Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Peningkatan Kinerja Guru melalui Aspek Kepemimpinan, Budaya dan Motivasi Kerja

Ali Mustofa • Senin, 12 September 2022 | 16:01 WIB
Rohmat (Dok Pribadi)
Rohmat (Dok Pribadi)
PENDIDIKAN adalah salah satu upaya memperluas ilmu yang berkaitan dalam membentuk perilaku, nilai dan sikap. Guru merupakan elemen penting dalam pendidikan dan sebagai penentu tinggi rendahnya kualitas pendidikan. Undang-undang No. 14 Tahun 2005 menyatakan guru sebagai pendidik profesional yang mengemban tugas pendidikan, pengajaran, pembimbingan, pengarahan, pelatihan, penliaian, dan pengevaluasian peserta didik disetiap jenjang pendidikan formal dari anak usia dini, dasar, dan menengah. Keberhasilan pendidikan ditentukan salah satunya oleh kinerja guru di sekolah.

Kinerja guru memiliki peranan sangat penting dalam mencapai tujuan sekolah dan peningkatan mutu pendidikan. Kinerja guru pun sebagai penentu dalam keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, harus ada hasil yang diperlihatkan dari kinerja guru agar dapat bekerja dengan optimal sehingga tujuan pendidikan yang berkualitas tinggi dapat tercapai. Pendidikan di Indonesia pada tahun 2016 berada pada urutan kesepuluh, bahkan untuk kualitas guru berada pada urutan terakhir dari empat belas negara berkembang.

Data tersebut berdasarkan hasil monitoring dari Global Education Monitoring (GEM) Report 2016 oleh UNESCO. Pada tahun 1999 hingga 2000, terjadi kenaikan yang signifikan sebesar 382 persen atau tiga juta lebih dari total guru, sedangkan jumlah peserta didik hanya mengalami kenaikan sebesar tujuh belas persen saja sehingga hal ini berbanding terbalik dengan kenaikan total guru. Dengan jumlah kenaikan total guru tersebut, masih terdapat duapuluh lima persen guru belum memenuhi kualifikasi akademik dan lima puluh dua persen guru yang belum bersertifikat profesi (Mariatie, dkk, 2021).

Keberhasilan pendidikan sesungguhnya akan terjadi bila ada interaksi antara tenaga pendidik dengan peserta didik. Guru Sebagai tenaga pendidik merupakan pemimpin pendidikan yang amat menentukan dalam proses pembelajaran di kelas, dan peran kepemimpinan akan tercermin dari guru melaksanakan peran dan tugasnya, ini berarti bahwa kinerja guru merupakan faktor yang amat menentukan bagi umum pembelajaran pendidikan yang akan berimplikasi pada kualitas output pendidikan setelah menyelesaikan sekolah. Kinerja guru pada dasarnya merupakan kinerja atau unjuk kerja yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik (Rusmaladi, dkk, 2021).

Kinerja mengajar guru pada dasarnya merupakan unjuk kerja yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Kualitas kinerja mengajar guru akan sangat menentukan kualitas hasil pendidik, karena guru merupakan pihak yang paling banyak bersentuhan langsung dengan siswa dalam pendidikan/pembelajaran di sekolah. Kinerja mengajar dikatakan berkualitas apabila seorang guru dapat menampilkan kelakuan yang baik dalam usaha mengajarnya. Sementara itu, ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi kinerja seorang guru antara lain kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi dan motivasi kerja (Rusmaladi, dkk, 2021).

Peran dan fungsi yang harus dilaksanakan kepala sekolah sebagai seorang pemimpin seperti yang dijelaskan oleh Dinas Pendidikan diantaranya sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator dan motivator. Indikator atau peran tersebut adalah meningkatkan dan memperbaiki situasi belajar mengajar dan prioritas utamanya yaitu memperbaiki dan meningkatkan mutu belajar dengan memperbaiki tingkat kinerja guru yang menanganinya, karena guru memiliki potensi besar pada dirinya masing-masing (Mulyasa, 2013:97).

Hal ini bermakna bahwa fungsi dari kepemimpinan merupakan suatu pendorong semua bawahan dalam hal ini adalah guru untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuan maksimal mereka. Agar para guru dengan penuh kemauan serta sesuai dengan kemampuan secara maksimal berhasil mencapai tujuan, kepala sekolah harus mampu membujuk dan meyakinkan guru agar melaksanakan tugas-tugas dengan penuh kesadaran, maka kepala sekolah bertanggung jawab untuk menyediakan segala dukungan, peralatan, fasilitas, peraturan dan suasana yang mendukung kegiatan. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Sedarmayanti yang menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu kesiapan dan kemampuan seseorang untuk membimbing, mempengaruhi dan mengelola atau mengarahkan orang lain agar mereka mau berbuat sesuatu agar tercapai tujuan bersama. Maka dalam mempengaruhi bawahannya untuk mengerjakan tugas dengan baik kemampuan pemimpin sangat mempengaruhi. Dengan demikian, seorang kepala sekolah sebagai pemimpin di sekolah harus dapat membimbing dan mengarahkan guru ke arah yang ingin dicapai.

Kinerja guru dapat dilihat dari empat hal 1) quality of work; 2) promptness; 3) initiative; 4) capability. Faktor lain yang mempengaruhi kinerja seorang guru adalah Gaya Kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan ujung tombak dalam pencapaian kinerja guru. Dalam hal ini dimaksudnya lebih kepada penerapan visi misi dan tugas-tugas yang diberikan kepada para pendidik disekolah secara tegas. Kepemimpinan disini diartikan kepada seorang kepala sekolah. Peran kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja mengajar guru memiliki implikasi bahwa perlu mengalihkan perhatian dari sekedar melakukan pembinaan administratif menjadi pusat pembinaan profesional dengan perhatian pada peningkatan kinerja mengajar guru dalam melakukan proses belajar mengajar di kelas.

Kepala sekolah sebagai pemimpin dalam pendidikan formal perlu memiliki wawasan kedepan. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk mewujudkan, visi, misi, tujuan dan sasaran sekolahnya melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Kepala sekolah yang berkualitas harus mampu mempengaruhi, menggerakan, memotivasi, megajak, mengarahkan, menasehati, membimbing, menyuruh, memerintah, melarang, dan bahkan memberikan sanksi, serta membina guru dalam rangka mencapai kinerja sekolah secara efektif sekolah secara efektif dan efisien. Melalui peningkatan kinerja guru dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, diharapkan prestasi kerja guru dapat mencapai hasil yang optimal (Rusmaladi, dkk, 2021).

Kualitas kepemimpinan baru dapat dicapai apabila dalam diri setiap pemimpin tumbuh kesadaran dan pemahaman yang mendalam terhadap makna kepemimpinan dengan segala aspeknya seperti prinsip-prinsip, berbagai persyaratan dan fungsi-fungsi kepemimpinan, sehingga pemimpin mampu mengembangkan keterampilan serta mewujudkan berbagai fungsi kepemimpinan yang diperlukan. Pemimpin yang efektif harus belajar dari kesalahan pada masa lalu dan berusaha memperbaiki dengan cara yang bijak dan memberikan kesempatan kepada bawahan untuk meberikan kritik dan saran perbaikan (Rusmaladi, dkk, 2021).

Indikator kepemimpinan kepala sekolah meliputi pemrakarsa pembaharuan (agen of innovation) dalam KMB, pembaharuan dalam pembinaan guru, pembaharuan dalam kegiatan ekstrakurikuler, mengenali sumber daya bersama komite sekolah, kerjasama kemitraan, keteladanan, demokratis dan transparan, penataan lingkungan kerja, menyusun program supervisi pengajaran, melaksanakan program supervisi pengajaran dan memanfaatkan hasil supervisi pengajaran (Mariatie, dkk, 2021).

Budaya organisasi mengendalikan anggota organisasi dalam berinteraksi dengan berbagai pihak. Fattah (2019) mengatakan bahwa budaya organisasi adalah seperangkat nilai-nilai bersama dan norma-norma yang mengendalikan anggota organisasi berinteraksi satu sama lain dengan pemasok, pelanggan, dan orang lain di luar organisasi.

Dalam redaksi bahasa yang berbeda menurut Raharjo (2016), bahwa budaya yang diciptakan organisasi mempengaruhi perilaku karyawan dan pelaksanaan budaya organisasi dipengaruhi oleh budaya yang dibawa oleh pribadi-pribadi dalam berorganisasi. Budaya organisasi sangat berpengaruh terhadap perilaku semua anggota organisasi.

Sudah menjadi kewajiban organisasi untuk membangun arah dan strategi pembentukan budaya yang kuat sehingga dipatuhi oleh semua anggotanya. Bahkan menurut Fattah (2019) bahwa budaya organisasi adalah suatu kekuatan yang tidak terlihat,tetapi dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan tindakan orang-orang yang bekerja dalam suatu organisasi. Budaya organisasi berpengaruh langsung terhadap orang-orang dalam organisasi untuk melakukan suatu yang benar.

Budaya organisasi sendiri merupakan sistem nilai bersama dalam suatu organisasi yang menentukan tingkat bagaimana para pegawai/karyawan melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi. Budaya organisasi yang dimaksud yang akan diterapkan di sekolah agar menjadi pemicu untuk meningkatnya kinerja tenaga pendidik di mana budaya organisasi akan diterapkaan. Secara umum, penerapan konsep budaya organisasi di sekolah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan penerapan konsep budaya organisasi lainnya dan hal ini berlaku pula bagi guru (Sutrisno, 2013).

Robbins (2014), mengemukakan bahwa ada tujuh dimensi yang secara keseluruhan menangkap hakikat budaya organisasi. Dimensi-dimensi itu antara lain inovasi dan pengambilan resiko, perhatian terhadap detail, orientasi hasil, orientasi individu, orientasi tim, agresivitas dan stabilitas.

Motivasi dapat berkembang melalui diri individu itu sendiri (internal) dan lingkungan sekitar (eksternal). Adapun faktor-faktor internal yaitu tingkat pendidikan, pembawaan individu, keinginan atau harapan masa depan, dan pengalaman masa lampau. Faktor eksternal meliputi kompensasi, lingkungan kerja, kepemimpinan dan pemimpin, dorongan atau bimbingan atasan serta tuntutan perkembangan organisasi atau tugas.

Dengan adanya perubahan energi yang disertai feeling dan afeksi seseorang merupakan awal terjadinya motivasi dan ini berhubungan dengan masalah kejiwaan, afeksi dan emosi sebagai bentuk tingkah laku manusia disertai adanya tujuan. Motivasi kerja seorang guru merupakan keinginan kerja dalam mencapai tujuan atau prestasi dimana dapat mempengaruhi, mengarahkan, membangkitkan dan memelihara perilaku guru tersebut. Oleh karena itu, dalam meningkatkan kinerjanya maka seorang guru memerlukan motivasi kerja didalam dirinya yang akan memberikan semangat sehingga menghasilkan kinerja yang berkualitas dan berkuantitas (Mariatie, dkk, 2021).

Memberikan motivasi kepada pegawai oleh pimpinannya merupakan proses kegiatan pemberian motivasi kerja, sehingga pegawai tersebut berkemampuan untuk pelaksanaan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab. Tanggung jawab adalah kewajiban bawahan untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin yang diberikan oleh atasan, dan inti dari tanggung jawab adalah kewajiban (Siagian, 2014:286).

Motivasi kerja tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa indikator yaitu terpenuhinya kebutuhan sandang dan pangan, adanya tempat tinggal, adanya jaminan jiwa waktu kerja, adanya jaminan pengembangan karier, adanya jaminan perhatian dari atasan, adanya jaminan bahwa segala perbuatan yang positif dihormati dan dihargai orang lain, adanya jaminan bahwa prestasinya dihargai dalam bentuk reward berupa pujian, sertifikat dan seremonial, adanya kesempatan untuk berkreasi dan diberi kesempatan untuk berprestasi (Mariatie, dkk, 2021). (adv) Editor : Ali Mustofa
#budaya kerja #tenaga pendidik #kepemimpinan #pendidikan #motivasi