RADAR KUDUS - Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh aksi penggemar berat anime One Piece, yang kerap disebut “nakama” di kalangan wibu (sebutan populer untuk fans budaya Jepang).
Setelah sebelumnya sempat viral pengibaran bendera Jolly Roger milik kru Topi Jerami, kini sebuah gebrakan baru kembali muncul.
Kali ini bukan bendera bajak laut, melainkan simbol dari musuh besar dalam cerita: bendera World Government.
Video yang memperlihatkan pengibaran bendera itu pertama kali diunggah oleh akun TikTok bernama @bonsqiw, dan langsung menyita perhatian ribuan pengguna.
Yang menarik, bendera yang dikibarkan bukan sekadar replika biasa. Terdapat lubang-lubang besar di permukaannya, meniru adegan ikonik dalam seri anime dan manga One Piece pada arc Enies Lobby.
Baca Juga: Bolehkan Bendera One Piece Dikibarkan di Indonesia? Ini Penjelasan Pakar Hukum Tata Negara
Menghidupkan Momen Legendaris One Piece
Referensi yang digunakan sangat kuat. Dalam cerita One Piece, terdapat sebuah adegan penuh emosi saat Luffy dan anggota kru Topi Jerami secara terang-terangan menantang World Government.
Momen ini menjadi simbol perlawanan ketika mereka berusaha menyelamatkan Nico Robin, salah satu karakter penting dalam kru.
Saat itulah, bendera World Government yang berkibar di atas gedung dibakar dan ditembus peluru meriam. Tindakan itu bukan hanya serangan fisik, melainkan juga simbol kuat penolakan terhadap ketidakadilan dan penindasan.
Kini, momen penuh makna itu diangkat kembali oleh penggemar sebagai bentuk penghormatan sekaligus ekspresi artistik terhadap jalan cerita One Piece yang telah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang.
Baca Juga: Bendera One Piece Dituding jadi Ancaman Nasional! Media Asing Ikut Berkomentar
Lebih dari Sekadar Hiburan, Ini Ekspresi Budaya Pop
Aksi ini menuai berbagai reaksi di media sosial. Sebagian netizen menyambutnya dengan antusias, menganggap bahwa aksi pengibaran bendera World Government yang berlubang adalah bentuk ekspresi budaya pop yang kreatif dan mendalam.
Banyak juga yang menyebut bahwa referensi ini hanya bisa dimengerti oleh “nakama sejati”—yakni mereka yang benar-benar mengikuti alur cerita dari awal hingga sekarang.
Namun tidak sedikit pula yang mempertanyakan konteks dan relevansinya, mengingat bendera tersebut mewakili institusi fiktif yang dalam ceritanya dikenal otoriter dan korup.
Walau begitu, mayoritas warganet menyikapinya sebagai bentuk apresiasi yang sah terhadap karya fiksi, apalagi jika tidak disertai maksud negatif atau tindakan yang melanggar hukum.
Pesan Tersembunyi di Balik Aksi Ini?
Kreativitas para penggemar One Piece memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Mengangkat simbol dari dunia fiksi ke ranah nyata seringkali dimaknai lebih dari sekadar hobi.
Ada semacam keterikatan emosional dan refleksi terhadap nilai-nilai yang diangkat dalam cerita.
Dalam hal ini, aksi membentangkan bendera World Government yang berlubang bisa ditafsirkan sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan, kebijakan otoriter, atau semangat membela kebenaran—pesan-pesan yang memang menjadi inti dari One Piece.
Walau belum ada keterangan resmi dari pengunggah video soal makna di balik aksinya, namun diskusi yang muncul di kolom komentar TikTok dan platform lain menunjukkan bahwa banyak yang memaknainya secara mendalam.
Baca Juga: Viral Bendera One Piece Dikibarkan Warga di Indonesia, Pemerintah Beri Peringatan Begini
Fenomena Global Fandom One Piece
One Piece bukan sekadar anime biasa. Karya dari mangaka Eiichiro Oda ini telah tayang sejak 1999 dan hingga kini masih terus berlanjut.
Dengan alur cerita yang kuat, karakter kompleks, serta dunia yang luas, One Piece telah membangun komunitas penggemar yang loyal dan kreatif di seluruh dunia.
Dari cosplay, fan art, merchandise, hingga aksi-aksi seperti pengibaran bendera ini, fandom One Piece telah berkembang menjadi fenomena budaya pop global.
Aksi pengibaran bendera World Government ini menjadi salah satu contoh bagaimana cerita fiksi dapat merembes ke dunia nyata dan menjadi medium ekspresi yang kuat.
Bahkan, di luar Jepang, banyak penggemar di Indonesia, Amerika Serikat, Eropa, dan Asia lainnya yang ikut merayakan One Piece sebagai bagian dari identitas budaya mereka.
Editor : Mahendra Aditya