Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Umat Kristiani di Jepara Peringati Kenaikan Yesus Kristus dengan Ibadah Padang, Tekankan Kepedulian terhadap Lingkungan

Fikri Thoharudin • Kamis, 14 Mei 2026 | 14:27 WIB
KOMPAK: Para jemaat makan bersama dengan bekal yang dibawanya, dalam rangka peringatan Kenaikan Isa Almasih pada Kamis (14/5).
KOMPAK: Para jemaat makan bersama dengan bekal yang dibawanya, dalam rangka peringatan Kenaikan Isa Almasih pada Kamis (14/5).

JEPARA — Semilir angin pantai dan debur ombak di Desa Telukawur menjadi latar berbeda, dalam peringatan Kenaikan Yesus Kristus, yang digelar umat Kristiani di Jepara. 

Tidak berlangsung di dalam gedung gereja, perayaan kali ini justru dilakukan melalui ibadah padang, di kawasan Beach Side Villa Telukawur. Menghadirkan nuansa yang lebih dekat dengan alam, sekaligus sarat makna reflektif.

Sejak Kamis (14/5) pagi, jemaat datang bersama keluarga dengan membawa bekal makanan masing-masing. 

Anak-anak berlarian di area terbuka, sementara sebagian jemaat duduk melingkar menikmati suasana pantai. 

KHIDMAT: Umat Kristiani GITJ Jepara tengah beribadah dan merayakan Kenaikan Isa Almasih, pada Kamis (14/5).
KHIDMAT: Umat Kristiani GITJ Jepara tengah beribadah dan merayakan Kenaikan Isa Almasih, pada Kamis (14/5).

Setelah ibadah berlangsung, acara dilanjutkan dengan permainan dan kebersamaan antar keluarga jemaat. Suasana kekeluargaan terasa kuat dalam perayaan tersebut.

Pendeta Gereja Injili Tanah Jawa (GITJ) Jepara, Danang Kristiawan menyampaikan bahwa peringatan Kenaikan Yesus Kristus tidak semata dimaknai, sebagai ajakan untuk memandang ke langit atau sesuatu yang jauh di luar kehidupan manusia. 

Menurutnya, peristiwa kenaikan justru mengingatkan bahwa realitas Ilahi, yang hadir di sekitar kehidupan sehari-hari. Termasuk di alam dan lingkungan tempat manusia hidup.

“Yang paling utama, kenaikan bukan mengajak kita selalu memandang ke atas. Justru peristiwa ini mengarahkan kita kepada dunia, karena Tuhan memenuhi dunia dan alam raya,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, pemahaman tersebut membawa konsekuensi ekologis bagi umat beragama. 

ANTUSIAS: Anak-anak mengikuti game usai beribadah.
ANTUSIAS: Anak-anak mengikuti game usai beribadah.

Ketika Tuhan diyakini hadir dalam seluruh ciptaan, maka manusia juga dituntut untuk semakin peduli terhadap lingkungan, serta membangun relasi yang harmonis dengan sesama.

Menurut Danang, selama ini agama kerap dipahami sebagai sesuatu yang menjauh dari dunia nyata, hanya berorientasi pada kehidupan setelah kematian. 

Padahal, menurutnya, manusia justru berperan untuk menjaga bumi sebagai bagian dari kehidupan spiritual itu sendiri.

“Orang jangan hanya menjadikan bumi sebagai tempat transit menuju surga. Surga dan bumi itu menyatu dalam lingkup Tuhan,” terangnya.

Karena itulah, beberapa tahun terakhir GITJ Jepara memilih menggelar peringatan Kenaikan Yesus Kristus di ruang terbuka. Selain di Telukawur, ibadah serupa sebelumnya pernah dilakukan di kawasan Pantai Wonorejo hingga bumi perkemahan. 

Konsep outdoor dipilih, agar jemaat dapat merasakan kedekatan secara langsung dengan alam.

Bagi mereka, ruang terbuka bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan ruang refleksi spiritual. Di tengah hamparan langit dan pepohonan, jemaat diajak menyadari bahwa 'tanah suci' bukan hanya tempat tertentu, tetapi setiap tanah yang dipijak manusia, dengan kesadaran akan kehadiran Tuhan.

“Tanah suci adalah tempat di mana kita berpijak dan hidup bersama,” tuturnya.

Melalui ibadah padang tersebut, perayaan Kenaikan Yesus Kristus tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Mempererat kerukunan, serta mengingatkan bahwa spiritualitas dapat tumbuh, dari kedekatan manusia dengan alam dan sesamanya.

Dalam khotbahnya, ia juga membawakan satu tema dengan makna yang mendalam, ‘Menjadi Saksi kenaikan Yesus’.

Ia mengajak para jemaat untuk merenungi arti kenaikan Yesus. Menurutnya, seringkali perayaan hanya peristiwa turunnya Kristus pada Natal, serta kematian-kebangkitan Yesus dalam Paskah.

"Kenaikan Tuhan Yesus itu juga sangat penting, karena sebuah rangkaian yang utuh," sebutnya.

Pihaknya juga menyampaikan bahwa gerakan turun ke tempat paling bawah, hingga naik ke tempat paling tinggi ialah gerak cinta Allah.

"Melalui Ia turun ke tempat yang rendah, Ia mencintai kita, mencari kita, bahkan di titik terendah hidup. Serta memberi harapan kepada kita," ujarnya.

Yesus naik ke Surga berarti ada perpisahan. Secara fisik tidak ada, tetapi kenaikan Yesus ke Surga juga yang membuat Ia hadir di mana-mana melalui Roh-Nya. "Kenaikan Yesus membuat ia memenuhi segala sesuatu, Ia ada di mana-mana," katanya.

Menjadi saksi, lanjutnya, berarti menghadirkan Kristus yang memenuhi segala sesuatu itu, dalam setiap hidup yang paling kecil.

"Untuk itu kita perlu menyatakan pertobatan dan perubahan. Merawat lingkungan, mengolah sampah, itu juga kesaksian. Begitupun mendidik anak, mendampingi yang terjatuh, dalam pekerjaan, kejujuran," sebutnya.

Menurutnya, biarlah orang lain melihat kehadiran Kristus dalam tindakan. Membangun relasi yang retak, senyuman, sapaan, serta sikap memaafkan, jika bagian dari hal tersebut. 

Hubungan baik tidak hanya pada manusia, tapi juga alam menjadi satu sikap yang perlu dijalankan.

"Ia naik, tidak untuk meninggalkan kita sendirian. Melainkan untuk memenuhi segala sesuatu sehingga kita tidak merasa sendirian. Nyatakanlah kehadiran-Nya dalam setiap langkah kesetiaanmu," pungkasnya.(fik)

Editor : Admin
#Ibadah Padang #Umat Kristiani Rayakan Kenaikan Isa Almasih #peduli lingkungan #kenaikan isa almasih #GITJ Jepara