Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jalan, Listrik dan Jaringan di Desa Tempur Masih Lumpuh

Fikri Thoharudin • Minggu, 11 Januari 2026 | 15:58 WIB
LUMPUH: Rumah warga Desa Tempur, Sujak, terkubur material longsor.
LUMPUH: Rumah warga Desa Tempur, Sujak, terkubur material longsor.

JEPARA — Pascabencana longsor, kondisi infrastruktur di Desa Tempur, Kecamatan Keling, hingga kini masih lumpuh. 

Akses jalan terputus total, sementara jaringan listrik dan komunikasi juga lumpuh.

Sekretaris Desa (Sekdes) Tempur, Mahfudz Ali, menyampaikan, bahwa situasi keamanan di desa relatif terkendali. 

Namun demikian, keterisolasian wilayah menjadi persoalan utama yang dihadapi warga.

“Saat ini bisa dibilang aman, cuma (listrik dan jaringan, red) terputus total. Kami sangat membutuhkan logistik, terutama untuk posko,” ujar Mahfudz Ali pada Minggu (11/1).

Ia menjelaskan, untuk sementara kebutuhan logistik warga masih mencukupi di rumah masing-masing. 

Namun jika kondisi keterisolasian berlangsung lama, memunculkan kekhawatiran tersendiri.

“Kalau terputusnya lama, kebutuhan pokok sangat dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Selain akses jalan, jaringan listrik di Desa Tempur juga lumpuh total, setidaknya sejak Jumat (9/1) malam.

Beberapa tiang listrik dilaporkan roboh dan miring, menyebabkan seluruh aktivitas elektronik warga terhenti.

Mahfudz Ali menyebutkan, jaringan komunikasi juga hilang sehingga menyulitkan koordinasi dan komunikasi warga dengan pihak luar desa.

Dampak bencana juga menyebabkan kerusakan bangunan warga. 

Tercatat sejumlah rumah mengalami kerusakan .

Seperti dapur rumah milik wargaRT 5/RW2, Sanuri. Lalu area dapur dan kamar tidur rumah milik Ngatemi, warga RT 5/RW 2. Dapur rumah milik Pasir warga RT 1/RW 1. 

Tak hanya itu, rumah milik Klimah warga RT 1/RW 1 juga rusak total. Kemudian rumah usaha milik warga RT 1/RW 1, Pairan. Serta seluruh rumah milik warga RT 1/RW 1, Sujak.

"Rumah milik pak Sujak dapur jebol, teras roboh, seluruh rumah terkena material longsor," ucapnya.

Tak hanya permukiman, bencana ini juga mengakibatkan area persawahan terdampak. 

"Puluhan hektare area persawahan sepanjang Sungai Gelis hanyut," jelasnya.

Di sisi lain, longsor terjadi di sepanjang jalan utama Kajang–Tempur dengan sedikitnya 18 titik longsor besar. 

Material longsoran berupa tanah, batu, dan pasir menutup badan jalan. Dengan ketebalan hingga 1,5 meter, bahkan di beberapa lokasi badan jalan hilang total. Tergerus aliran Sungai Gelis mencapai 100 meter.

Pada Minggu (11/1) siang, pihak PLN telah melakukan pengecekan lapangan. Namun petugas belum dapat mencapai jantung Desa Tempur karena kerusakan jaringan inti dan akses yang masih terputus.

Lima alat berat berupa ekskavator maupun loader juga terjunkan. Fokus utama ialah pembukaan akses jalan.

Saat ini Kabupaten Jepara telah ditetapkan berstatus Darurat Bencana. BPBD membuka Posko Bencana dan Dapur Umum di Posko Destana Damarwulan untuk mendukung penanganan darurat.

Kendati demikian, akses jalan perlahan mulai terbuka secara terbatas pada Minggu (11/1). 

Namun jalur tersebut baru bisa dilalui kendaraan roda dua dengan kondisi harus menyeberangi badan jalan yang tergerus aliran sungai. Bagian kiri sudah jurang, sedalam 3-7 meter. Terputus sepanjang sekitar 100 meter.

Berdasarkan pendataan Pemerintah Desa Tempur, longsor besar terjadi di sepanjang jalan utama Kajang–Tempur dengan total 18 titik longsor besar yang berdampak langsung pada akses jalan dan infrastruktur.

Titik pertama berada di Basuno, dengan longsor setinggi sekitar 20 meter dan lebar 12 meter. Material longsor menutup badan jalan dan menyulitkan proses pembersihan.

Titik kedua berada di wilayah Atas Leki, terdapat beberapa titik longsor besar yang menutup jalan sepanjang kurang lebih 100 meter dengan ketebalan material antara 1 hingga 1,5 meter.

Titik ketiga berada di Utara Dieng, longsor menutup badan jalan sepanjang 13 meter dengan ketebalan sekitar 1 meter, serta menyebabkan sebagian badan jalan ikut longsor.

Titik keempat juga berada di Utara Dieng, dengan longsor menutup jalan sepanjang 6 meter dan ketebalan material sekitar 0,5 meter.

Titik kelima berada di sekitar Jembatan Dieng, longsor setinggi sekitar 100 meter menutup jalan sepanjang 60 meter dengan ketebalan 1 hingga 1,5 meter. Meski jembatan masih aman, pagar jembatan hilang tersapu longsor.

Titik keenam berada di pertigaan samping spot foto Selamat Datang, di mana badan jalan hilang total sepanjang 50 meter akibat tergerus aliran Sungai Gelis.

Titik ketujuh berada di Kali Untuk, longsor dari sumber air menutup jalan sepanjang 20 meter dengan ketebalan sekitar 0,5 meter.

Titik kedelapan berada di gorong-gorong Kali Bayi, longsor dari sumber air membawa material batu dan pasir yang menutup jalan sepanjang 15 meter dengan ketebalan sekitar 1 meter.

Titik kesembilan berada di tebing Kali Bayi, longsor setinggi sekitar 200 meter menutup badan jalan sepanjang 15 meter.

Titik kesepuluh berada di tanjakan Gandu, longsor setinggi sekitar 15 meter yang menggerus sebagian badan jalan akibat terjangan arus sungai.

Titik kesebelas juga berada di tanjakan Gandu, longsor setinggi sekitar 20 meter menutup lokasi tanjakan sepanjang 8 meter dengan ketebalan material 1 hingga 1,5 meter.

Titik kedua belas berada di gorong-gorong sebelah warung Kaliombo, longsor dari sumber air menutup jalan sepanjang 10 meter dengan ketebalan sekitar 1 meter.

Titik ketiga belas berada di sebelah selatan Jembatan Warna-warni, longsor dari sumber air membawa material batu dan menutup jalan sepanjang 20 meter dengan ketebalan 1 hingga 2 meter.

Titik keempat belas berada di tanjakan Pule, longsor setinggi sekitar 100 meter menerjang badan jalan hingga pagar pengaman hilang total, dengan jurang di sisi jalan sedalam sekitar 100 meter.

Titik kelima belas berada di Jembatan Pule, badan jalan longsor sepanjang sekitar 50 meter sehingga membutuhkan pembangunan talud penguat jalan.

Titik keenam belas berada di Jembatan Mbah Sujak, jembatan tertutup material longsoran batu besar. Menyebabkan aliran sungai berpindah dan menggerus halaman rumah warga serta badan jalan hingga kedalaman sekitar 6 meter.

Titik ketujuh belas berada di atas greenhouse, longsor dari sumber air menutup jalan sepanjang 20 meter dengan ketebalan material sekitar 0,5 meter.

Titik kedelapan belas berada di Kali Unthok jalur menuju Dukuh Duplak, longsor setinggi sekitar 20 meter menutup badan jalan sepanjang 20 meter dengan ketebalan material sekitar 1 meter.

Pemerintah desa menegaskan, data tersebut baru mencakup longsor besar. Longsor skala kecil belum terdata secara rinci karena jumlahnya sangat banyak dan tersebar di berbagai lokasi.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#jepara #tempur #longsor