Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenang Transportasi Kereta Api di Pati yang Pernah Hilang Akibat Jumlah Penumpang Merosot

Ali Mustofa • Jumat, 19 Januari 2024 | 23:21 WIB
TINGGAL SEJARAH: Stasiun Puri Pati pada masa kolonial Belanda.
TINGGAL SEJARAH: Stasiun Puri Pati pada masa kolonial Belanda.

 

PATI - Wilayah Kabupaten Pati di masa lalu memiliki jalur kereta api. Bahkan kereta api sudah masuk di wilayah ini sejak 1881.

Ini seiring dengan kehadiran perusahaan kereta api swasta Belanda. Yaitu Semarang – Joana Stroomtram Maatschappij (SJS) yang didirikan di Gravenhage, Belanda pada tahun 1881.

Sejarawan Kota Pati Ragil Haryo menjelaskan, wilayah Pati merupakan wilayah yang penting bagi Kolonial Belanda.

Letak Pati yang strategis di Pantai Utara Jawa. Pati menjadi titik tengah dari Kabupaten-kabupaten di wilayah utara seperti Kudus, Jepara, Rembang, Blora, dan Grobogan.

Selain itu Pati juga dijadikan sebagai pusat pemerintahan di antara kabupaten-kabupaten tersebut dengan ditempatkan Asisten Residen di bawah Residen.

Bisa dikatakan Pati menjadi ibukota Karesidenan yang berdampak pada pembangunan Kota Pati.

KINI: Bekas Stasiun Puri di Kota Pati menjadi tempat usaha seperti warung makan dan juga tempat karaoke.
KINI: Bekas Stasiun Puri di Kota Pati menjadi tempat usaha seperti warung makan dan juga tempat karaoke.

“Wilayah Pati sendiri memiliki potensi ekonomi yang besar yaitu penghasil terbesar komoditi gula, kapuk, kayu jati, tras dan bahan kontruksi yang lain yang merupakan tambang emas angkutan organisasi bisnis SJS,” ujar Ragil.

“Hasil-hasil komoditi dari Pati agar menjadi lebih lancar pengangkutannya maka kemudian Perusahaan Kereta Api Belanda yaitu Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) membuka usahanya dengan melayani rute awal Semarang menuju Juana dan kemudian berkembang ke Tayu dan juga Rembang serta Blora," ujar Ragil.

"SJS merupakan perusahaan Belanda yang awal berdiri dan bergerak di bidang tranportasi,” jelasnya.

Ragil menjelaskan, transportasi kereta api di wilayah Pati bertahan hingga di masa kemerdekaan Republik Indonesia.

Jalur-jalur kereta di wilayah ini beroperasi dibawah naungan DKA, dan PJKA pada tahun 1970.

“Namun berkembangnya zaman, jalur-jalur ini terus berguguran satu persatu. Jalur rel Juwana-Tayu pada akhirnya ditutup tahun 1990-an sebelum akhirnya dibongkar seluruhnya pada tahun 1996,” paparnya.

“Hampir semua armada yang digunakan oleh SJS adalah kapal (lokomotif) uap dan memegang peranan penting di masa kolonial," ujarnya.

"Penutupan itu sebagai akibat penurunan penumpang yang sangat drastis karena adanya angkutan darat desa dengan memakai colt 120 Mitsubishi buatan Jepang,” lanjutnya.

Melihat kondisi perkembangan saat ini dengan kepadatan jalur pantura kehadiran kereta api di wilayah ini dinilai sangat dibutuhkan.

“Mengingat jumlah kendaraan yag saat ini banyak sekali dan tingginya angka kecelakaan di jalur pantura," ujarnya.

"Apalagi jalan raya yang tidak tahan lama menyebabkan kendala tersendiri untuk kelancaran, padahal ini hari tuntutan kerja untuk mobilitas sangat tinggi,” pungkasnya. (aua/him)

Editor : Ali Mustofa
#kereta api #penumpang #pati #kecelakaan #jalur pantura