JEPARA - Ribuan warga Desa Tulakan dan sekitarnya tumplek blek dalam acara Sedekah Bumi pada Senin (14/7) mulai pukul 10.00.
Mereka ingin menjadi saksi acara tahunan Jembul Tulakan di Desa Tulakan Kecamatan Donorojo. Termasuk merebut jembul yang dipercaya sebagai lantaran, membawa berkah tolak balak.
Sebagaimana jamak diceritakan, tradisi tersebut diadakan untuk mengenang sejarah Ratu Kalinyamat. Yang dulunya melakukan tapa brata untuk menuntut keadilan atas kematian sang suami, Sunan Hadlirin, yang terbunuh oleh Arya Panangsang.
Dalam perkembangannya, kisah tersebut diselipkan dan dituturkan saban tahun dalam prosesi sedekah bumi setempat, yang dikenal ramai sebagai Jembul Tulakan.
Petinggi Tulakan Budi Sutrisno menyampaikan bahwa tradisi tersebut memiliki kesakralan tersendiri. Lantaran diwiwiti dan diakhiri dengan berbagai macam lelaku.
"Terdapat empat jembul, dari Krajan, Winong, Ngemplak dan Pejing. Termasuk jembul lanang yang berisi gemblong, tape, pisang dan sejenisnya. Serta jembul wadon yang berisi nasi atau ambengan," ujarnya.
Sedangkan di atas jembul sendiri terdapat golek (wayang) sebagai simbol beberapa tokoh, termasuk punggawa atau prajurit Ratu Kalinyamat.
"Jembul sendiri terbuat dari bambu yang diiris, dikasih pernik-pernik dan kain. Ini sebagai simbol, dulu Ratu Kalinyamat tidak akan jengkar dari munajatnya sebelum adus getih (mandi darah) dan keset jembule (rambutnya) Arya Penangsang," ujarnya.
Dalam tradisi itu ribuan warga rela berdesakan untuk mendapatkan sada jembul.
Jembul itu diyakini warga dapat membawa berkah dan tolak balak, termasuk mengusir hama pertanian sehingga hasil panen dapat melimpah.
Prosesi puncak dilakukan dengan membasuh kaki kepala desa dengan air kembang setaman.
Kemudian petinggi bersama segenap jajaran mengelilingi gunungan jembul sebanyak tiga kali, sebelum jembul dibawa ke dukuh masing-masing.
Budi menyebutkan, pada intinya tradisi ini untuk mengenang sejarah serta sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
"Dilanjutkan resikan, diharapkan untuk mengusir supaya hal-hal negatif yang ada di Desa Tulakan dapat menyingkir. Sehingga Desa aman, tentram, damai," sebutnya.
Dalam prosesi pelaksanaan sedekah bumi, juga dimeriahkan dengan Langen Tayub. Para warga juga dapat ikut menari bersama waranggana dengan balutan selendang.
Dalam kirab pemulangan jembul, beberapa kali sempat diwarnai kericuhan. Sorak sorai warga pecah.
Namun tak berlangsung lama. Setelah dilerai, warga yang terlibat dalam ketegangan tersebut kembali kondusif.
Sejumlah warga dari berbagai dukuh yang berhasil merebut jembul kompak menyampaikan, sada jembul yang didapatkannya akan ditanam di area sawah.
Sembari mengharap hasil panen mendatang dapat melimpah. Jauh dari balak.
"Makanya direbut usai waktu pembacaan doa, karena di situlah berkahnya. Mambu donga," beber warga kompak.
Bupati Jepara Witiarso Utomo didampingi dengan wakilnya M Ibnu Hajar dan sejumlah pimpinan OPD menyampaikan syukurnya karena warga tetap menjaga adat tradisi.
Pihaknya berharap agar warga tetap guyub dan rukun.
"Ke depan akan dibuat kalender wisata, ini termasuk di dalamnya. Yang lain masih dalam proses inventarisir," singkatnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya