KUDUS - Pemenuhan nutrisi yang tepat bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memerlukan sinergi yang kuat antara pihak sekolah dan orang tua di rumah.
Menyadari hal tersebut, SLB Negeri Purwosari Kudus menggelar sosialisasi khusus bertajuk "Anak Indonesia Sehat" dengan menggandeng ahli gizi dari SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Glantengan di hari ke dua MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) (14/7).
Wakil Hubungan Masyarakat (Humas) SLB Negeri Purwosari, Ismira Wahyu menjelaskan bahwa sosialisasi ini sengaja melibatkan para wali murid agar pola makan anak saat berada di sekolah bisa sejalan dengan penerapannya di rumah.
Pihak sekolah berkomitmen menjaga asupan gizi secara ketat, salah satunya lewat penyesuaian menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Harapannya, gizi di sekolah dan di rumah itu sinkron. Di sekolah kami sudah menjaga asupan makanan melalui program MBG yang di request sedemikian rupa sesuai kebutuhan ABK. Sayang sekali kalau di sekolah sudah diatur, tapi di rumah anak-anak masih diberi mie instan atau cokelat karena konsumsi bahan tertentu seperti mie," ujar ismira.
Pentingnya pembatasan asupan makanan tertentu bagi ABK dibenarkan oleh ,Ahli Gizi SPPG Lantengan, risma yang menjadi pemateri utama.
Ia menekankan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memiliki sensitivitas dan kebutuhan kandungan gizi yang berbeda dari anak-anak pada umumnya.
"Ada beberapa bahan makanan yang memang tidak boleh atau harus dibatasi konsumsinya oleh adik-adik di sini, contohnya makanan yang mengandung gluten seperti mie instan, makanan kemasan, hingga penyedap rasa berlebih (micin). Sebaliknya, konsumsi makanan alami seperti buah dan sayur harus lebih ditingkatkan," terang Risma dalam sosialisasinya.
Baca Juga: Bupati Jepara Usulkan Didirikan SLB Baru, Penuhi Kebutuhan Pendidikan Inklusif
Edukasi ini disambut baik oleh para wali murid yang hadir, salah satunya adalah Sutriani.
Menurutnya, pemaparan langsung dari ahli gizi sangat membantu orang tua memahami jenis makanan yang aman dan tidak aman bagi anak khusus, meskipun ia mengakui tantangan terbesar di rumah adalah menyiasati selera anak yang sangat pemilih.
"Penyampaian materinya bagus, dan kami orang tua bisa memahami, ya kadang memang anak-anak banyak ga sukanya, seleranya berbeda-beda dan tidak bisa disamaratakan." tutur Ibu Sutriani. (Nuril Baiti Amiliah)
Editor : Ali Mustofa