Ia mengatakan, istilah terapi kretek-kretek juga biasa disebut chiropractice. Chiropractice sendiri berasal dari Amerika Serikat. ”Saya pakainya tairoparactice, karena guru saya asal Thailand. Tairopractice sendiri ada proses pelemasan otot terlebih dahulu. Kalau chiropractice tidak ada,” katanya.
Dia menjelaskan, terapi kretek-kretek sendiri diperlukan untuk beberapa keluhan. Di antaranya masalah stroke ringan, pelo, penderita parkinson (ndredek terus) dengan langkah kecil, saraf kejepit, serta sakit punggung dan pinggang.
”Kebanyakan pasien saya mengeluhkan masalah punggung. Terutama yang masih muda-muda. Terapi ini sendiri bisa untuk pasien dengan usia 5 hingga 70 tahun,” jelasnya.
Hal-hal khusus yang perlu dipersiapkan pasien sebelum dan sesudah terapi pun tidak ada. Namun, ia mengimbau setelah terapi, pasien bisa melakukan stretching ringan di rumah. Terutama setelah bangun tidur.
”Sehari saya batasi melayani 10 hingga 15 pasien. Dengan catatan sudah booking terlebih dahulu. Saya buka praktik Senin sampai Jumat buka pukul 09.00-17.00 dan Sabtu buka pukul 09.00-16.00,” ungkap Robertus yang membuka praktik di Jalan Gor Wergu Wetan Kudus itu, tepatnya di barat GOR.
Dia menambahkan, ada hal-hal sepele yang sering dilakukan kebanyakan orang, sehingga menyebabkan punya masalah punggung. Di antaranya sering menaruh dompet di saku belakang celana. Jadi, saat orang itu duduk pasti akan timpang, karena kejanggal dompet. Maka, kebiasaan macam itu akan mempengaruhi bentuk tulang belakang.
Selain itu, orang yang suka nongkrong, nge-game, atau pekerja kantoran (yang setiap harinya berhadapan komputer) kebanyakan posisi duduknya juga salah. Dia lalu mencontohkan kebiasaan orang Jepang dan Thailand yang kebetulan pernah ia kunjungi.
”Mereka kalau tidur pakai matras. Itu yang membuat tulang mereka lurus dan bagus. Sedangkan kita tahu, orang Indonesia suka pakai Kasur atau springbed empuk yang sebenarnya dapat mempengaruhi tulang punggung,” tambahnya.
Alfando, 24, salah satu pasien mengaku tahu terapi ini dari teman. ”Saat itu teman saua menyarankan di terapi kretek-kretek di Semarang. Ternyata waiting list-nya lama. Terus nyari di Kudus. Ternyata ada,” ucapnya.
Ia mengeluhkan masalah punggung. Ia terbiasa membungkuk, karena sering duduk menghadap komputer. Akhirnya sering pegal-pegal. Baru kali pertama ini mencoba. Setelah diterapi ia mengaku rasanya enak. Plong.
”Rasanya agak anget,” katanya. Kemudian Fega menimpali, jika rasa anget itu disebabkan aliran darah yang terbuka semua. ”Jadi pasien akan terasa lebih enteng,” imbuhnya. (ark/lin) Editor : Kholid Hazmi