REMBANG – Sinta Nuriyah Wahid datang ke Lasem. Kedatangan Istri dari Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid (Gusdur) untuk buka dan sahur keliling.
Sekaligus menghadiri acara perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili Tahun 2026 di klenteng Tjoe An Kiong, Dasun Lasem.
Istri almarhum Gus Dur datang menggunakan mobil Rabu sore (25/2). Kehadiranya dalam rangka dialog Kebangsaan bertema ”Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi”.
Kurang lebih disana selama dua jam, mulai pukul 17.00 hingga pukul 19.00 malam.
Kedatanganya disambut hangat seluruh tamu undangan.
Mulai dari unsur Forkopimda, termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus klenteng, panitia perayaan Imlek hingga perwakilan organisasi kemasyarakatan.
Menyambut langsung Kapolres Rembang AKBP M. Faisal Pratama, Dandim 0720/Rembang Letkol Arm Winner Fradana Dieng.
Kehadirannya merupakan bentuk dukungan terhadap perayaan Tahun Baru Imlek 2026 sekaligus mempererat tali silaturahmi masyarakat Tionghoa di Lasem.
Selain itu, kegiatan ini bertujuan memperkuat nilai-nilai toleransi, keberagaman, serta menjaga keharmonisan antarumat beragama di Kabupaten Rembang.
Dalam sambutannya, Ny. Gus Dur menekankan pentingnya menjaga persatuan, toleransi, dan semangat kebhinekaan sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Acara kemudian ditutup dengan buka bersama para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh tamu undangan.
Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman, tertib, dan kondusif.
Pengamanan dilakukan secara terpadu oleh aparat keamanan guna memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan penuh khidmat.
Kemudian Kamis (26/2) dini hari, sesuai jadwal Sinta Wahid sahur bersama di rumah merah heritage Lasem di jalan Karangturi IV/5 Lasem.
Pembina lembaga yang menaungi tiga klenteng di Lasem, Klenteng Tjoe An Kiong, Klenteng Poo An Bio dan Klenteng Gie Yong Bio, Rudy Hartono membenarkan kedatangan Sinta Wahid di Lasem untuk buka dan santap sahur bersama.
Sekaligus ceramah atau tausiyah kebangsaan tunggal dilanjutkan dialog.
”Substansi acara pada hakekatnya adalah kampanye atau sosialisasi semangat persatuan, kerukunan, persaudaraan dan anti kekerasan,” kata Rudy mengutip panduan penyelenggaraan. (noe)
Editor : Ali Mustofa