gempa di kawasan tersebut sering terjadi, baik dengan magnitudo kecil maupun sedang.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana, terutama di wilayah pesisir. Rumah dan fasilitas publik diharapkan dibangun dengan struktur tahan gempa, sementara masyarakat perlu memahami prosedur evakuasi darurat jika gempa besar kembali terjadi.
Tetap Waspada, Jangan Panik
Gempa berkekuatan 5,5 SR di Kepulauan Aru menjadi pengingat bahwa Indonesia, sebagai negara di jalur “Cincin Api Pasifik”, harus selalu siap menghadapi potensi bencana alam.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, namun waspada, serta memastikan sumber informasi hanya dari kanal resmi seperti aplikasi BMKG, media terpercaya, atau lembaga pemerintah daerah.
Dengan disiplin dan kesiapsiagaan, ancaman bencana seperti gempa tidak harus selalu menjadi malapetaka. Sebaliknya, bisa menjadi pengingat untuk terus membangun masyarakat yang tangguh dan sadar bencana.
Editor : Mahendra Aditya