GROBOGAN - Program transmigrasi tahun 2025 di Kabupaten Grobogan mengalami penurunan drastis.
Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Grobogan hanya mengirim tiga kepala keluarga (KK), jauh berkurang dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 12 KK.
Kuota itu terbagi untuk dua daerah tujuan, masing-masing satu KK di SP Lagading, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, dan dua KK di SP Waleh, Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Kepala Disnakertrans Grobogan, Teguh Harjokusumo, mengatakan penurunan kuota tersebut terjadi setelah Kementerian Transmigrasi meninjau ulang lokasi penempatan tahun lalu di Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah, yang akhirnya dibatalkan.
“Banyak masyarakat lebih berminat ke Kalimantan karena dianggap lebih dekat dan risikonya kecil. Setelah lokasi diubah ke Maluku dan Sulawesi, sebagian calon transmigran memilih mundur,” jelas Teguh.
Dari 12 KK yang semula siap diberangkatkan, kini hanya tiga KK yang bertahan. Namun satu di antaranya dikabarkan hilang kontak sejak September 2025.
"Sudah kami datangi rumahnya, tapi keluarga tidak tahu keberadaannya. Kemungkinan ada permasalahan keluarga, jadi kami anggap mengundurkan diri,” ungkap Teguh.
Dengan begitu, saat ini Disnakertrans masih kekurangan satu KK untuk memenuhi kuota 2025.
Dua KK lainnya telah menyelesaikan pelatihan di BBPPMT Yogyakarta dan BLK Cilacap, dan dijadwalkan berangkat ke Halmahera Tengah pada pekan kedua Desember 2025.
Sementara calon terakhir yang dijadwalkan ke Sulawesi Selatan masih menimbang keberangkatan karena faktor anak yang tengah bersekolah.
Meski minat masyarakat menurun, fasilitas yang dijanjikan pemerintah bagi peserta transmigrasi sebenarnya cukup menjanjikan.
Setiap keluarga akan memperoleh rumah dan jamban keluarga yang diberikan saat tiba di lokasi dengan status SHM bersyarat, lahan pekarangan seluas 0,10 hektare yang diserahkan bersamaan dengan rumah, serta lahan usaha 0,90 hektare yang diberikan selama masa pembinaan lima tahun pertama.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan catu pangan berupa sembako selama 12 bulan untuk empat anggota keluarga, dan bantuan lain sesuai peraturan perundangan, seperti peralatan pertanian dan pendampingan sosial.
Teguh menegaskan, pendaftaran program transmigrasi tetap dibuka tanpa batas waktu, baik secara daring melalui situs Sibarduktrans maupun langsung di kantor Disnakertrans Grobogan.
“Kami tidak membatasi waktu pendaftaran agar masyarakat punya kesempatan lebih luas. Program ini masih sangat relevan untuk pemerataan penduduk dan peningkatan kesejahteraan,” tegasnya.
Ke depan, Disnakertrans Grobogan akan memperkuat sosialisasi dan menjalin kerja sama lebih intens dengan pemerintah daerah tujuan agar minat warga kembali meningkat.
“Transmigrasi bukan sekadar pindah tempat tinggal, tapi kesempatan membangun kehidupan baru yang lebih sejahtera,” tandas Teguh.
Dengan hanya tiga KK yang siap diberangkatkan, Grobogan menjadi salah satu daerah dengan kuota transmigran paling sedikit di Jawa Tengah tahun ini.
Namun pemerintah daerah tetap optimistis program ini bisa berjalan sesuai target dan melahirkan kisah sukses baru dari tanah perantauan. (int)
Editor : Ali Mustofa