Kudus, Jamkesnews – Bagi seorang ibu, kesehatan anak-anaknya adalah segalanya. Melihat sang buah hati terbaring lemah di rumah sakit merupakan hal yang membuat hati sang ibu sangat cemas.
Itulah yang dirasakan Kasmini (54), warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, yang tengah mendampingi anak bungsunya, Lutfia Khumairoh (16), yang dirawat di RS Aisyiyah Kudus.
Sang anak, Lutfia Khumairoh (16), dirawat di RS Aisyiyah Kudus karena tiba-tiba demam tinggi. Dengan wajah lelah namun tetap berusaha tegar, Kasmini menceritakan awal mula sang anak sakit dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
“Anak saya tadi pagi tiba-tiba demam tinggi, sampai menggigil. Untuk sakit pastinya belum tahu karena masih menunggu hasil observasi dokter,” ujarnya lirih sambil sesekali menatap putrinya yang masih terbaring lemah di tempat tidur.
Lutfia ditangani langsung oleh dokter spesialis anak, karena meskipun usianya telah 16 tahun, secara medis masih tergolong anak-anak. Kasmini dan keluarganya sendiri merupakan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang terdaftar pada segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK), yang iurannya dibayarkan oleh pemerintah melalui APBN.
Kendati jarak antara rumahnya dan rumah sakit cukup jauh, Kasmini tetap memilih RS Aisyiyah Kudus sebagai tempat berobat. Pelayanan yang dirasakan sangat baik membuatnya tetap memilih rumah sakit yang sama.
“Kami sudah biasa berobat di sini. Pelayanannya baik dan ramah, meski jaraknya agak jauh dari rumah. Tapi kami selalu diterima dan dilayani dengan baik,” tutur Kasmini.
Ia menuturkan, demam anaknya sudah mulai terasa sejak hari senin pagi. Awalnya, ia membawa Lutfia ke Puskesmas Dawe, yang merupakan fasilitas kesehatan tingkat pertama tempat anaknya terdaftar. Namun kondisi anaknya yang semakin parah membuatnya khawatir.
“Senin malam badannya menggigil hebat, kepala pusing. Sudah minum obat dari puskesmas tapi belum ada perubahan. Akhirnya jam tiga subuh saya minta bantuan ambulans dari Lazisnu di desa, kemudian jam lima pagi kami berangkat ke rumah sakit,” jelasnya.
Sesampainya di rumah sakit, Lutfia langsung mendapatkan penanganan di IGD. Proses administrasi berjalan lancar tanpa kendala.
“Pelayanannya cepat dan mudah. Kami tidak diminta dokumen macam-macam, hanya menunjukkan KIA (Kartu Identitas Anak) karena anak saya belum punya KTP. Jam enam pagi sudah langsung dapat kamar rawat inap. Semua petugasnya sigap,” ungkap Kasmini lega.
Bukan hanya Lutfia, Kasmini sendiri juga aktif menggunakan JKN untuk pengobatan penyakit asam lambung yang telah lama ia derita. Ia rutin kontrol di Puskesmas Rejosari dan sempat dua kali dirawat inap di RS Aisyiyah Kudus di tahun ini.
“Saya dirawat waktu bulan puasa dan setelah lebaran. Dua kali itu karena asam lambung saya kambuh parah. Waktu di rumah sakit, proses administrasi juga gampang, cukup tunjukkan KTP, langsung ditangani. Saya dirawat empat hari sampai dokter memastikan saya benar-benar sembuh,” ceritanya.
Kasmini mengaku selama menjadi peserta JKN, semua proses pengobatan berjalan lancar. Menurutnya, kunci utama adalah mengikuti alur pelayanan sesuai faskes yang terdaftar.
“Selama kita tahu alurnya, berobat jadi mudah. Anak saya terdaftar di Puskesmas Dawe, sedangkan saya di Puskesmas Rejosari, jarak keduanya dekat dari rumah. Kalau berobat ya sesuai faskes yang terdaftar,” katanya.
Bagi Kasmini, Program JKN merupakan penyelamat bagi keluarga seperti dirinya. Ia merasa tenang karena biaya berobat dirinya dan anak-anak sudah dijamin oleh negara.
“Saya bersyukur telah menjadi peserta JKN. Kalau tidak, mungkin saya bingung cari biaya berobat waktu saya dan anak sakit. Dengan adanya Program JKN, kami tidak takut lagi ke rumah sakit, semua sudah dijamin,” ucapnya penuh syukur.
Kasmini berharap Program JKN terus berjalan dan semakin baik, agar lebih banyak masyarakat yang bisa merasakan manfaatnya.
“JKN itu seperti payung di tengah hujan. Kita tidak sadar betapa berharganya sampai saat kita benar-benar membutuhkannya,” tutupnya dengan senyum haru. (ds)
Editor : Mahendra Aditya