Nur Khoiroh pembuat kue sagon di Desa Padurenan, Gebog, Kudus, masih eksis hingga sekarang.
Jajanan jadul yang masih bertahan dan menjadi primadona mengisi toples saat Lebaran.
INDAH SUSANTI, Kudus, Radar Kudus
Baca Juga: Satreskrim Polres Jepara Kini Punya Kapten Baru, Ini Dia Sosoknya
Kue Sagon, jajanan kering yang terbuat dari tepung ketan dan gula pasir masih ada di Desa Padurenan, Gebog, Kudus.
Desa Padurenan sendiri, selain dikenal sebagai sentra konveksi, juga sebagai sentra penghasil kue kering sagon.
Salah satunya yang masih bertahan membuat kue tersebut, Nur Khoiroh. Dia mulai merintis membuat kue sagon sejak tahun 2000.
Tak hanya memiliki cita rasa yang khas, tetapi juga daya tahan yang luar biasa.
Meski tergolong kue jadul, kue sagon tetap menjadi primadona. Terutama saat perayaan Lebaran dan berbagai acara hajatan.
Proses pembuatan kue sagon sederhana, tapi membutuhkan ketelatenan dan keterampilan khusus.
Bahan utama kue ini, kelapa parut yang telah diperas. Kemudian disangrai hingga kering.
Setelah itu, kelapa yang sudah disangrai ini, dicampur dengan tepung ketan dan gula pasir, tanpa tambahan minyak.
”Proses pembuatan kue sagon ini, sebenarnya sangat sederhana. Namun, yang membuatnya berbeda adalah ketelatenan dalam setiap tahapannya. Saya tidak hanya mengandalkan resep, tetapi juga pengalaman dan hati dalam proses pembuatan,” kata Nur Khoiroh.
Nur merinci, adonan yang telah tercampur rata kemudian dicetak sesuai bentuk yang diinginkan dan dipanggang dalam oven.
Proses pemanggangan ini, membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 10 menit. Dengan teknik pembalikan dua kali, agar kue matang merata.
Setelah dipanggang, kue sagon akan mengeluarkan aroma yang menggugah selera. Dengan tekstur yang renyah dan rasa yang manis gurih.
Salah satu keunggulan utama kue kering sagon, daya tahannya yang luar biasa.
Meski hanya menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet, kue ini dapat bertahan hingga satu tahun jika disimpan dengan benar.
”Makanya orang-orang masih suka kue sagon ini. Karena rasanya reyah dan awet. Kalau untuk oleh-oleh dibawa ke luar kota tidak khawatir basi atau kedaluarsa. Saya kalau Lebaran pesanan banyak untuk oleh-oleh. Dikirim sampai Jakarta,” terangnya.
Setiap hari Nur Khoiroh memproduksi sekitar 10 kilogram kue kering ini.
Meski sudah bertahun-tahun membuat kue sagon, ia tetap berhati-hati dalam membuat, agar kualitasnya tetap terjaga.
Selain memiliki daya tahan yang lama, kue sagon ini juga terjangkau. Rp 50 ribu sudah mendapat 1 kilogram.
Nur memenuhi permintaan pasar sampai ke Jepara, Semarang, dan kota-kota di wilayah Jawa Tengah.
Menurutnya, sue sagon menjadi simbol warisan kuliner yang tak hanya bertahan dari waktu ke waktu, tetapi juga berkembang seiring dengan permintaan pasar yang semakin meningkat.
Banyak konsumen yang memilih kue sagon sebagai oleh-oleh khas Desa Padurenan. Baik untuk keluarga maupun teman-teman mereka.
Namun, di balik kesuksesan produksi kue kering sagon, ada tantangan yang harus dihadapi oleh para pengusaha kecil di Desa Padurenan. Salah satunya keberlanjutan bahan baku.
”Kelapa yang menjadi bahan utama pembuatan kue sagon harus terus tersedia dalam jumlah yang cukup, agar proses produksi tidak terganggu. Saya ingin terus mempertahankan cita rasa asli kue sagon dan bisa terus memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang,” ujarnya.
Upaya menjaga keberlanjutan usahanya, Nur mulai mengembangkan inovasi produk, seperti varian rasa baru atau kemasan yang lebih menarik, untuk menarik minat konsumen yang lebih luas. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa