RADAR KUDUS — Stadion 17 Mei Banjarmasin kembali menunjukkan reputasinya sebagai kandang yang sulit ditaklukkan. Dalam duel sarat tensi pada pekan ke-14 Pegadaian Championship 2025–2026, Barito Putera sukses menundukkan Persiku Kudus dengan skor tipis 1-0, Senin (5/1/2026).
Kemenangan ini bukan sekadar soal tiga poin. Ia adalah potret kedewasaan tim, disiplin taktik, dan ketangguhan mental Laskar Antasari—bahkan ketika harus bertahan dengan sepuluh pemain selama lebih dari seperempat laga.
Kandang Lama, Energi Baru
Setelah cukup lama tidak tampil di Stadion 17 Mei, Barito Putera seolah menemukan kembali denyut aslinya. Dukungan publik tuan rumah memberi energi ekstra sejak menit awal. Tempo permainan langsung ditekan tinggi, menandakan niat tuan rumah untuk menguasai pertandingan sejak peluit dibunyikan.
Peluang cepat tercipta pada menit kedua lewat bola mati Renan Alves. Sepakan bebasnya nyaris membuka skor, namun bola masih melayang tipis di atas mistar gawang Persiku yang dijaga Wibowo Agus Nuri.
Sejak momen itu, satu hal terlihat jelas: Barito Putera tidak ingin membuang waktu.
Dominasi Tanpa Gol di Babak Pertama
Sepanjang 45 menit pertama, Barito Putera tampil dominan dalam penguasaan bola dan distribusi serangan. Namun dominasi tersebut berulang kali mentok di tembok pertahanan Persiku yang tampil disiplin dan rapat.
Persiku memilih pendekatan pragmatis. Mereka bertahan dalam blok rendah, menunggu celah untuk melancarkan serangan balik cepat. Skema ini cukup efektif meredam agresivitas Barito, meski harus mengorbankan kreativitas di lini depan.
Babak pertama pun berakhir tanpa gol. Namun skor kacamata justru menjadi pertanda bahwa laga ini hanya menunggu satu momen krusial.
Gol, Kerja Sama, dan Akurasi
Momen yang ditunggu akhirnya datang pada menit ke-54. Gol Barito Putera lahir dari kombinasi sederhana namun presisi tinggi.
Frendy Saputra mengirim umpan matang dari sisi lapangan. Bola itu disambut dengan pergerakan cerdas di kotak penalti dan diselesaikan Rizky Pora lewat sepakan keras yang tak mampu dibendung kiper Persiku.
Gol tersebut bukan hasil kebetulan. Ia adalah puncak dari tekanan berlapis yang terus dibangun Barito sejak awal laga.
VAR, Kartu Merah, dan Ujian Mental
Namun kemenangan Barito tidak datang tanpa harga mahal. Pada menit ke-74, situasi berubah drastis. Rizky Pora—pencetak gol tunggal—harus meninggalkan lapangan lebih cepat setelah wasit meninjau VAR.
Tayangan ulang menunjukkan adanya sikutan dalam duel udara. Keputusan pun diambil: kartu merah langsung.
Dalam sekejap, Barito Putera kehilangan satu pemain kunci dan harus mengubah pendekatan. Dari tim dominan, mereka dipaksa menjadi tim bertahan.
Di sinilah karakter tim diuji.
Sepuluh Pemain, Satu Tujuan
Alih-alih panik, Barito Putera justru tampil lebih rapi setelah kartu merah. Lini belakang dipadatkan, jarak antarlini diperpendek, dan setiap duel dijalani dengan konsentrasi penuh.
Persiku mencoba memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Serangan demi serangan dilancarkan, terutama melalui sisi sayap. Namun penyelesaian akhir menjadi masalah utama.
Barito bertahan bukan dengan bertumpuk pemain, melainkan dengan disiplin posisi dan manajemen tempo. Setiap sapuan, setiap pelanggaran taktis, dan setiap detik yang diulur menjadi bagian dari strategi bertahan hidup.
Peluit Panjang dan Pesan Tegas
Saat wasit meniup peluit panjang, skor 1-0 tetap bertahan. Stadion 17 Mei bergemuruh. Bukan hanya karena kemenangan, tetapi karena cara kemenangan itu diraih.
Tambahan tiga poin membawa Barito Putera mengoleksi 34 poin dan semakin mengokohkan diri di puncak klasemen Pegadaian Championship. Sebaliknya, Persiku Kudus harus pulang dengan tangan hampa dan tetap tertahan di papan tengah.
Lebih dari Sekadar Skor
Laga ini memberi pesan kuat ke para pesaing: Barito Putera bukan hanya tim dengan kualitas teknis, tetapi juga mental juara.
Menang dengan sepuluh pemain, di bawah tekanan, dan tetap menjaga keunggulan menunjukkan bahwa Laskar Antasari telah naik kelas—bukan sekadar kandidat, tetapi penantang serius.
Bagi Persiku, kekalahan ini menjadi alarm. Disiplin bertahan sudah ada, tetapi efektivitas menyerang masih menjadi pekerjaan rumah besar jika ingin bersaing lebih jauh.
Stadion 17 Mei, Faktor Pembeda
Satu catatan penting dari laga ini adalah kembalinya Stadion 17 Mei sebagai faktor pembeda. Bagi Barito Putera, kandang bukan hanya lokasi bertanding, melainkan sumber kepercayaan diri.
Jika performa kandang ini terus terjaga, jalan Barito menuju target musim ini akan semakin terbuka lebar.
Editor : Mahendra Aditya