REMBANG - Nilai-nilai kerukunan dan keberagaman selalu tercermin di wilayah Lasem, Kabupaten Rembang.
Masyarakat di sini hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang.
Di sana terdapat pesantren, bangunan-bangunan bercorak tionghoa, dan Jawa.
Bahkan, sejarah mencatat, keberagaman ini telah terbukti dapat mewujudkan sebuah kekuatan dan kekompakan dalam melawan penjajahan VOC.
Kehadiran warga tionghoa di Lasem memang memberikan warna bagi perkembangan kota. Sampai saat ini, bangunan-bangunan kuno bercorak Tionghoa mudah sekali ditemui dan masih lestari.
Begitupun juga jejak-jejak sejarah lainnya. Bahkan, baru-baru ini, ditemukan dua prasasti dengan ukiran huruf tionghoa di Pancur Rembang.
Hal ini bisa menunjukkan bahwa masyarakat bisa berdampingan hidup dalam keberagaman.
Masuknya Tionghoa ke Lasem
Bicara tentang masuknya warga tionghoa di Lasem, menurut buku yang berjudul Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga - Sekarang) yang diterbitkan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta disebutkan bahwa ada beberapa versi yang menceritakan tentang kedatangan Tionghoa di Lasem.
Versi yang pertama, menjelaskan kedatangan yang ditandai dengan periode puncak kejayaan Dinasti Han.
Saat itu, Lasem memang memiliki tipikal geografi yang ideal untuk mendirikan sebuah kota.
Hal ini yang menyebabkan pemukiman pelaut Tionghoa yang mendarat di Lasem pada awal abad ke-13 membuat pemukiman permanen di tepi timur sungai.
Versi kedua, dijelaskan bahwa etnis Tionghoa sudah berinteraksi dengan masyarakat sejak abad ke 14 dan 15.
Menurut kitab Badra Santi, dijelaskan bahwa warga Tionghoa memiliki pengaruh penting dalam perkembangan kebudayaan di Lasem.
Kota-kota di pesisir utara Jawa yang menjadi tempat persinggahan dan pemukiman para pedagang Cina yang paling awal antara lain Tuban, Lasem, Rembang, Jepara, Demak, Semarang, Banten, Jakarta, dan lain sebagainya.
Pada masa pemerintahan Dinasti Ming yang berlangsung tahun 1368-1643, orang Tionghoa dari Yunnan semakin banyak melakukan perjalanan ke Nusantara dengan tujuan perniagaan.
Cheng Ho menjadi salah satu yang mendapat mandat memimpin armada laut untuk melakukan perjalanan ke Nusantara. Dari tujuh kali pelayarannya ke Indonesia, Cheng Ho melakukan enam kali pelayaran ke Jawa.
Kompak Melawan VOC
Kekompakan antara warga Tionghoa, Jawa, dan santri di Lasem juga sudah tercatat sejak masa perjuangan.
Berbagai elemen masyarakat bahu membahu melakukan perlawanan terhadap VOC.
Masih dikutip dari buku Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurin Niaga - Sekarang) yang diterbitkan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta, pada tahun 1740, terjadi tragedi persahabatan kaum Tionghoa di Angke (Batavia).
Warga Tionghoa yang lolos dari kekerasan di Batavia kemudian melarikan diri ke beberapa daerah, salah satunya Lasem.
Mereka membentuk pemukiman baru, berada di sebelah utara jembatan Babagan dilintasi jalan yang kemudian menjadi Jalan Raya Pos hingga Desa Soditan.
Pada tahun 1741 VOC mengangkat Hangabei Hanggajaya sebagai bupati Rembang serta mendirikan kantor dagang di Rembang.
Hal itu merupakan salah satu usaha untuk mengikis kekuasaan di Lasem. Tindakan VOC mendapat tentang Adipati Widyaningrat (Oei Ing Kiat) yang dibantu oleh Tan Ke Wie dan Raden Panji Margana.
Terjadilah sebuah peperangan. Oei Ing Kiat dan Raden Panji Margana berinisiatif untuk menyerang Kompeni di Lasem.
Pasukan mereka menyerang pusat
kekuasaan VOC di Rembang, Juana dan Jepara. Perlawanan tersebut dapat dipatahkan.
Meski begitu, perlawanan tetap dilanjutkan, pada tahun 1750, pasukan Lasem yang dipimpin oleh Widyaningrat (Oei Ing Kiat) dan Raden Panji Margana beserta Kiai Baidawi menduduki kedudukan VOC di Rembang.
Baca Juga: Dua Prasasti Tionghoa Ditemukan di Pancur Rembang, Begini Langkah yang Diambil Pemkab
Kiai Baidawi memperkuat perang sabil melawan penjajah setelah salat Jumat.
Perjuangan itu kembali dipatahkan, pada tahun 1751 Kota Lasem kembali dikuasai oleh Kompeni dan pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke Rembang.
Peninggalan Sejarah Tionghoa di Lasem
Sampai saat ini, jejak peninggalan tionghoa masih bisa dilihat di wilayah Lasem. Diantaranya adalah Kelenteng Cu An Kiong yang berada di Desa Soditan.
Klenteng ini diperkirakan sudah ada sejak sekitar abad ke-15.
Selain itu, juga ada klentemg Gie Yong Bio, yang konon dibangun untuk menghormati tiga pahlawan Lasem, yaitu Tan Kee Wie, Oei Ing Kiat, dan Raden Panji Margono.
Klenteng ini memiliki keunikan, yakni adanya patung Raden Panji Margono yang disederhanakan dengan mengenakan pakaian khas Jawa. Patung tersebut Ditempatkan di altar pada salah satu ruangan.
Di sudut-sudut Desa Karangturi dan Soditan saat ini juga masih berdiri rumah-rumah tionghoa yang berusia tua. Sehingga menjadi keunikan tersendiri di Lasem.
Tidak kalah menarik perhatian, baru-baru ini pada Agustus 2024 juga ditemukan sebuah prasasti berukiran hurif tionghoa di Desa Warugunung, Lasem.
Di sana terdapat dua batu prasasti. Saat ini temuan tersebut sudah dilaporkan kepada Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) untuk diteliti lebih lanjut.
Sementara itu, Agni Malagina, Peneliti Sejarah Tionghoa menyebut temuan batu dengan ukiran aksara tionghoa yang ditemukan di Desa Warugunung ini membentuk sebuah puisi.
Ia menilai temuan ini merupakan hal yang langka di Indonesia. Sehingga menurutnya temuan ini layak untuk dilindungi.
Editor : Noor Syafaatul Udhma