RADAR KUDUS – Awal mula mitos meletusnya Oro-Oro Kesongo Blora ini konon berawal dari naga raksasa.
Kono mitos Oro-Oro Kesongo Blora berawal dari 9 orang yang ditelar ular naga hingga gugur.
Mitos iti diceritakan secara turun-temurun oleh warga sekitar.
Banyak yang meyakini, Oro-Oro Kesongo Blora berawal dari kisah 9 pengawal yang gugur ditelan ular naga.
Apa Itu Oro-Oro Kesongo?
Oro-Oro Kesongo atau kawah lumpur Kesongo merupakan fenomena alam berupa letusan yang mengeluarkan lumpur dan gas belerang.
Oro-Oro Kesongo berada di Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora tak jauh dari kawah Bleduk Kuwu, Kabupaten Grobogan.
Oro-Oro Kesongo beberapa kali meletus dan mengeluarkan lumpur serta gas.
Oro-Oro Kesongo ini pernah menewaskan satu warga yang saat itu sedang berada di kandang sapi di sekitar Oro-Oro Kesongo pada 2023.
Kawah Oro-Oro Kesongo Blora juga sempat erupsi pada Februari 2023 dan September 2021.
Mitos Naga Raksasa Jaka Linglung
Diceritakan secara turun temurun, Oro-Oro Kesongo Blora berawal dari kisah 9 orang yang bernasib sial.
Dikisahkan, ada 10 orang yang beraktivitas di sekitar lokasi Oro-Oro Kesongo. Karena hujan, 10 orang tersebut memutuskan berteduh di dalam gua yang berwujud mulur ular.
Karena 1 orang memiliki penyakit kulit, 9 lainnya menolak orang yang terkena penyakit kulit tersebut masuk ke dalam gua.
Satu orang tersebut dibiarkan kehujanan. Saat berada di luar, 1 orang tersebut tanpa sengaja memukul tembok gua.
Tak disadari ternyata gua tersebut merupakaan jelmaan ular raksasa yang sedang bertapa.
Karena merasa terganggu, mulut ulat tersebut langsung menutup. 9 orang yang ada di mulut gua pun tertelan.
Ada pula yang meyakini Oro-Oro Kesongo berawal dari kisah Prabu Ajisaka dan anaknya yang berwujud ular naga raksasa bernama Jaka Linglung.
Dikisahkan Prabu Ajisaka tak menyukai fisik dan tabiat Jaka Lingkung.
Untuk itu Prabu Ajisaka berusaha menyingkirkan sang putra.
Prabu Ajisaka akan mengakui Jaka Linglung sebagai anak dengan syarat Jaka Linglung mampu menumpas Bajul Putih (Siluman Buaya Putih) yang meneror di kawasan Pantai Selatan.
Tak disangka, Jaka Linglung mampu membunuh Bajul Putih yang diduga jelmaan Prabu Dewata Cengkar, seorang raja kanibal yang pernah dikalahkan oleh Prabu Ajisaka.
Prabu Ajisaka lalu memerintahkan putranya bertapa di tengah hutan tanpa makan dan minum.
Jaka Linglung pun akhirnya bertapa di hutan hingga bertahun-tahun.
Suatu hari, ada 9 orang yang masuk ke dalam mulut gua dan meninggalkan 1 temannya yang terkena penyakit kulit.
Meresa kesal, Jaka Linglung menelan 9 orang tersebut.
1 orang tersebut lari ke desa dan memberitahukan kejadian tersebut hingga terdengar Prabu Ajisaka.
Prabu Ajisaka murka dan membuat Jaka Linglung bersalah dan masuk ke tanah.
Di saan Jaka Linglung masuk ke dalam bersamaan dengan fenomena ledakan lumpur.
Setelah itu lokasi tersebut dikenal kesongo.
Oro-Oro Kesongo Menurut Sejarah
Kisah Oro-Oro Kesongo Bloro tertulis dalam Babad Kanung, sejarah perjalanan orang Jawa 230-1292 Masehi.
Pemerhati Sejarah Kabupaten Blora, Eko Arifianto mengaku, pada 725 masehi ada tokoh bijaksana yang berasal dari Medang Kmaulaan, Teluk Lusi Blora.
Sosok ini masih memiliki keturunan Datsu Dewi Simaha. Sosoknya tampan dan berkarisma. Namnya Hang Sanjaya.
Hang Sanjaya merupakan anak dari pasangan Sanah dan Saldu.
Dia lahir di Sucen, Doplang atau sekalarng dikenal Kecamatan Jati, Blora, Jawa Tengah atau dulu disebut Medang Pkauwon.
Kala itu paman dari Sanjaya yang bernama Sana baru diangkat menjadi datu di Galuh Kerjaan Tarumanegara.
Namun tiba-tiba Sana meninggal dunia karena diracun oleh pangeran dari Kerajaan Tarumanegara yang ingin merebut tahta dari Sana.
Jenazah Sana dibalsam agar awet dan dibawa pulang ke Sucen, Domplang, Medang Pakuwon, Blora.
Jenazah Sana diantar sembilan pengawal dan seorang pemelihara kuda,
Setelah tiba di Medang Pakuwon, kakak perempuan Sana bernama Sanaha marah dan memerintahkan sembilan pengawal dibunuh karena tak bisa menjaga Sana. Sedangkan pemelihara kuda selamat.
Tempat pembunuhan Sana yakni di kawasan tanah berlumpur yang diyakini sebagai kawasan Oro-Oro Kesongo.
Itulah kisah mitos tentang Oro-Oro Kesongo yang sebagian diyakini warga.
Editor : Noor Syafaatul Udhma