Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Unisnu Internasional Forum, Dukung Peningkatan SDM dan Pariwisata Berkelanjutan Jepara

Fikri Thoharudin • Senin, 30 Maret 2026 | 16:52 WIB
SINERGIS: Penandatanganan MoU antara Basnur Academy oleh Al Busyra Basnur bersama dengan Wakil Rektor I (Bidang Akademik, Kelembagaan, dan Kerjasama) Unisnu Jepara Miftah Arifin pada Senin (30/3). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
SINERGIS: Penandatanganan MoU antara Basnur Academy oleh Al Busyra Basnur bersama dengan Wakil Rektor I (Bidang Akademik, Kelembagaan, dan Kerjasama) Unisnu Jepara Miftah Arifin pada Senin (30/3). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Upaya mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus memperkuat arah pariwisata berkelanjutan, mengemuka dalam Unisnu Internasional Forum.

Kegiatan tersebut digelar di Pendapa Museum RA Kartini Jepara, Senin (30/3). Diinisiasi oleh Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, bekerja sama dengan Basnur Academy dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara.

Mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, hingga pegiat pendidikan dalam satu ruang gagasan. Untuk memajukan Jepara di kancah global.

Hadir sebagai pembicara utama, Al Busyra Basnur, membagikan perspektifnya setelah lebih dari 40 tahun berkarier sebagai diplomat, termasuk saat menjabat Duta Besar RI untuk Ethiopia, Jibuti, dan Uni Afrika periode 2019–2025. 

Ia menekankan bahwa pariwisata tidak bisa dilepaskan dari kualitas SDM, yang mampu membaca peluang global.

Menurutnya, geliat pariwisata dunia terus berkembang pesat. Namun Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar. 

Mulai dari akses transportasi yang belum memadai, biaya perjalanan domestik yang relatif mahal. Hingga pemenuhan kebutuhan pendukung pariwisata lainnya, yang belum tergarap.

Indonesia masih kalah dibanding negara lain seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Singapura.

Berada di peringkat ke-5 kunjungan wisatawan mancanegara di Asia Tenggara.

“Paradigma pariwisata harus diperluas. Tidak hanya soal destinasi, tetapi juga kemudahan akses, kenyamanan, hingga kepercayaan wisatawan terhadap sistem pembayaran dan informasi,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, fenomena global masyarakat yang lebih memilih berobat ke luar negeri seperti Kuala Lumpur, menunjukkan bahwa sektor pariwisata juga berkaitan erat dengan layanan publik lainnya. 

Dalam konteks ini, pariwisata menjadi pintu masuk untuk memperkuat sektor kesehatan, ekonomi kreatif, hingga diplomasi budaya.

Di sisi lain, peluang besar juga terbuka lebar. Perkembangan teknologi digital, promosi melalui tourism expo, serta pertukaran budaya lintas negara dinilai mampu menjadi pengungkit ekonomi daerah. 

Namun, ia mengingatkan ancaman seperti over tourism, tingginya biaya perjalanan, serta ketidakpastian ekonomi global juga harus diantisipasi secara matang.

Jepara, sebutnya, memiliki modal kuat sebagai destinasi unggulan. 

Mulai dari wisata bahari di Karimunjawa, industri mebel dan ukir, hingga identitas sebagai Bumi Kartini. Semua potensi itu perlu dikemas dalam strategi global yang terintegrasi.

“Kata kuncinya adalah peningkatan SDM. Generasi muda harus didorong membangun jejaring internasional, meningkatkan kemampuan leadership, public speaking, hingga aktif menulis dan memproduksi konten digital untuk promosi daerah,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua APPBIPA Jawa Tengah, Direktur Menara Bahasa, serta Dosen UNNES Wati Istanti. Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara penelitian akademik dan kebutuhan nyata di masyarakat. 

Ia menilai, pengembangan pariwisata berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan potensi, tetapi harus berbasis riset yang berdampak.

“Penelitian harus menjawab kebutuhan. Apakah memberikan dampak ekonomi? Apakah memperkuat kearifan lokal? Ini yang harus menjadi tolok ukur,” sambungnya.

Ia juga menekankan bahwa internasionalisasi dapat dimulai dari kampus melalui kolaborasi lintas negara, penguatan bahasa asing, serta keterlibatan mahasiswa dalam promosi budaya lokal. 

Menurutnya, Jepara memiliki identitas kuat sebagai kota ukir, tenun, dan wisata bahari yang layak dipromosikan sebagai Balinya Jawa.

Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya kesiapan dalam menghadapi dampak pariwisata, baik dari sisi lingkungan, sosial, maupun budaya. 

Studi dampak, pengelolaan limbah, hingga perlindungan budaya lokal menjadi bagian yang tidak boleh diabaikan.

Forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus dorongan konkret bahwa masa depan pariwisata Jepara. Tidak hanya ditentukan oleh keindahan alamnya, tetapi juga oleh kesiapan manusianya. 

Kolaborasi lintas sektor dan penguatan SDM, menjadi fondasi utama agar Jepara tidak sekadar menjadi tujuan wisata. Namun juga pemain aktif dalam ekosistem pariwisata global yang berkelanjutan.

"Semoga dengan adanya forum ini muncul rekomendasi-rekomendasi yang tidak hanya konseptual, tapi juga aplikatif. Termasuk kerjasama dan kemitraan. Sesuai dengan arah pembangunan Kabupaten Jepara," tanggap Bupati Jepara Witiarso Utomo memberi pungkasan.(fik)

Editor : Admin
#Unisnu Internasional Forum #pariwisata berkelanjutan Jepara #peningkatan SDM Jepara #Al Busyra Basnur Jepara #forum internasional Unisnu #potensi wisata Jepara #Karimunjawa tourism #pengembangan SDM pariwisata #wisata bahari Jepara #promosi wisata digital #ekonomi kreatif Jepara #jaringan internasional generasi muda #tantangan pariwisata Indonesia #wisata global Indonesia #sustainable tourism Jepara #riset pariwisata berkelanjutan #budaya lokal Jepara #pengembangan wisata daerah #MUSEUM RA KARTINI JEPARA #industri mebel jepara