B50 Segera Hadir di Semua SPBU, Pemerintah Bidik Hemat Devisa Rp170 Triliun

JAKARTA – Pemerintah terus mempercepat transformasi sektor energi nasional melalui penerapan mandatori biodiesel B50. Setelah resmi diberlakukan sejak awal Juli 2026, pemerintah kini menargetkan seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia telah menjual B50 mulai 1 Oktober 2026.
Kebijakan tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), sekaligus memperkuat pemanfaatan energi terbarukan berbasis sumber daya domestik.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan saat ini pemerintah tengah menjalankan masa transisi selama tiga bulan agar seluruh infrastruktur distribusi dan pasokan biodiesel siap beroperasi secara penuh.
"Targetnya pada 1 Oktober 2026 seluruh SPBU sudah menjual B50," ujarnya dalam keterangan resmi.
Indonesia Jadi Negara Pertama Terapkan B50 Secara Nasional
Program B50 menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan campuran biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 50 persen secara nasional.
B50 merupakan bahan bakar diesel yang terdiri atas campuran 50 persen biodiesel berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang diolah dari minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) dan 50 persen solar berbasis minyak bumi.
Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari program mandatori biodiesel yang telah dijalankan pemerintah sejak tahun 2008. Saat itu campuran biodiesel baru mencapai B2,5, kemudian meningkat secara bertahap menjadi B5, B10, B20, B30, B35, hingga kini mencapai B50.
Peningkatan komposisi biodiesel dilakukan secara bertahap setelah melalui serangkaian uji teknis terhadap mesin kendaraan, alat berat, sektor industri, pembangkit listrik, hingga transportasi.
Target Besar Kurangi Impor BBM
Pemerintah menilai implementasi B50 menjadi salah satu strategi utama dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Selama ini Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan bahan bakar minyak untuk memenuhi konsumsi domestik. Dengan memperbesar penggunaan biodiesel berbahan baku sawit dalam negeri, kebutuhan impor solar dapat ditekan secara signifikan.



