Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Menilik Keunikan Masjid Jami' An Nur Desa Sendang, Kalinyamatan, Jepara: Padukan Gaya Arsitektur Mataram Jawa, Turkey-Eropa

Fikri Thoharudin • Selasa, 25 Maret 2025 | 16:34 WIB
EKSOTIS: Masjid Jami
EKSOTIS: Masjid Jami

BERKUNJUNG ke Masjid Jami' An Nur Desa Sendang, Kalinyamatan, Jepara, membawa kesan masuk ke dalam lorong waktu.

Di satu sisi seakan masuk masa abad-abad pencerahan ataupun era Sultan Agung Mataram. Pada sisi yang lain menyadarkan bahwa kini telah masuk ke abad modern.

Hal itu terjadi lantaran bagian luar utamanya sisi pagar masjid dikelilingi batu bata merah selayaknya era kerajaan.

Sementara setelah masuk ke dalam kompleks serambi dan bagian ini masjid penuh dengan ornamen-ukiran modern. Seperti nuansa bangunan-bangunan di Turkey maupun Eropa.

Pengurus atau Panitia Pelaksana Lapangan Agus Hudallah, 41, menyampaikan, bukan tanpa alasan gaya arsitektural masjid dikembangkan sedemikian rupa.

Ini buah karya Agus Sulis atau akrab disapa Mas Icang, arsitektur setempat yang telah masyhur merancang desain bangunan-bangunan masjid.

Huda menyebutkan, saat-saat ini tengah ada renovasi menyeleruh terkait dengan bangunan masjid. Namun tetap mengindahkan karakter dan bangunan asli masjid.

”Di sini yang masih asli ialah empat saka bangunan inti masjid. Kami pertahankan dengan meninggikan dengan umpak. Selain itu, mimbar dan bedug hingga kentongan juga masih asli tinggalan masjid," ucapnya.

Disebutkan, Masjid An Nur ini salah satu masjid tertua di Jepara.

Diriwayatkan dibangun pada masa Bupati Citrosumo III atau sekitar 1755 atau pada masa penjajahan Belanda.

Bahkan riwayat lain, Masjid An Nur dulunya dibangun pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat.

UNIK: Warga tengah berwudu dari kran berbentuk gentong bernuansa kerjaan kemarin.
UNIK: Warga tengah berwudu dari kran berbentuk gentong bernuansa kerjaan kemarin.

”Versi pertama karena didasarkan karena di belakang masjid terdapat kompleks makam Citrosomo. Sedangkan versi kedua banyak yang mendasarkan pada riwayat Desa Sendang pada masa lampau merupakan Tamansarinya Kerajaan Kalinyamat yang berada di Kriyan," jelasnya.

Dalam renovasi terakhir yang kini masih berlangsung, setidaknya sejak 2019 lalu telah habis sekitar Rp 14 miliar.

”Rencananya akan diresmikan pada 27 Maret mendatang oleh gubernur Jawa Tengah," katanya.

Hingga saat ini, masjid tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat. Selain salat maktubah juga ada pengajian tiap pekan maupun selapanan.

”Adanya masjid ini di sisi lain juga dibuat wisata religi. Kini masih proses pembangunan mercusuar ataupun tempat parkir yang nantinya di bagian selatan masjid," sebutnya.

Meski hanya satu lantai, tapi masjid ini tampak megah lantaran dibangun sekitar setengah dari tanah seluas 1.942 meter persegi.

”Masjid sendiri banyak yang menyebut sebagai Satrio Panahan, lantaran bangunannya yang seperti mata panah yang menghadap ke arah timur," imbuhnya.

 

Paket Wisata Religi Makam para Pimpinan Jepara

TAK berbeda jauh dengan Masjid Mantingan yang bersandingan dengan kompleks makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin.

Masjid Jami' An Nur Desa Sendang, Kecamatan Kalinyamatan, juga bersandingan dengan kompleks Makam Adipati Citrosomo I-VII atau para Bupati Jepara di masa Sultan Agung Mataram.

Bahkan, ketika pengunjung berjemaah di masjid ini, arah kiblat atau belakang masjid pun menghampar pemandangan kompleks makam Citrosomo.

Terlebih, ketika jendela berukuran jumbo bergaya abad 18-an tersebut dibuka. Pikiran akan terbang ke era masa-masa kerajaan di waktu itu.

KUNO: Empat soko UNO: Empat soko dipertahankan ipertahankan untuk konstruksi ntuk konstruksi bangunan masjid.
KUNO: Empat soko UNO: Empat soko dipertahankan ipertahankan untuk konstruksi ntuk konstruksi bangunan masjid.

Masjid yang memiliki serambi luas pada kiri-kanan bangunan inti tersebut, acapkali menjadi tujuan peziarah yang berasal dari luar daerah.

Keberadaan Makam Adipati Citrosoma I-VII, bupati Jepara di masa awal dan Bupati Jepara R.M.A.A Sosroningrat beserta Mas Ajeng Ngasirah orang tua RA. Kartini menjadi satu magnet kuat untuk menarik para peziarah.

Sebagaimana diketahui, Adipati Citrosomo I memerintah Jepara pada 1708-1742, kemudian Citrosomo II yang memerintah pada 1742 setelah wafatnya Citrosomo I dimakamkan di Desa Bapangan Jepara.

Lalu Citrosomo III (1755-1778), Citrosomo IV (1778-1784), Citrosomo V (1784-1810), Citrosomo VI (1810-1850), dan Citrosomo VII (1855-1890).

Selain menjadi paket komplet wisata religi, Desa Sendang juga amat cocok bagi para pencinta maupun penelusur sejarah. Karena disebut-sebut berada dalam satu kompleks dengan Kraton Kalinyamat.

Tak hanya itu, Desa Sendang pada zaman dulu dituturkan sebagai kawasan yang turut merupakan tepian pantai.

Hal ini diperkuat jika penduduk setempat menggali sumur, akan didapati kerang dan pasir laut. Terdapat juga situs Watu Ampar yang jika diamati seperti menyerupai dermaga.

”Watu Ampar ini diyakini sebagai dermaganya. Namun, jika dilihat sekilas juga seperti tempat pemujaan umat Hindu," ujar Huda.

Terlepas dari kebenaran sejarah, Desa Sendang sendiri menjadi saksi bisu di mana sejarah juga bergulir di kawasan tersebut.

”Harapannya memang ke depan jadi destinasi wisata religi. Saat ini pun sudah banyak rombongan, ziarah dari luar daerah. Rata-rata transit di Masjid Jami'An Nur sini," imbuhnya. (fik)

Editor : Ali Mustofa
#kalinyamatan #jepara #wisata religi #arsitektur