Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bukan Tren? Ini 5 Masalah Utama Kenapa Banyak Orang Masih Malas Membaca

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 4 Juli 2025 | 15:44 WIB

Ilustrasi buku (Foto: Shawn Reza/Pexels)
Ilustrasi buku (Foto: Shawn Reza/Pexels)

RADAR KUDUS – Di era digital seperti sekarang, akses informasi begitu terbuka lebar. Namun ironisnya, budaya membaca masih menjadi tantangan besar, terutama di kalangan generasi milenial dan Gen Z.

Meski sudah hidup berdampingan dengan teknologi dan informasi, kebiasaan membaca belum sepenuhnya menjadi gaya hidup. Lalu, apa penyebabnya?

1. “Gak Ada Waktu” Jadi Alasan Klise

Banyak orang merasa 24 jam sehari tidak cukup. Aktivitas seperti scrolling TikTok, streaming film, atau bermain game sering kali mendominasi waktu luang.

Padahal, menyisihkan 10–15 menit per hari sudah cukup untuk membangun kebiasaan membaca. Solusinya adalah micro reading habit, seperti membaca 2 halaman saat menunggu ojek online atau antre kopi.

2. Membaca Dianggap Aktivitas “Serius” dan Ngebosenin

Generasi sekarang cenderung menyukai visual dan konten cepat cerna. Buku dianggap kaku dan melelahkan. Tapi, ini sebenarnya masalah mindset.

Jika dimulai dari bacaan yang ringan, relatable, dan dikemas kreatif seperti novel fiksi populer, komik edukatif, atau konten interaktif digital, membaca bisa jadi menyenangkan.

3. Disrupsi Teknologi, Teman atau Musuh?

Sebenarnya teknologi bukan musuh membacatapi distraksinya yang jadi tantangan. Notifikasi, scrolling media sosial, dan konten viral membuat otak terbiasa pada stimulasi cepat. Coba teknik “digital fasting” saat membaca, atau manfaatkan aplikasi pembaca seperti Kindle, Storytel, atau Google Books untuk membiasakan membaca digital.

4. Bacaan Kurang Terjangkau dan Tidak Familiar

Beberapa orang tidak terbiasa dengan dunia buku sejak kecil. Tidak semua keluarga atau sekolah menyediakan akses yang cukup ke bahan bacaan yang layak dan menarik. Alternatifnya, e-book gratis dan pustaka digital kini tersedia luas, dari aplikasi iPusnas, Wattpad, hingga audiobook di Spotify dan YouTube.

5. Tidak Ada Role Model Membaca di Sekitar

Budaya membaca tidak bisa tumbuh jika tidak ada yang memulainya. Anak muda lebih mungkin mengikuti tren influencer ketimbang guru atau orang tua. Maka, munculnya kreator konten literasi di TikTok dan Instagram jadi potensi besar. Komunitas digital juga bisa menjadi tempat untuk berbagi bacaan dan membentuk identitas pembaca kekinian.

Kenapa Kita Harus Peduli?

Kebiasaan membaca bukan soal berapa banyak buku yang dibaca, tapi soal kedalaman berpikir, daya nalar, dan kedewasaan cara pandang.
Berikut dampak positifnya:

Langkah Kecil yang Berdampak Besar

Mulailah dari:

Membaca Itu Gaya Hidup, Bukan Tugas

Membaca seharusnya bukan beban, melainkan jendela yang memperluas cakrawala. Artinya, membaca bukan aktivitas yang melelahkan atau membosankan, tapi justru sarana untuk melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas bahkan tanpa harus bepergian.

Dari satu halaman buku, kita bisa menjelajahi sejarah, memahami emosi manusia, atau mengasah logika berpikir.

Mari kita ubah narasi “membaca itu berat” menjadi “membaca itu keren”. Selama ini, membaca sering dikaitkan dengan hal akademik atau “tugas pelajar”, padahal membaca adalah gaya hidup orang-orang berpikiran maju.

Anak muda harus mulai melihat membaca sebagai sesuatu yang inspiratif dan stylish layaknya tren yang layak dibanggakan di media sosial.

Karena otak yang terisi lebih baik dari sekadar gawai yang terus diisi. Dalam dunia digital, kita terbiasa mengisi ponsel dengan data, konten, dan aplikasi.

Tapi seberapa sering kita mengisi pikiran kita dengan pengetahuan yang mencerahkan? Otak yang dipenuhi wawasan akan jauh lebih berguna dan tahan terhadap informasi yang menyesatkan. (Labib Azka)

Editor : Mahendra Aditya
#baca buku #solusi #minim literasi