PATI – Ribuan nelayan di wilayah Juwana, Kabupaten Pati, menggelar aksi damai menuntut kebijakan harga BBM non-subsidi yang dinilai mencekik keberlangsungan melaut. Aksi yang dipusatkan di kawasan pelabuhan ini dipicu oleh melonjaknya harga BBM industri yang mencapai angka Rp30.000 per liter.
Ribuan massa nelayan memadati jalanan di depan gerbang utama Kantor Bupati Pati. Kerumunan terlihat sangat rapat.
Mereka membawa semacam spanduk. Massa mengangkat tangan atau poster kecil sebagai bentuk dukungan.
Tulisannya di antaranya, "Nelayan Juwana Menggugat" "Harga BBM Non-Subsidi Mencekik Nelayan"
"Kembalikan Kesejahteraan Nelayan":
Terlihat sebuah mobil pick-up dan truk dilengkapi dengan pengeras suara besar dan sound system. Mobil ini digunakan oleh para koordinator lapangan untuk memimpin yel-yel dan menyampaikan orasi.
Di lapis depan (dekat pintu gerbang), terlihat barisan personel kepolisian dan Satpol PP yang berjaga untuk memastikan aksi tetap tertib. Mereka membentuk pagar betis di depan pagar besi kantor bupati.
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Muhammad Agung, menyatakan bahwa kondisi saat ini telah menyebabkan krisis pangan bagi keluarga nelayan. Menurutnya, biaya operasional yang tidak sebanding dengan hasil tangkapan membuat mayoritas kapal kini hanya bersandar di pelabuhan.
"Saat ini hanya sekitar 15 persen kapal yang berangkat, itu pun menggunakan sisa BBM lama. Sekitar 1.500 hingga 1.600 unit kapal saat ini mangkrak tidak bisa melaut," ujar Agung saat memberikan keterangan.
Para nelayan menuntut pemerintah menetapkan harga BBM khusus bagi nelayan perikanan tangkap. Maksimal sebesar dua kali lipat harga solar subsidi, atau di kisaran Rp13.600 per liter.
Ia juga menambahkan bahwa banyak kapal yang saat ini dalam perjalanan pulang dari perairan Papua. Karena kehabisan biaya operasional.
"Kami tidak mengancam, tapi kami menuntut. Jika aksi ini tidak segera direalisasikan oleh pemerintah pusat, kami siap mengawal tuntutan ini langsung ke Jakarta," tegasnya.
Menanggapi tuntutan tersebut, Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra turun langsung menemui massa aksi. Di hadapan para nelayan, ia menyatakan dukungannya dan mengakui bahwa sektor perikanan adalah tulang punggung ekonomi Kabupaten Pati.
"Kami sangat memahami kondisi panjenengan semua. Jika nelayan berhenti melaut, maka ekonomi Pati juga akan terganggu," ujar dia dalam orasinya di atas mobil komando.
Chandra berjanji akan segera menindaklanjuti aspirasi tersebut secara formal. Ia memastikan bahwa Pemerintah Kabupaten Pati akan mengirimkan surat dukungan resmi kepada pemerintah pusat dan kementerian terkait paling lambat esok hari.
"Apa yang menjadi tuntutan sudah kami terima. Kami akan kawal dan suarakan jeritan hati nelayan Pati ke Jakarta. Saya minta bapak-bapak tetap tenang dan tertib," pungkasnya.
Setelah itu, Forkopimda Kabupaten Pati bersama perwakilan nelayan menandatangani semacam kesepakatan. Intinya, mereka sepakat untuk mengawal aspirasi dari para nelayan ke pemerintah pusat. (adr)
Editor : Faidhil Falah