RADAR KUDUS - Dedi Mulyadi bukan hanya dikenal sebagai politikus dan Gubernur Jawa Barat periode 2025–2030, tetapi juga sebagai sosok yang berhasil menjadikan media sosial, khususnya YouTube, sebagai sarana produktif dan menguntungkan.
Lewat dua kanal YouTube miliknya, ia rutin membagikan aktivitas kesehariannya, mulai dari kegiatan sosial, interaksi dengan masyarakat, hingga penyelesaian persoalan warga.
Keaktifannya di platform digital itu tidak hanya membangun citra publik yang positif, tetapi juga mendatangkan penghasilan fantastis yang bahkan disebut-sebut melebihi gajinya sebagai gubernur.
Dari Pejabat ke YouTuber Sukses
Dedi Mulyadi, atau yang akrab disapa Kang Dedi, sudah lama dikenal sebagai tokoh yang memadukan nilai budaya lokal dengan kebijakan publik.
Saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta, ia memopulerkan salam “Sampurasun” dan membangun taman-taman tematik bernuansa budaya Sunda. Namun kini, namanya semakin populer karena aktivitas digitalnya.
Ia memiliki dua kanal YouTube, yakni Kang Dedi Mulyadi Channel dan Lembur Pakuan Channel.
Kedua kanal ini aktif mengunggah konten yang menyentuh sisi kemanusiaan, budaya, dan sosial masyarakat desa.
Statistik dan Pendapatan YouTube Kang Dedi
Per 25 Juli 2025, Kang Dedi Mulyadi Channel telah memiliki 8,06 juta subscriber, lebih dari 2,4 miliar penayangan, dan total 4.447 video.
Sementara itu, Lembur Pakuan Channel sudah mengunggah 1.625 video, dengan 372 juta tayangan, dan memiliki 1,59 juta subscriber.
Menurut data dari Social Blade, kanal utama Dedi Mulyadi diperkirakan menghasilkan US$17.000–US$275.000 per bulan atau sekitar Rp277 juta hingga Rp4,48 miliar.
Sementara kanal kedua, Lembur Pakuan Channel, menghasilkan antara US$3.300–US$52.000 per bulan, atau sekitar Rp53 juta hingga Rp848 juta.
Jika ditotal, penghasilan bulanan dari kedua kanal ini bisa mencapai lebih dari Rp5,3 miliar, angka yang jelas jauh melampaui penghasilan resmi dari gaji dan tunjangan sebagai pejabat publik.
Tidak Sekadar Konten, Tapi Memberdayakan
Dedi Mulyadi mengungkap bahwa keberhasilan kanal YouTube-nya tidak diraih sendirian.
Ia mempekerjakan tim profesional, mulai dari videografer, editor, hingga admin media sosial.
Menurut laporan Okezone, salah satu anggota tim bahkan menerima gaji bulanan hingga Rp20 juta.
Dengan kata lain, kanal YouTube Kang Dedi tidak hanya menjadi sumber penghasilan pribadi, tapi juga membuka lapangan kerja bagi banyak orang.
Ini menjadi bukti bahwa platform digital bisa menjadi wadah produktif, bahkan untuk seorang pejabat tinggi daerah.
Konten Humanis dan Dekat dengan Warga
Salah satu kunci kesuksesan kanal Kang Dedi Mulyadi adalah pendekatannya yang humanis. Banyak video yang mengangkat kisah-kisah rakyat kecil, seperti pedagang keliling, petani, dan anak-anak desa.
Dalam banyak unggahannya, Dedi terjun langsung menyelesaikan masalah atau memberi bantuan.
Gaya komunikasinya yang santai dan mudah dipahami membuat kontennya disukai banyak kalangan, dari remaja hingga lansia.
Selain itu, tak jarang konten-konten tersebut menyentuh sisi emosional penonton, sehingga viral di media sosial dan terus meningkatkan jumlah penayangan.
Dibandingkan dengan Gaji Resmi Sebagai Gubernur
Sebagai Gubernur Jawa Barat, gaji pokok yang diterima Dedi Mulyadi adalah Rp3 juta per bulan, ditambah tunjangan sebesar Rp5,4 juta, sehingga total menjadi Rp8,4 juta per bulan.
Di luar itu, ia juga berhak atas biaya penunjang operasional, yang besarannya bervariasi tergantung Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Jika PAD suatu daerah mencapai Rp5 miliar atau lebih, maka kepala daerah bisa memperoleh biaya penunjang hingga Rp125 juta atau maksimal 3% dari PAD.
Namun, angka ini tetap jauh lebih kecil dibandingkan potensi penghasilan yang diperoleh dari aktivitas YouTube.
Bukan Sekadar Uang
Dalam berbagai kesempatan, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa motivasinya aktif di YouTube bukan semata soal uang.
Platform ini dimanfaatkan sebagai media edukasi, advokasi sosial, serta jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
Ia juga ingin memberi inspirasi bahwa siapa pun, termasuk pejabat publik, bisa beradaptasi dengan era digital.
Melalui kanal YouTube-nya, Dedi Mulyadi tak hanya membangun personal branding, tetapi juga memperlihatkan kepedulian nyata terhadap masyarakat, budaya, dan kemanusiaan.
Keberhasilan Dedi Mulyadi di platform YouTube menunjukkan bahwa media sosial, jika digunakan secara bijak, bisa menjadi alat perubahan sosial sekaligus sumber pendapatan luar biasa.
Dengan potensi penghasilan lebih dari Rp5 miliar per bulan, ia menjadi contoh bahwa pejabat publik pun bisa menjadi konten kreator yang produktif dan berdampak luas.