Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Demo pati 13 Agustus 2025: Ratusan Mantan Pegawai RSUD Soewondo Turun ke Jalan, Desak Bupati Sudewo Mundur

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 13 Agustus 2025 | 18:25 WIB
Demo di pati 13 Agustus 2025
Demo di pati 13 Agustus 2025

Pati – Gelombang aksi unjuk rasa besar yang digelar di Alun-alun Simpang Lima Pati, Jawa Tengah, pada Rabu (13/8/2025) mendapat dukungan tambahan dari ratusan mantan tenaga kesehatan RSUD Soewondo Pati.

Mereka ikut turun ke jalan, menuntut dipekerjakan kembali serta mendesak Bupati Sudewo mengundurkan diri.

Rombongan mantan pegawai ini datang membawa spanduk dan poster yang berisi tuntutan. Sebagian besar dari mereka pernah bekerja di RSUD Soewondo sebagai pegawai honorer dan telah mengabdi belasan hingga puluhan tahun.

Namun, mereka mengaku diberhentikan secara sepihak tanpa adanya solusi atau pesangon yang layak.

Agus, salah satu perwakilan mantan pegawai, menyebut sedikitnya ada 220 orang yang kehilangan pekerjaan akibat kebijakan tersebut.

Menurutnya, keputusan Bupati Sudewo diambil tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi terhadap warga yang terdampak.

“Yang dipecat ada 220 orang. Kami turun ke jalan untuk menuntut hak kami sebagai karyawan yang telah mengabdi bertahun-tahun.

Tuntutan kami jelas: kembalikan kami bekerja di RSUD Soewondo,” ujar Agus saat diwawancarai di lokasi aksi.

Agus menilai, langkah ini bertolak belakang dengan janji kampanye Sudewo yang pernah berkomitmen membuka lapangan kerja baru. Kenyataannya, kata dia, banyak warga justru kehilangan pekerjaan sejak Sudewo menjabat.

Kebijakan yang Menuai Kontroversi

Para peserta aksi menyatakan, kebijakan yang diambil Sudewo selama enam bulan masa jabatannya sering kali menimbulkan polemik.

Mereka khawatir jika dibiarkan, akan muncul keputusan-keputusan baru yang berpotensi merugikan masyarakat, terutama di tengah situasi ekonomi yang belum pulih.

“Sejak bupati ini menjabat, banyak kebijakan berubah drastis dan justru memberatkan rakyat,” lanjut Agus.

Selain menuntut pengembalian status kerja mereka, para mantan pegawai ini juga mendukung penuh desakan agar Sudewo mundur.

Mereka menilai kebijakan Sudewo berisiko meningkatkan angka pengangguran dan memicu keresahan di kalangan warga Pati.

Bergabung dengan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu

Aksi pada 13 Agustus ini diinisiasi oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, yang menampung berbagai elemen masyarakat untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan Bupati Sudewo.

Mantan pegawai RSUD Soewondo memilih bergabung karena merasa perjuangan mereka sejalan dengan aspirasi aliansi.

Sejak pagi, ribuan orang dari berbagai penjuru Kabupaten Pati memadati pusat kota. Massa datang dengan berbagai moda transportasi, mulai dari sepeda motor hingga truk bak terbuka, membawa bendera merah putih, spanduk, dan atribut tuntutan.

Puncak Gelombang Protes

Aksi 13 Agustus disebut sebagai puncak dari serangkaian unjuk rasa yang telah berlangsung sejak beberapa pekan terakhir.

Salah satu pemicu utamanya adalah kebijakan Bupati Sudewo menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga 250 persen.

Meski akhirnya kebijakan tersebut direvisi setelah gelombang protes besar, warga tetap melanjutkan aksi karena merasa sudah terlalu banyak kebijakan yang merugikan.

Mantan pegawai RSUD Soewondo melihat momentum ini sebagai kesempatan memperjuangkan nasib mereka. Mereka berharap suara mereka terdengar jelas oleh pemerintah daerah.

Situasi di Lapangan

Hingga sore hari, dukungan terhadap aksi terus mengalir. Elemen masyarakat dari berbagai latar belakang ikut meramaikan, membuat kawasan Alun-alun Simpang Lima penuh sesak.

Aparat keamanan disiagakan di berbagai titik untuk memastikan aksi berlangsung tertib.

Kepolisian Resor Kota Pati telah menyiapkan strategi pengamanan berlapis, termasuk melakukan penyekatan di pintu masuk kabupaten untuk mencegah potensi masuknya kelompok luar yang dapat memicu kerusuhan.

Kapolresta Pati Kombes Pol Jaka Wahyudi menegaskan, pendekatan yang digunakan aparat lebih mengutamakan cara persuasif dan komunikasi yang humanis.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk menjaga ketertiban demi nama baik Kabupaten Pati.

Tuntutan yang Tak Surut

Bagi mantan pegawai RSUD Soewondo, tuntutan utama mereka jelas: mengembalikan hak bekerja yang telah hilang.

Mereka menilai kebijakan pemecatan massal tanpa kompensasi adalah bentuk ketidakadilan yang tidak bisa diterima.

“Kami tidak akan berhenti sampai tuntutan dipenuhi. Kami ingin bekerja kembali, karena inilah mata pencaharian kami selama bertahun-tahun,” tegas salah satu peserta aksi.

Dengan dukungan massa yang semakin besar, tekanan terhadap Bupati Sudewo kian menguat.

Meski belum ada pernyataan resmi dari pihak bupati terkait tuntutan mantan pegawai RSUD, aksi protes ini menunjukkan ketidakpuasan masyarakat terhadap arah kebijakan pemerintah daerah.


3 Alternatif Judul Online

  1. 220 Mantan Pegawai RSUD Soewondo Ikut Demo Pati, Tuntut Kerja Kembali dan Desak Sudewo Mundur

  2. Tak Terima Dipecat, Ratusan Eks Pegawai RSUD Soewondo Geruduk Alun-alun Pati

  3. Aksi 13 Agustus Memanas, Mantan Pegawai RSUD Pati Turun ke Jalan Desak Bupati Lengser


Rangkuman 140 Karakter

 

Editor : Mahendra Aditya
#RSUD Soewondo #pati demo #Tuntut Bupati Sadewo mundur #Polda Jateng pengamanan demo di Pati #RSUD Soewondo Pati #pemdes pati #pati #Aksi demontrasi di Pati #Mantan Pegawai RSUD Soewondo #demo besar pati 13 agustus #pati memanas #2684 personel gabungan dikerahkan amankan demo pati #Demo di Pati #pengamanan demo pati #Pengamanan demo di Pati #Bupati Sudewo mundur #Bupati Pati Sudewo #demo pati #bupati pati sudewo didesak mundur