Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Hasil Riset Menunjukkan Interaksi dengan ChatGPT Dikaitkan dengan Berkurangnya Aktivitas Otak

Redaksi Radar Kudus • Senin, 30 Juni 2025 | 18:18 WIB
Ilustrasi ai
Ilustrasi ai

RADAR KUDUS - Kemunculan alat bantu berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), seperti ChatGPT, ternyata dapat memberikan efek negatif terhadap kinerja otak manusia.

Model chatbot berbasis bahasa ini dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis seseorang, terutama jika digunakan secara berulang tanpa disertai latihan berpikir secara mandiri.

Temuan ini berasal dari tim peneliti yang berasal dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Dipimpin oleh Dr. Nataliya Kosmyna dari MIT Media Lab, para peneliti menyampaikan bahwa individu yang sering memanfaatkan ChatGPT dalam menyusun tugas esai mengalami penurunan aktivitas otak secara signifikan.

Studi ini dilakukan terhadap 54 mahasiswa yang berdomisili di wilayah Boston, Amerika Serikat, dalam sebuah riset berjudul "Your Brain on ChatGPT: Accumulation of Cognitive Debt when Using AI Assistant for Essay Writing Task".

Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok dengan metode penulisan esai yang berbeda selama durasi 20 menit.

Kelompok pertama, disebut "Brain-only", ditugaskan menulis tanpa bantuan alat digital apa pun.

Kelompok kedua menggunakan mesin pencari (search engine) sebagai alat bantu.

Kelompok ketiga menggunakan ChatGPT (GPT-4o) secara penuh untuk menyusun esai.

Selama proses penulisan, aktivitas otak para peserta dipantau menggunakan headset EEG (electroencephalogram), yang merekam tingkat konsentrasi serta beban kognitif mereka.

Baca Juga: 8 Legenda Peraih Emas Olimpiade di Cabang Bulutangkis Turun Lagi di Ajang Laga Donasi, Siapa Saja Mereka?

Penelitian ini dilakukan dalam empat sesi selama beberapa bulan untuk mendapatkan data yang konsisten.

Analisis utama didasarkan pada rekaman EEG serta hasil esai yang dievaluasi secara linguistik oleh pengajar manusia dan juga sistem berbasis AI.

Selain itu, wawancara juga dilakukan pasca sesi menulis untuk memperkuat temuan.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa peserta yang mengandalkan ChatGPT mengalami penurunan aktivitas otak hingga 55 persen dibandingkan kelompok yang menulis tanpa alat bantu.

Artinya, penggunaan AI secara terus-menerus dapat membuat otak menjadi kurang aktif karena proses berpikir diambil alih oleh teknologi.

Baca Juga: Duduk Perkara Akun Instagram dan YouTube Masjid Jogokariyan Yogjakarta Kena Blokir Usai Unggah Konten Palestina

Sementara itu, kelompok yang menggunakan mesin pencari menunjukkan penurunan aktivitas otak sebesar 34 hingga 48 persen.

Sebaliknya, kelompok Brain-only menampilkan tingkat keterlibatan otak tertinggi karena mereka sepenuhnya menggunakan daya pikir sendiri.

Menurut para peneliti dari MIT, kelompok ini mengaktifkan jaringan saraf yang lebih kompleks dan tersebar luas saat memproduksi konten secara mandiri.

Kelompok mesin pencari menggunakan strategi visual dan kontrol kognitif, sedangkan kelompok pengguna LLM lebih mengandalkan integrasi dari saran yang diberikan oleh AI.

Perbedaan-perbedaan ini disebut dapat membawa dampak besar terhadap dunia pendidikan dan cara individu menyerap informasi.

Para peneliti juga menemukan bahwa penggunaan ChatGPT dapat mempengaruhi daya ingat.

Dalam pengujian silang, ketika kelompok Brain-only diberi akses penuh pada ChatGPT dan sebaliknya, hasilnya menunjukkan perbedaan yang jelas.

Peserta dari kelompok yang terbiasa menggunakan AI mengalami kesulitan ketika diminta menulis tanpa bantuan, sementara peserta yang awalnya tidak menggunakan AI justru menunjukkan peningkatan aktivitas otak saat diberikan akses ke ChatGPT.

Baca Juga: Liliyana Natsir Siap Kembali Bertanding: Setidaknya Jangan Sampai Terlihat Memalukan

Pada sesi keempat, ketika dukungan AI dihilangkan dari kelompok pengguna awal LLM, kemampuan mereka dalam menyusun tulisan menurun drastis.

Sebaliknya, kelompok Brain-to-LLM mengalami peningkatan signifikan dalam konektivitas otak di seluruh frekuensi EEG saat diberikan akses ke AI pada topik yang sudah mereka kenali.

Temuan ini menegaskan bahwa penggunaan AI bukan hanya memengaruhi kemampuan berpikir, tapi juga berdampak pada memori atau daya ingat seseorang. (Octa Afriana A)

 

Editor : Ali Mustofa
#berpikir kritis #artificial intelegence #Penulisan Esai #ChatGPT