Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gaji Tak Cukup, Umi Musyarofah, Seorang Guru Honorer di Pati Ini Merangkai Buket demi Bertahan

Andre Faidhil Falah • Sabtu, 15 Februari 2025 | 23:46 WIB
DIRANGKAI: Umi Musyarofah, salah satu guru TK di Tambakromo merangkai bunga ke buket di kediamannya Desa Karangmulyo, Tambakromo pada Sabtu (15/2) sore.
DIRANGKAI: Umi Musyarofah, salah satu guru TK di Tambakromo merangkai bunga ke buket di kediamannya Desa Karangmulyo, Tambakromo pada Sabtu (15/2) sore.

PATI – Umi Musyarofah, seorang guru TK di Pati, harus mencari cara lain untuk menambah penghasilan.

Gaji yang diterimanya sebagai tenaga pengajar honorer di TK Wisanggeni, Desa Karangmulyo, Tambakromo, tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Demi bertahan, ia merangkai buket bunga di sela-sela kesibukannya sebagai pendidik.

Baca Juga: Guru Honorer Tak Masuk Dapodik Terancam Tak Bisa Daftar PPPK, Berharap Ada Kebijakan Baru di Lokasi Khusus

Setiap pagi, perempuan berusia 27 tahun ini berangkat ke sekolah untuk mendidik anak-anak usia dini. Ia menjalankan tugasnya dengan penuh kesabaran, meski upah yang diterima jauh dari layak.

“Dulu awal-awal gaji saya Rp 200 ribu per bulan, sekarang alhamdulillah sudah naik jadi Rp 275 ribu,” ujarnya.

Bagi Umi, menjadi guru honorer dengan gaji minim adalah bagian dari proses hidup yang harus dijalani. Ia menganggapnya sebagai pengalaman dan pembelajaran. Namun, kenyataan bahwa gajinya tak mencukupi membuatnya harus mencari sumber pendapatan tambahan.

Mengandalkan Buket Bunga

Sepulang mengajar, Umi sibuk merangkai bunga. Tangannya terampil menyusun mawar merah, mengikatnya dengan kain, lalu membentuknya menjadi buket yang indah.

Pekerjaan ini ia geluti sejak 2019, bermodalkan keterampilan yang didapat ketika masih kuliah di Sarang, Rembang.

"Saya belajar merangkai buket waktu kuliah dulu. Kampusnya Mbah Maimun, sekaligus mondok di sana," tuturnya.

Meski tidak selalu ramai pembeli, Umi tetap konsisten menjalankan usaha sampingannya.

Biasanya, buket buatannya laris ketika ada momen tertentu, seperti wisuda atau ulang tahun. “Kalau hari biasa, paling hanya laku tiga.

Tapi kalau ada momen kelulusan, bisa lebih ramai,” katanya.

Terhalang Aturan PPPK

Seperti banyak guru honorer lainnya, Umi juga ingin mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik.

Namun, impian untuk menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) pupus karena aturan baru yang mengharuskan pendaftar memiliki latar belakang pendidikan yang linier dengan bidang yang diajarkan.

“Jurusan saya tidak pendidikan, jadi tidak bisa daftar PPPK,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Meski demikian, Umi tetap bersemangat mengejar cita-citanya.

Ia tak ingin berhenti hanya sampai di sini. “Pengen lanjut S2, S3. Harus tinggi cita-cita itu. Masak kalau ada niat tidak ada jalannya?” tegasnya optimis.

Bagi Umi, keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Dengan semangat dan kerja keras, ia terus berusaha mencari jalan terbaik untuk masa depan dirinya dan keluarganya. (adr)

Editor : Mahendra Aditya
#pati #pppk #guru honorer #guru tk #dapodik #anggaran #pendidikan