RADAR KUDUS - Perselisihan di dunia media sosial tengah menyita perhatian publik setelah konten kreator asal Korea Selatan yang tinggal di Indonesia, Na Daehoon, meluapkan kemarahannya secara terbuka. Sosok yang dikenal sebagai figur ayah inspiratif itu menyoroti tindakan Safrie Ramadhan, yang juga merupakan pasangan dari Jule.
Ketegangan ini mencuat setelah beredarnya konten di media sosial yang menampilkan anak-anak Daehoon tanpa izin. Dalam unggahan tersebut, anak-anaknya diduga dijadikan bahan candaan, yang langsung memicu reaksi keras dari Daehoon.
Menurutnya, tindakan tersebut sudah melewati batas, terutama karena menyangkut privasi dan perlindungan anak. Ia menegaskan bahwa anak-anak bukanlah objek hiburan atau materi konten yang bisa digunakan sembarangan tanpa persetujuan orang tua.
Daehoon menyampaikan keberatannya secara tegas melalui media sosial. Ia menilai konten yang dibuat memiliki nuansa yang tidak pantas dan berpotensi merendahkan, sehingga bisa berdampak pada kondisi psikologis anak-anaknya di masa depan.
Sebagai seorang ayah, ia merasa wajib mengambil sikap untuk menjaga martabat serta keamanan anak-anaknya di ruang digital yang semakin terbuka. Ia juga mengingatkan bahwa setiap individu, terutama anak di bawah umur, memiliki hak atas privasi yang harus dihormati.
Kasus ini langsung memicu perdebatan luas di kalangan netizen. Sebagian besar warganet menunjukkan dukungan kepada Daehoon, menilai bahwa perlindungan anak harus menjadi prioritas utama dalam pembuatan konten digital. Banyak yang menilai bahwa penggunaan wajah atau identitas anak tanpa izin, terlebih untuk bahan candaan, adalah tindakan yang tidak etis.
Di sisi lain, nama Safrie Ramadhan mendadak menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial dan mesin pencarian. Publik pun menunggu klarifikasi dari pihak Safrie maupun Jule terkait polemik tersebut.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya etika dalam produksi konten digital. Di era media sosial, batas antara hiburan dan pelanggaran privasi kerap menjadi kabur. Para kreator diingatkan untuk lebih bijak dalam memilih materi, terutama jika melibatkan pihak lain yang belum mampu memberikan persetujuan secara sadar.
Daehoon berharap insiden ini bisa menjadi pembelajaran bersama agar para kreator lebih menghargai privasi, khususnya anak-anak, dan tidak menjadikannya sebagai alat untuk meraih popularitas semata.
Editor : Mahendra Aditya