Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Penyebab Kasus Kematian Pemuda di Tubanan Sulit Terungkap, Ini Alasannya

Fikri Thoharudin • Sabtu, 7 Februari 2026 | 06:03 WIB
PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS: Kondisi di pelataran Kompleks Balai Desa Tubanan tampak tegang pada Jumat (6/2) malam.
PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS: Kondisi di pelataran Kompleks Balai Desa Tubanan tampak tegang pada Jumat (6/2) malam.

JEPARA — Kepolisian mengungkap sejumlah kendala yang membuat kasus kematian seorang pemuda di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang. Higga kini belum dapat dipastikan apakah mengandung unsur tindak pidana atau murni bunuh diri.

Kapolsek Kembang, Iptu Heru Setyawan, menyampaikan bahwa minimnya petunjuk di tempat kejadian perkara (TKP), menjadi salah satu faktor utama sulitnya pengungkapan kasus tersebut.

“Beberapa hal yang menyulitkan, antara lain sidik jari pada pisau dapur yang ditemukan dengan bercak darah tidak terdeteksi,” ujarnya pada Jumat (6/2).

Selain itu, sebelumnya upaya pelacakan menggunakan anjing pelacak (K9) juga belum membuahkan hasil.

Anjing pelacak yang diturunkan ke lokasi tidak berhasil mengendus jejak bau, yang mengarah pada keberadaan pihak lain di sekitar TKP.

Anjing pelacak hanya berputar-putar di beberapa titik yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Dari TKP pertama hingga TKP kedua. Serta mengarah kembali ke rumah korban.

Saat ditemukan pada Minggu (30/11/2025) lalu, sekitar pukul 05.45 WIB, tubuh Rendy ditemukan dalam posisi terlentang dan bersimbah darah. Kondisi leher tergorok. Berjarak sekitar 60 meter dari rumah.

Pemeriksaan forensik oleh Bidlabfor Polda Jawa Tengah pun belum menemukan indikasi kuat adanya keterlibatan orang lain. 

Sampel kuku korban dan orang terdekat yang dites DNA, menunjukkan hasil negatif. 

Polisi juga tidak menemukan lebam mayat yang mengindikasikan adanya perlawanan.

“Sementara ini tidak ditemukan lebam pada tubuh korban,” katanya.

Hasil olah TKP lanjutan juga tidak menemukan tanda-tanda kerusuhan, baik di lokasi korban ditemukan maupun di sekitar area kejadian. Kondisi lingkungan dinilai relatif normal tanpa indikasi kekerasan fisik lain.

Apalagi saat ditemukan, jasad korban berada di ladang (kebun) rumput gajah. Tidak menuju ke area permukiman warga.

Namun demikian, polisi mencermati sejumlah luka pada tubuh korban yang dinilai tidak biasa. 

Di antaranya luka pada pergelangan tangan kiri yang terlihat cukup teratur, serta luka sayatan pada bagian leher sebelah kiri hingga tengah yang dilakukan satu kali, tidak berulang-ulang.

“Ada satu sayatan utama di leher, kemudian terdapat dua goresan lain, tetapi bukan dilakukan bolak-balik,” ucapnya.

Secara medis, pada bagian leher korban terdapat luka sayat sepanjang 13 sentimeter dengan lebar 6 sentimeter. 

Sementara di pergelangan tangan kiri ditemukan luka iris sepanjang 6 sentimeter dan lebar 3 sentimeter. Selain itu, terdapat luka iris dangkal di bagian dada.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kepolisian memastikan luka di leher menjadi penyebab utama kematian korban.

Karena mengenai nadi dan batang leher, sehingga menyebabkan pendarahan hebat.

Melihat kompleksitas kasus ini, kepolisian menggandeng Tim Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (Apsifor) pada Jumat (6/2). Untuk mendalami kondisi kejiwaan korban sebelum meninggal dunia.

“Kami gandeng tim psikologi forensik untuk mengungkapnya. Apakah seseorang bisa melakukan tindakan senekat itu dalam kondisi waras, atau ada masalah psikologis lain yang melatarbelakangi,” jelas Iptu Heru.

Ia menegaskan bahwa pihaknya masih terus mendalami kasus tersebut.

Guna memastikan apakah peristiwa yang terjadi lebih dari dua bulan yang lalu itu, mengandung unsur pidana atau tidak.

“Kami berharap dengan pelibatan Tim Apsifor ini bisa membawa titik terang,” pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#jepara #tubanan #dugaan pembunuhan #kembang