Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Solar Industri Melambung, Nelayan Rembang Mogok Melaut Massal

A
Penulis: Ali Mahmudi❯

 


Advertisement

WISNU AJI/RADAR KUDUSBERSANDAR: Kapal-kapal besar di atas 30 GT bersandar di dermaga TPI Tasikagung, Rembang kemarin.
WISNU AJI/RADAR KUDUS
BERSANDAR: Kapal-kapal besar di atas 30 GT bersandar di dermaga TPI Tasikagung, Rembang kemarin.

 

REMBANG – Puluhan kapal besar di atas 30 GT di Kabupaten Rembang mogok melaut selama hampir sebulan. Penyebab utamanya adalah harga solar nonsubsidi (solar industri) yang melambung tinggi pasca-Lebaran. 

Advertisement

Kondisi ini membuat sebagian pemilik memanfaatkan waktu untuk merenovasi kapal, sementara yang lain terpaksa menjual kapalnya karena rugi besar.

Pantauan Jawa Pos Radar Kudus di Pelabuhan TPI Tasikagung, deretan kapal besar berjajar padat di dermaga sisi barat dan timur. Di sisi barat, puluhan kapal antre perbaikan. Kayu-kayu bahan renovasi ditumpuk di pinggir dermaga, sementara beberapa pemilik mendatangkan tukang dari luar daerah.

Suwartono, juru mudi asal Desa Pasarbanggi, membenarkan mayoritas kapal yang bersandar merupakan kapal besar di atas 30 GT yang menggunakan solar industri. “Harganya masih tinggi dan fluktuatif. Naik setelah Lebaran,” ujarnya.

Advertisement

Kapal-kapal tersebut biasanya melaut selama 22 hari hingga satu bulan ke perairan Bawean dan Masalembu. Namun, sejak kenaikan harga BBM, banyak yang memilih libur sementara. Meski harga ikan naik karena stok menipis, pendapatan tidak sebanding dengan biaya operasional yang membengkak.

Ia memberikan contoh: ikan demang kini Rp 12.000 per kg (biasanya Rp 8.000–9.000), muniran Rp 10.000 (biasanya Rp 4.000–6.000), dan cumi Rp 40.000–90.000 (biasanya Rp 14.000–70.000).

Beban operasional yang memberatkan memaksa sebagian nelayan menjual kapalnya. “Ada yang rugi perbekalan hingga Rp 800 juta. Kapalnya dijual Rp 1,2 miliar hingga Rp1,4 miliar,” ungkap Suwartono.

Bagi yang masih bertahan, sebagian besar memilih melakukan perawatan. Biaya perbaikan bisa mencapai ratusan juta rupiah. “Terakhir saya perbaiki kapal habis Rp 250 juta, termasuk upah tukang,” tambahnya.

Advertisement

Artikel Terkait

65 Keluarga Segera Miliki Rumah, Tentrem Asri Rembang Gelar Akad Massal

65 Keluarga Segera Miliki Rumah, Tentrem Asri Rembang Gelar Akad Massal

Kesempatan memiliki rumah sendiri semakin terbuka bagi masyarakat Kabupaten Rembang. Perumahan Tentrem Asri di Desa Kabongan Kidul, Kecamatan Rembang, kembali menggelar akad massal 65 unit rumah subsidi pada 3–5 November

Pemkab Rembang Kebut Evaluasi DBHCHT 2026, Siapkan RKP 2027

Pemkab Rembang Kebut Evaluasi DBHCHT 2026, Siapkan RKP 2027

Perwakilan OPD DBHCHT mengikuti rapat koordinasi evaluasi pelaksanaan kegiatan DBHCHT Tahun Anggaran 2026 dan persiapan Desk Rencana Kegiatan dan Penganggaran (RKP) DBHCHT 2027, Rabu (4/11).

Disebut Belum Berizin, Pengusaha Air di Sendangmulyo Nekat Beroperasi, Pemdes bakal Klarifikasi

Disebut Belum Berizin, Pengusaha Air di Sendangmulyo Nekat Beroperasi, Pemdes bakal Klarifikasi

Pengisian air komersil di Sendangmulyo, Sluke, tetap beroperasi meski menjadi sorotan warga.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer