KUDUS – Warga Desa/Karanganyar, Demak, harus berjuang bertahan hidup di tengah banjir yang melanda sejak Kamis (8/2) lalu.
Mereka harus menahan lapar dan menunggu giliran evakuasi oleh relawan menuju posko pengungsian.
Salah satunya dialami Sunarti, 37, warga Desa Karanganyar, yang harus mengungsi di posko pengungsian di Terminal Jati, Kudus.
Ketinggian air di rumahnya sudah mencapai 2 meter. Sebelum air meninggi, pada Kamis sore ia dievakuasi ke rumah tetanganya yang memiliki dua lantai.
Untuk menuju ke lokasi evakuasi sementara Sunarti merasa takut. Lantaran kondisi air begitu deras menerjang permukiman.
”Saya harus digandeng tetangga saya dan ketiga anak saya juga digendong warga,” ungkapnya.
Kondisi banjir hebat yang melanda Kabupaten Demak ini, membuat ketiga anaknya ketakukan.
Mereka menangis sebelum dievakuasi. Pertolongan datang dari para relawan Kamis malam sekitar pukul 23.00.
Ibu rumah tangga beserta tiga anaknya itu, serta para tetangga berhasil dievakuasi dengan perahu karet.
Kini, mereka hanya bisa pasrah dan berdoa, agar air yang menggenangi permukiman cepat surut.
”Semoga air cepat surut. Ini anak saya sakit batuk, panas, dan pilek,” terangnya.
Sementara itu, Supriyati, 60, warga RT 1/RW 4, Desa/Kecamatan Karanganyar, mengaku masih trauma dengan banjir yang menenggelamkan Jalan Pantura tersebut.
Baca Juga: Debit Air Bendung Wilalung di Undaan Kudus Terus Naik Bikin Was-was, Begini Penampakannya
Dirinya bersama warga lain harus bertahan di rumah yang terendam sekitar 14,5 jam untuk menunggu giliran evakuasi.
Saat bertahan ia hanya bisa pasrah menunggu evakuasi. Dia bersama warga lain harus menahan lapar.
”Saya dievakusi sekitar 01.30. Nunggu giliran evakuasi. Saya gembor-gembor minta bantuan. Memang banyak warga yang minta bantuan,” kenangnya.
Ketinggian air di rumahnya mencapai lebih dari satu meter. Dia dan keluarganya hanya bisa bertahan di lantai II rumahnya.
”Sebelum dievakuasi kelaparan, karena tak ada makanan. Mboten ada yang maringi maem awit esuk ngantos dalu,” ungkapnya sambil matanya berkaca-kaca.
Supriyati berteriak-teriak kepada relawan yang melintas di depan rumahnya.
Ia dan tetangganya meminta nasi bungkus untuk mengganjal perut. Namun, relawan sibuk mengevakuasi warga yang masih bertahan di rumah.
Sementara itu, di Jembatan Tanggulangi yang dijadikan pengungsian, para relawan sibuk mengevakuasi warga yang terjebak banjir.
Perahu karet relawan lalu lalang melibas Jalur Pantura yang terendam sekitar dua meter.
Dari pantuan Jawa Pos Radar Kudus, ada relawan mengevakuasi ibu bersama balita yang bertahan di rumah.
Sang ibu dengan pakaian yang basah kuyup itu, menggendong anaknya di atas perahu.
Ibu asal Desa Karanganyar itu, dievakuasi ke posko pengusian di Jembatan Tanggulangin.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak per Jumat (9/2) pukul 11.00 ada 32 desa di tujuh kecamatan yang terdampak.
Ada sekitar 10.300 jiwa dipastikan mengungsi di 17 posko pengungsian.
Baca Juga: Kali Pertama Dilaksanakan, Pasar Imlek di Kudus Ramai Dipadati Pengunjung, Disini Lokasinya!
Kebutuhan logistik yang mendesak antara lain, makanan cepat saji, tikar, selimut, obat-obatan, baju layak pakai, pampers, dan pembalut.
Sedangkan kebutuhan mendesak lain berupa karung sak, bambu, dan alat berat.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus gotong royong membantu warga Kabupaten Demak yang terdampak banjir.
Dengan menyediakan tenda serta memastikan kebutuhan logistik dipastikan aman.
Siaga bencana ini, dilakukan Pj Bupati Kudus M. Hasan Chabibie.
Kamis (8/2) malam Pj bupati dan forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda) mengunjungi korban banjir Demak yang mengungsi di sekitar Jembatan Tanggulangin dan di posko pengungsian di Terminal Jati.
Hasan mengupayakan agar bantuan seperti pakaian, makanan, minuman, selimut, obat-obatan, dan lainnya yang dibutuhkan pengungsi dapat segera disalurkan.
”Kami mengupayakan agar bantuan makanan, pakaian, obat-obatan, dan lainnya bisa segera masuk di posko pengungsian. Upaya kami saat ini membangun komunikasi dengan seluruh stakeholder," imbuhnya. (gal)
Editor : Ali Mustofa